Mengapa Sulit Mengubah Perilaku/Kebiasaan

Posted on Updated on

bad and good habits

(Picture source: DietPsyche)

Pada suatu pagi seorang pemabuk yang berjanji untuk menghentikan kebiasaannya minum minuman yang memabukan bertanya pada dirinya sendiri, mengapa semalam dirinya kembali tenggelam dalam perilaku atau kebiasaan yang dibencinya, yakni mabuk. Namun ketika malam hari tiba, tanpa sadar dirinya kembali menenggak minuman yang membuatnya lupa pada pertanyaannya di pagi hari.

Dialog internal yang sama juga terjadi pada mereka yang senang merokok dan berjuang menghentikan kebiasaan merokok. Betapa sulitnya seseorang mengubah perilaku yang telah menjadi kebiasaan dan bahkan ketergantungan. Mengapa sedemikian sulitnya kita untuk berubah dari satu kebiasaan kepada kebiasaan yang lain?

Artikel tentang drinking: a love story dapat menggambarkan bagaimana seseorang yang alkoholik tidak menyadari bahwa dirinya telah menjadi pecandu minuman. Pertama terjadi proses penyangkalan dan selanjutnya ketidaksadaran dan ketergantungan yang teramat sulit dihilangkan. Bila anda merasa tidak pernah menghadapi beratnya meninggalkan kebiasaan-kebiasaan, mari kita ambil contoh-contoh yang lebih ringan. Kebiasaan bangun siang, kebiasaan minum kopi atau teh, kebiasaan mendominasi pembicaraan, kebiasaan untuk diam dalam diskusi, kebiasaan menunda pekerjaan, kebiasaan mengutamakan pekerjaan, kebiasaan jalan lambat atau jalan cepat, kebiasaan gugup dalam presentasi, dan lain sebagainya. Ada yang dianggap baik dan ada pula yang sangat menyebalkan dalam kehidupan kita. Semua itu terbentuk dalam proses yang sadar dan tak sadar yang terjadi secara terus-menerus sejak kita kecil hingga dewasa.

Pengalaman demi pengalaman dalam kehidupan manusia hampir selalu penuh dengan sistem kompensasi internal yang menyeimbangkan setiap emosi yang terjadi dalam hidup kita. Misalnya ketika seseorang ingin fokus berkonsentrasi dalam bekerja atau belajar, apabila terjadi akumulasi kebiasaan minum kopi maka akan muncul sugesti awal bahwa dengan minum kopi dirinya semakin fokus dan apabila hasilnya sukses sugesti tersebut menjadi keyakinan. Selain memang ada unsur kimia kopi yang mempengaruhi saraf manusia, sikap mental menyikapi kopi menjadi faktor penentu dalam memutuskan seseorang untuk minum kopi setiap akan ingin fokus berkonsentrasi. Apabila argumentasi minum kopi dapat meningkatkan konsentrasi, tentunya hal ini dapat digeneralisir kepada setiap orang, faktanya tidak semua orang memerlukan kopi untuk berkonsentrasi.

Zat-zat kimia yang masuk dalam tubuh manusia tentu memiliki pengaruh yang besar dalam mendorong seseorang berperilaku tertentu. Zat kimia yang dapat menghilangkan kesadaran seseorang seperti narkoba tentunya sudah sangat jelas bahayanya, dimana sekuat apapun mental seseorang apabila mengkonsumsi narkoba akan cenderung rusak sistem sarafnya tergantung pada dampak dari jenis narkobanya, apakah sebagai penenang, peningkat semangat, atau pembawa halusinasi.

Pengguna narkoba dan peminum alkohol yang sudah masuk dalam kategori pecandu tidak ada jalan lain selain rehabilitasi dan perlu mendapatkan pertolongan orang lain.

Namun bagaimana dengan kebiasaan-kebiasaan yang tidak seberbahaya narkoba dan alkohol?

Apapun kebiasaan dan mekanisme mental anda dalam menyikapi persoalan hidup, semuanya merupakan jalan mengurangi tekanan yang terjadi ketika anda menghadapi masalah, tugas, beban, dan berbagai hal yang membutuhkan dorongan ekstra. Kebiasaan tersebut ada yang baik seperti berdo’a ada yang buruk seperti melarikan diri dari kenyataan dengan mabuk-mabukan atau mengkonsumsi narkoba. Ada yang juga sifatnya di tengah-tengah seperti untuk dapat tetap tegar menghadapi persoalan dilakukan sambil merokok. Walaupun kebiasaan merokok tetap merusak kesehatan, namun pada titik ekstrim kebutuhan mental seseorang, kegiatan merokok merupakan “solusi” sementara yang seyogyanya tidak menjadi sandaran karena pada akhirnya akan membuat seseorang menderita penyakit akibat merokok.

Mekanisme mental tersebutlah yang harus kita sadari bahwa apa yang kita anggap sebagai “solusi” sebenarnya hanya pelepasan sementara untuk mengembalikan stabilitas mental kita. Perhatikan bagaimana mekanisme tersebut bekerja, misalnya ketika kita senang dan ketika kita sedih apa yang kita sering lakukan? Kemudian ketika kita marah, tersinggung atau kecewa, apa yang biasanya kita lakukan? Apakah kita melampiaskan kemarahan tersebut langsung seketika meledak-ledak, ataukah kita simpan dan kemudian dilampiaskan dengan cara lain yang kemudian menjadi kebiasaan kita. Semakin kita teliti dengan mekanisme sebab akibat yang terjadi dalam diri kita, semakin kita memahami bahwa apa-apa yang kita anggap sebagai jalan keluar ternyataa hanya pelampiasaan sementara. Namun hakikatnya hal itu juga mengembalikan keseimbangan diri kita. Namun demikian, dengan memahami diri kita sendiri tersebut bukan berarti kemudian membiarkan kebiasaan-kebiasaan buruk menyelimuti diri kita dan kita mengaggap benar diri sendiri, melainkan kita juga harus berani menyadari bahwa sebagian dari kebiasaan pelampiasaan yang mengembalikan keseimbangan tersebut caranya keliru atau juga berkontribusi dalam merusak diri kita baik dalam jangka pendek maupun panjang.

Seperti cerita ketergantungan pada minuman beralkohol di atas, perlu kita sadari bahwa mekanisme jalan keluar mencari keseimbangan diri tersebut apabila terjadi berbulan-bulan, bertahun-tahun kita ulangi terus maka akan mengendap dalam sistem saraf kita dan kita akan sampai pada suatu keadaan menganggap kebiasaan tersebut adalah bagian intergral diri kita. Padahal kebiasaan tersebut sebenarnya melalui proses pengendapan yang panjang dan kebiasaan tersebut bukanlah sejatinya diri kita.

Ahli sosiologi Perancis Pierre Bourdieu (1930–2002) mengemukakan sebuah istilah tentang kebiasaan dengan kata Habitus yang dapat diartikan sebagai nilai-nilai sosial yang dihayati individu, mengendap dalam kesadarannya dan menjadi petunjuk/pengarah perilaku individu tersebut. Habitus melampaui dimensi praktis dan berada dalam dimensi common sense namun bukan kesadaran tinggi (consciousness).

Upaya kita memahami diri kita sendiri, adalah bagaikan membedah habitus yang telah mengendap. Namun habitus disini tentunya berbeda dengan kasus ketergantungan terhadap narkoba yang dapat terjadi dalam waktu singkat dan kesadaran seseorang menjadi sedemikian lemahnya untuk dapat dikatakan telah mengendapkan habitus sebagai pecandu narkoba. Dalam kasus narkoba yang terjadi adalah pengrusakan kimiawi tubuh yang menyebabkan akal dan hati sudah melemah dan tidak lagi mampu mengontrol kebutuhan tubuh fisik terhadap konsumsi narkoba. Sangat berbahaya! Pada level yang berat, hanya dengan pertolongan rehabilitasi yang merupakan kombinasi pendekatan medis, psikologis, dan dukungan lingkungan yang mungkin dapat menyelamatkan seseorang dari jurang ketergantungan narkoba.

Karena kebiasaan mengendap dalam sistem saraf kita, maka kita tidak dapat lari dari berbagai kebiasaan hidup kita sehari-hari. Bersyukurlah bila anda sudah memiliki kebiasaan yang baik sejak kecil, dan berusahalah untuk mengganti kebiasaan-kebiasaan buruk kita dengan kebiasaan yang baik.

Bagaimana cara mengubah kebiasaan buruk?

Cara mengubah kebiasaan buruk mungkin lebih mudah dalam teori daripada praktek. Namun setidaknya hal ini diawali dari rasa tidak enak yang selalu berteriak lemah dalam diri kita sendiri senantiasa menegur tanpa kenal lelah. Maksud dari merasa tidak enak misalnya kebiasaan berbohong selalu diikuti oleh perasaan bersalah. Dari rasa tidak enak tersebut, kita dapat membangun motivasi diri untuk meninggalkan kebiasaan buruk. Jangan pernah berharap untuk dapat meninggalkan kebiasaan buruk dalam waktu semalam, hal ini dapat berlangsung lama bahkan hingga akhir hayat, jatuh bangun. Jangan mengenal lelah, karena bila motivasi semakin kuat, setidaknya frekuensi kebiasaan buruk semakin mengecil dari hari ke hari dan ketika kita berhasil meninggalkannya kita sudah tidak menyadari bahwa kita telah berhasil.

Dalam proses meninggalkan kebiasaan buruk dan menggantinya dengan kebiasaan baik, akan selalu terjadi konflik bathin dan perasaan tersiksa, bahkan fisik pun dapat merasakan sakitnya. Jangan mengenal lelah dan tetap bertekad untuk terus berjuang meninggalkan kebiasaan buruk baik dengan sugesti diri sendiri, berdo’a, dan memulai membiasakan kebiasaan yang baik. Lakukan terus-menerus sesuai kemampuan, sampai kebiasaan baik mengendap dan tercatat baik dalam sistem saraf kita sehingga respon-respon kita terhadap persoalan hidup atau tekanan adalah kepada kebiasaan-kebiasaan baik.

Selamat mencoba

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s