Hadha Sayamuru: Ini akan berlalu

Posted on Updated on

keep-calm-it-will-all-be-over-soon-11
Source: KeepCalm

هذا سيمر atau hadha sayamuru atau dalam bahasa Indonesia berarti ini akan berlalu  sering dijadikan rujukan oleh mereka yang sedang menghadapi masalah, dimana kata-kata tersebut memberikan harapan bahwa masalah pada akhirnya akan berlalu juga. Namun oleh orang bijak kata-kata tersebut bukan hanya bermanfaat di saat susah melainkan juga sebagai pengingat di saat bahagia, dimana kebahagiaan juga akan berlalu. Dalam filsafat Jawa, Ki Ageng Suryo Mentaram terkenal dengan kata-kata mutiara bahwa hidup itu “sebentar senang sebentar susah,” dan bahwa sikap mental manusia secara umum dalam menghadapi hidup itu bersifat mungkret-mulur. 

Penjelasan singkat dari sifat mungkret-mulur tersebut terjadi dengan keinginan/kehendak manusia, ketika satu keinginan terpenuhi maka akan mulur ingin lagi keinginan kedua, ketiga, keempat dst sampai kemudian tidak dapat tercapai dan merasa susah sehingga mungkret. Sebaliknya ketika satu keinginan tidak mungkin tercapai maka akan mungkret menjadi 1/2 keinginan, 1/3 keinginan, 1/4 keinginan sampai terwujud dan menjadi senang kembali. Sangat sederhana dan mudah dipahami, namun sangat jarang diperhatikan karena perhatian manusia pada umumnya lebih kepada wujud keinginannya dan bukan pada proses  menginginkannya.

Hadha sayamuru memberikan keyakinan kepada seseorang tentang ketidakabadian dunia, hal ini sangat baik apabila kita memahami sepenuhnya dan tidak menjadikannya mantera untuk menghibur hati atau menipu diri sendiri demi ambisi yang lain. Misalnya ketika kasih tak sampai, seyogyanya hal itu disadari sebagai peristiwa yang pasti berlalu seperti lagu Badai Pasti Berlalu dan hati serta pikiran tidak perlu terikat kepada badai prahara rasa di hati. Namun apakah mungkin, seseorang dapat melupakan gejolak di hatinya? Sepanjang keterikatan hati dan pikiran kepada dunia begitu kuat maka jawabanya adalah teramat sulit. Tetapi ketika hati, pikiran, bahkan jiwa tidak terikat lagi pada kenikmatan dunia, maka kata-kata hadha sayamuru menjadi lebih pas, bahwa ini akan berlalu dan bahkan kita juga akan berlalu.

Setelah memahami arti dari hadha sayamuru, ada baiknya untuk memahaminya lebih dalam. Perlu kita ingat bahwa Tidak benar bahwa segala sesuatu akan berlalu hanya karena kita meyakininya telah berlalu. Perhatikan perbuatan-perbuatan kita sehari-hari dan yang sudah berlalu, kita berurusan dengan orang lain dalam kehidupan sosial. Kita berjanji, kita memberi dan kita memperoleh, kita memberikan hutang, dan kita berhutang, kita berbohong dan kita dibohongi, kita menyakiti dan kita disakiti, kita mencuri/korupsi dan kita kecurian, dalam titik yang ekstrim seperti dalam perang bahkan manusia saling membunuh. Apakah itu semua akan berlalu hanya dengan keyakinan pada kata hadha sayamuru? Sungguh berhati-hatilah dari tergelincirnya perasaan dan hati kita kepada keyakinan yang dapat menyesatkan atau menjerumuskan kepada keyakinan semu tentang ini akan berlalu.

Apabila kita berhutang atau berjanji, maka bayarlah hutang dan penuhilah janji dan barulah masalah itu dapat dikatakan berlalu. Apabila kita menyakiti orang lain maka memintalah ma’af barulah dapat dikatakan berlalu. Bagaimana bila kita yang disakiti? Sebelum orang yang menyakiti meminta ma’af apabila kita langsung mema’afkannya bagi bagi kita hal itu sudah berlalu dan menjadi persoalan orang yang menyakiti.

Semua perbuatan manusia tercatat dalam kitab yang tertulis bagaikan “cloud” dalam sistem storage yang belakangan ini ngetrend. Hal itu juga dapat dimisalkan dengan perilaku online kita di dunia mayantara, dimana semua yang kita lakukan: browsing, download, upload, email, media sosial, dan lain lain langsung tercatat secara otomatis oleh sistem robot yang dikelola oleh search engine yang kita gunakan dan juga oleh provider internet. Apakah dapat kita katakan bahwa sejarah kehidupan kita berlalu?

Secara utuh tidak ada yang pernah berlalu, yang terjadi adalah rangkaian sejarah peristiwa baik itu menyenangkan maupun menyusahkan di kehidupan kita terkait dengan diri kita sendiri maupun dengan orang lain. Artinya ketika kita menyatakan atau memberikan afirmasi dalam keyakinan kita bahwa ini akan berlalu, maka secara logika apa yang kita yakini akan berlalu boleh jadi juga akan terjadi lagi di kemudian hari. Akhirnya kita berputar-putar menghibur diri dalam setiap kesusahan dengan kata-kata ini akan berlalu.

Perbaikilah sikap mental kita jika senang bersandar kepada prinsip ini akan berlalu, karena rangkaian peristiwa hidup manusia adalah catatan sejarah yang harus dipertanggungjawabkan. Lembaran demi lembaran peristiwa dalam hidup kita menutupi yang satu dengan yang lainnya, peristiwa kesedihan akan tertutupi oleh kebahagiaan dan sebaliknya peristiwa kebahagiaanpun akan tertutupi oleh kesedihan yang mana hal itu terjadi berdasarkan ruang dan waktu tertentu. Semuanya adalah bagian dari hidup kita seutuhnya.

Akhir kata, refleksi ini hanya berbagi suatu cara pandang yang semoga bermanfaat.

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s