Mencintai Dunia

Posted on Updated on

Adakah yang salah dengan sikap mencintai dunia? Dengan segala rasa yang bersemayam di dalam hati kita baik yang digerakkan oleh ego, semangat/motivasi, cita-cita/harapan, kesenangan/kepuasan/kenikmatan, eksistensi sosial, tentunya kita akan menyuruh akal kita untuk berargumentasi bahwa mencintai dunia adalah hal yang wajar. Bagaimana tidak, sejak kita lahir kita terikat oleh fisik badan kita yang memperoleh pengalaman yang enak dan tidak enak karena kaitannya dengan dunia. Contoh sederhana adalah makan dan minum yang menjadi kebutuhan untuk kelangsungan hidup kemudian menjelma menjadi kesenangan mulut dan perut kita yang menggemari makanan yang enak dan bukan makanan yang tidak enak. Rasa manis, asin, asam, dan lain-lain menjadi sensasi tersendiri bagi lidah kita dan rasa kenyang di perut kita membuat nyaman tubuh kita. 

i-heart-the-world
Source: I love the world

Pengalaman-pengalaman yang dialami oleh tubuh fisik dan mental pikiran kita tersimpan baik dalam memori baik yang tersebar di seluruh saraf tubuh maupun di otak dan hati kita. Dengan demikian, wajar saja jika manusia mencintai dunia. Ketika kemudian manusia menciptakan alat tukar uang dan mulai mengukur kekayaan dari kepemilikan properti, kendaraan, dan simbol kekayaan lainnya, maka kecintaan kepada harta menjadi fenomena umum karena harta dapat memfasilitasi pemuasan hasrat kehidupan dari yang dasar seperti makan dan minum, sampai kepada beragam hal-hal kecil yang dapat memuaskan seseorang karena terdorong oleh daya tarik dunia yang luar biasa.

Ketika kita jatuh cinta dengan seseorang, hal itu tidak terkait dengan kepuasan yang didambakan perut kita melainkan kepada kebutuhan yang lain yakni pemenuhan rasa ketertarikan yang lahir di hati yang diiringi oleh pengaruh hormon fisik kita yang mendorong keinginan untuk pemenuhan hasrat regenerasi manusia dengan hubungan pria-wanita. Ketika manusia berhasil membangun keluarga dan beranak-pinak, maka secara naluri lahir lagi kecintaan pada anak dan keturunan, bahkan menjadi faktor pendorong untuk berbangga diri karena eksistensi sosial yang menonjol.

Mereka yang sangat mencintai dunia cenderung meyakini seluruh persepsi inderawinya dan sensasi yang dirasakannya adalah benar dan baik. Kecintaan tersebut tidak tampak dalam pernyataan “aku cinta padamu wahai dunia,” melainkan kepada keseharian kita baik dalam hal fokus perhatian, waktu yang kita gunakan, dan ingatan kita. Bila sejak bangun pagi yang anda pikirkan adalah uang, maka uang menjadi perhatian utama anda. Kemudian bila sepanjang hari anda hanya melakukan kegiatan yang terkait dengan mencari uang maka, kecintaan anda kepada uang semakin jelas. Selanjutnya bila menjelang tidur anda juga masih gelisah karena masalah uang, maka uang telah memenuhi data memori anda. Demikian contoh suatu kecintaan kita kepada dunia. Hal yang sama juga berlaku dalam hubungan percintaan romantisme pria-wanita.

Sekali lagi mari kita bertanya adakah yang salah dengan sikap mencintai dunia? Bahkan dalam pemeo Barat sering diungkapkan untuk menjalani hidup sepenuhnya sesuai keinginan anda atau jangan dibiarkan dengan hal-hal kosong yang kurang berarti, ya “Live life to its fullest” bagaikan mantra yang memotivasi kita untuk mengisi kehidupan dunia kita sebaik-baiknya. Definisi menjalani hidup sepenuhnya tentu akan berbeda antara yang satu dengan yang lainnya, dimana masing-masing individu adalah unik. Namun secara umum tentunya dapat diterima bila hidup yang dipandang penuh tersebut mencakup pemenuhan kesempatan mewujudkan kebahagiaan manusia selagi masih hidup di dunia. Sekilas tidak ada yang salah bukan? Kemudian mengapa sebagian besar ajaran agama mengajarkan jangan mencintai dunia yang penuh dengan tipu daya? Apakah agama yang tidak mengakomodasi kesenangan hidup di dunia, ataukah ada yang salah dengan pengalaman rasa dan pikiran kita ketika berinteraksi dengan dunia?

Bila kita merujuk kepada hukum dan ajaran agama, tentunya harus dibimbing oleh pemahaman agama dan keimanan yang menunjukkan dimana letak kesalahan mencintai dunia itu. Tetapi dalam tulisan ini, mari kita lihat dari sisi kemanusiaan kita sendiri sebagai makhluk yang berperasaan dan berpikir.

Sering kita mengungkapkan kecintaan pada makanan tertentu dalam bentuk spontanitas menginginkan untuk mencicipi makanan tersebut. Misalnya gudeg yang manis asal Yogyakarta memiliki segudang referensi dalam benak kita baik sensasi rasa manis gudeg bercampur pedas krecek-nya ataupun masa lalu kita ketika pertama kali menikmati gudeg. Hal itu semua menjadi kesimpulan tentang enaknya menikmati gudeg. Belum ditambah lagi dengan kenangan menikmati gudeg bersama keluarga, kekasih hati atau sahabat. Kata yang lebih ringan dari cinta adalah suka, ya kita menyukai kesenangan duniawi. Sampai pada titik keinginan spontan, masih dapat dikatakan wajar karena itu tergerak secara otomatis dalam alam bawah sadar kita. Namun apabila kita makan gudeg pagi, siang, sore dan setiap hari, apakah hal itu wajar? Untungnya sensasi lidah, penciuman, dan perut kita memiliki kehendak-kehendak lain dimana eksploitasi terhadap rasa tertentu dalam jangka waktu yang melewati toleransi individual akan melahirkan rasa lain yakni bosan, bahkan pada titik ekstrim menjadi muak atau tidak ingin sama sekali terhadap makanan yang sama. Dari modalitas yang dimiliki kita semua melalui panca indera sudah ada mekanisme untuk tidak berlebihan dalam menyukai makanan. Hal ini belum diwarnai oleh pemahaman logika, tentang bahaya terlalu banyaknya asupan makanan manis atau bergula bagi kesehatan tubuh kita.

Contoh-contoh yang bersifat mendasar seperti makanan dan minuman akan mudah dibantah dalam menyifatkan kecintaan kita pada dunia. Tetapi apabila ditotal seluruh perikehidupan yang mencerminkan kecintaan kepada dunia, maka kebanyakan kita akan mudah terperangkap dalam keindahan dan kenikmatan dunia yang tidak akan henti-hentinya menyajikan kepuasan bagi fisik badaniah maupun mental pikiran kita. Hal itulah yang boleh jadi membahayakan jernihnya cara berpikir dan berperasaan kita dalam menjalani kehidupan. Renungkan dan bayangkan kesenangan-kesenangan kita terhadap dunia, mulai dari sensasi badaniah, kepuasan rasa, hingga kebanggaan intelektual. Itu semua kita kejar dengan kerja keras dan apabila hal itu menjadi satu-satunya alasan kita hidup, bagaimana dengan kematian yang tiba-tiba menjemput? Akan sangat menyakitkan baik bagi yang mati maupun yang ditinggal mati, dan kebanyakan kita akan menangisi ketidakberdayaan dalam kesedihan. Bagaimana pula bila ukuran kebahagiaan dari kesenangan dunia tersebut tidak pernah kita peroleh, melainkan hanya dapat kita saksikan dalam ketimpangan hidup manusia antara yang kaya dan miskin, antara yang kenyang dan kelaparan, antara yang sehat dan sakit, dst. Dimana posisi kita berada akan menentukan sikap kita bukan? Ada yang berjuang bangkit dari kemiskinan dengan bekerja keras dan ada yang mencuri, ada yang mati-matian mempertahankan kekayaan dengan diversifikasi investasi dan ada yang korupsi, dan lain-lain.

Jebakan untuk terjerumus ke dalam perbuatan yang menyusahkan hati dan pikiran kita terbuka luas manakala kecintaan kita kepada dunia membuat kita mabuk dan lupa. Namun kita hidup di dunia dan harus berinteraksi dengan dunia dengan segala potensinya, sehingga tidaklah arif apabila kita mati-matian menghindari dunia karena hal ini juga tidak mungkin. Sudah menjadi kecenderungan manusia untuk mudah tertipu dengan daya tarik dunia dan menganggapnya sebagai segalanya dan semua itu baru berakhir dengan kematiannya. Bahwa kita menyukai hal-hal yang bersifat duniawi adalah bagian dari kemanusiaan, namun seyogyanya hal itu tidak menghentikan langkah kita dalam memahami diri kita sebagai manusia seutuhnya sebelum kematian menjemput.  Ini merupakan kunci kebahagiaan yang hakiki dimana kita tidak berduka cita terhadap apa yang tidak dapat kita peroleh di dunia, dan kita tidak berlebihan dalam bergembira terhadap apa yang kita peroleh di dunia.

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s