Memandang Baik Perbuatan Maksiat

Posted on Updated on

Stop Maksiat ! 

Masyarakat Indonesia cenderung melihat makna maksiat ke dalam definisi yang lebih sempit yakni perbuatan yang terkait dengan kejahatan/penyimpangan seksual/zina, minuman keras, dan berbagai hal yang terkait dengan dunia hiburan malam. Padahal menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), maksiat adalah perbuatan yg melanggar perintah Allah; perbuatan dosa (tercela, buruk, dsb). Dengan demikian seluruh perbuatan yang melanggar perintah dan larangan Allah SWT masuk dalam kategori maksiat. Sementara dalam istilah Bahasa Arab, kata yang memiliki arti maksiat adalah Sayyi’ah, khathi’ah, dzanbun, dan itsmun. Maksiat bisa disebut sayyi’ah, bisa disebut khathi’ah, bisa disebut itsmun, bisa juga disebut dzanbun. Semua sinonimnya, memiliki makna yang berdekatan. Yang wajib dilakukan adalah mewaspadainya. Maksiat seperti ghibah, bisa disebut dzanbun, bisa disebut maksiat, bisa juga disebut khathi’ah. (lengkapnya lihat sumber: Muslimah.or.id). Adapun jenis maksiat diambil dari makna perbuatan melanggar larangan Allah dan meninggalkan perintah Allah, maka hanya ada dua jenis yaitu dalam hubungan manusia dengan Allah, dan manusia dengan sesama mahluk. Singkatnya maksiat = perbuatan dosa (perbuatan yang salah/keliru).

Memandang baik perbuatan maksiat berada di dalam pikiran dan rasa manusia dimana suatu perbuatan yang masuk dalam kategori maksiat namun dipikir dan dirasa baik oleh pelakunya. Mengapa hal tersebut dapat terjadi?

Tanpa bermaksud mencari alasan untuk menyalahkan pihak di luar pribadi diri manusia, Iblis sebagai salah satu mahluk ciptaan Allah telah bersumpah untuk membuat manusia memandang baik perbuatan maksiat. Sebagaimana disebutkan dalam QS. Al-Hijr [15] : 39:

قَالَ رَبِّ بِمَآ أَغْوَيْتَنِى لَأُزَيِّنَنَّ لَهُمْ فِى ٱلْأَرْضِ وَلَأُغْوِيَنَّهُمْ أَجْمَعِينَ

Tarjamah Kementrian Agama:

Iblis berkata: “Ya Tuhanku, oleh sebab Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat, pasti aku akan menjadikan mereka memandang baik (perbuatan maksiat) di muka bumi, dan pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya,

Bagaimana mekanisme dan cara kerja penyesatan cara pandang kita manusia terhadap kemaksiatan tersebut berproses sangat penting untuk kita pahami bersama guna menghindari tergelincirnya kita ke dalam penjara pikiran dan rasa kita sendiri yang telah tersesat.

Bagi anda yang sudah terlanjur masuk ke dalam penjara pikiran dan rasa bahwa perbuatan maksiat itu menyenangkan/membahagiakan/memuaskan dan baik bagi diri anda, maka sangat sulit untuk memahami bahwa anda berada di dalam suatu keadaan yang memandang baik perbuatan maksiat. Hal ini terkait dengan kompensasi rasa senang atau rasa benar (pembenaran) yang anda temui dalam perbuatan maksiat. Misalnya saja, ketika anda meninggalkan shalat (perintah Allah) demi pekerjaan mencari nafkah, maka pikiran dan rasa anda akan membela keputusan meninggalkan/mengabaikan shalat tanpa uzur/halangan yang kuat. Pembelaan tersebut adalah juga untuk menekan gejolak bawah sadar anda yang senantiasa mengingatkan bahwa hubungan anda dengan Allah SWT sudah waktunya dilaksanakan dalam bentuk shalat, sementara kebutuhan anda akan dunia juga memanggil karena anda butuh uang. Ketika terjadi benturan yang bersifat dialogis dalam diri anda dan anda memilih untuk melanggar perintah Allah, maka anda telah memandang maksiat sebagai hal yang baik, yakni karena anda harus bekerja mencari uang untuk menafkahi keluarga anda. Apabila masih ada rasa sesal atau rasa tidak enak walaupun sedikit, hati anda masih bekerja baik dan biasanya anda akan menyusul dengan permohonan ampun (beristighfar) atau ingat kembali betapa melanggar perintah Allah itu sesungguhnya tidak baik. Contoh ini masih berada dalam kategori kelalaian karena pilihan-pilihan yang masih berada dalam wilayah yang umum terjadi pada diri kita semua, dimana mencari nafkah juga suatu perbuatan yang baik. Kuncinya adalah bahwa perbuatan baik mencari nafkah jangan sampai melalaikan hubungan kita dengan Allah SWT.

Lalu bagaimana dengan pelanggaran terhadap larangan Allah SWT? Hal ini berada dalam level lebih jauh dalam suatu keterjerumusan pikiran dan hati kita dalam memandang maksiat sebagai hal yang baik. Contoh paling mudah bagi manusia dewasa adalah keterjerumusan di dalam memandang perbuatan meminum minuman beralkohol atau memadat narkoba sebagai perbuatan yang baik. Bagi anda yang belum pernah minum miras (minuman keras) atau menggunakan narkoba, maka anda juga tidak akan mengerti bagaimana para pemabuk dan pemadat begitu mencintai perbuatannya. Sebaliknya bagi para pemabuk dan pemadat anda telah berada dalam penjara pikiran dan rasa anda bahwa meminum miras atau mengkonsumsi narkoba adalah menyenangkan bagi anda. Zat yang membuat badan fisik kita menyenanginya pada umumnya bersifat merusak, bahkan zat seperti gula dan garam sekalipun bila kita terlalu menyenanginya akan mencelakakan kesehatan kita. Tubuh manusia pada dasarnya terikat pada hukum alam respon-respon biologis dan mental, yang kemudian mengkristal dalam pengalaman yang disimpan sebagai memori. Artinya siapapun akan cenderung mengalami hal yang relatif sama ketika mulai mengkonsumsi miras atau narkoba. Bersyukurlah bila anda telah mampu menghindarinya dan hidup secara sehat jauh dari alkohol dan narkoba. Berupayalah untuk segera menghentikan bila anda telah terlanjur sedikit mencicipi alkohol dan narkoba. Minta tolonglah pada Dokter dan ahli bila anda saat ini berada dalam penjara alkohol dan narkoba.

Meskipun dalam setiap hati kecil kita berteriak bahwa perbuatan maksiat berupa konsumsi alkohol dan narkoba adalah sangat buruk, berdosa, dan menghancurkan hidup kita, mengapa saudara-saudara kita banyak yang terpenjara dalam pikiran dan rasa mereka tentang alkohol dan narkoba yang tampak baik? Baik disini maknanya sangat luas, yakni mencakup perasaan nyaman, esksistensi, gaya hidup, kepuasan, kenikmatan, ekspresi, bagian dari budaya, sense of belonging (kelompok), pengalihan dari beban hidup (meringankan beban), penyembuhan dari rasa sakit/tidak enak, dan lain sebagainya. Semua itu alasan yang diolah oleh akal kita dengan bantuan inspirasi dari godaan Iblis untuk membuat kita memandang perbuatan maksiat baik untuk kehidupan kita.

Perbuatan-perbuatan maksiat lainnya baik dalam hubungan kita dengan Allah, hubungan kita sesama manusia, dan dalam kesendirian kita memiliki jutaan alasan-alasan untuk memandang kebaikan maksiat sebagaimana dijanjikan oleh Iblis. Ego manusia yang diperkuat oleh akal pikiran kemudian merasuk ke dalam rasa jiwa dapat melahirkan manusia yang memandang baik perbuatan maksiat. Sebagian kita beralasan khilaf ketika berzina, sebagian beralasan untuk menghilangkan depresi ketika mengkonsumsi narkoba, sebagian beralasan hanya untuk pergaulan sosial ketika meminum miras, sebagian beralasan karena miskin ketika mencuri, sebagian beralasan dendam ketika membunuh, sebagian beralasan supaya cepat kaya ketika korupsi, sebagian beralasan sibuk ketika melalaikan shalat, sebagian beralasan belum terpanggil ketika menghindari Haji, sebagian beralasan untuk keluarga ketika menjauhi amal jariyah, dst…dst. Kita manusia sangat ahli dalam menyusun alasan untuk melanggar larangan dan perintah Allah dan keahlian membuat alasan tersebut diperkuat oleh inspirasi dari Iblis untuk memandang baik perbuatan maksiat.

Semoga Allah SWT senantiasa melindungi kita dari perbuatan maksiat baik yang bersumber dari nafsu kita sendiri maupun yang dirangsang oleh lingkungan di sekeliling kita. Amin

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s