Mengapa Peduli

Posted on Updated on

Belakangan ini muncul pertanyaan di benak mengapa seseorang peduli dengan orang lain. Hal itu dapat dijelaskan dari berbagai sisi, mulai dari kedekatan hubungan orang tua dan anak-anaknya, persaudaraan, persahabatan, percintaan, kemanusiaan, dan lain sebagainya. Hal itu sangat manusiawi dan sudah menjadi kodrat manusia untuk memiliki rasa peduli. Walaupun besar kecilnya rasa peduli itu sangat tergantung pada subyek dan obyek dan situasi yang melingkupinya, namun rasa peduli itu tetap ada di dalam hati kecil setiap manusia.

social_care
Kepedulian Sosial (picture source: Healthcaretimes)

Kadangkala kita tertegun dengan besarnya kekuatan yang muncul dari rasa peduli kita terhadap orang lain, perhatikan betapa tegarnya para aktifis kemanusiaan yang berupaya menolong membantu para korban bencana alam atau korban perang. Mengapa mereka dapat bertahan di situasi yang penuh resiko dan terbatas, jawabnya karena panggilan kepedulian atas nasib sesama manusia. Perhatikan pula bagaimana pengorbanan ibu kita mempertaruhkan nyawanya untuk anaknya dan membesarkannya, itu juga suatu kepedulian dan cinta yang luar biasa.

Bahkan dalam hubungan percintaan, perhatikan bagaimana puisi-puisi “gombal” mencerminkan tekad pengorbanan seorang kekasih demi kekasih yang disayanginya. Walaupun puisi itu cenderung “gombal,” namun kita sering mendapati kisah-kisah dramatis dan tragis dalam percintaan umat manusia.

Semua itu lahir dari peduli atau care yang dasarnya tidak lain tidak bukan adalah kasih sayang manusia yang merupakan refleksi dari kasih sayang Tuhan. Sehingga apabila ada manusia yang kehilangan kepeduliannya, maka ia mulai menyingkir dari bayang-bayang sifat Tuhan Yang Maha Kasih dan Maha Sayang, dan bahkan cenderung menjauh karena kepeduliannya hanya kepada AKU-nya sendiri.

Persoalan yang lebih kompleks adalah manakala kita menunjukkan ketidakpedulian adalah justru karena peduli. Aneh bukan? Ada kalanya kita perlu memperlihatkan seolah-olah kita tidak lagi peduli dengan seseorang agar orang tersebut dapat melanjutkan perjalanan hidupnya secara lebih baik. Misalnya orang tua kepada anaknya, kepedulian yang berlebihan dengan memanjakan anak akan menjerumuskan anak menjadi lemah. Sehingga tidak ada cara lain selain memperlihatkan bahwa kedewasaan harus dibangun dengan sikap yang lebih tegas yakni mengurangi kepedulian yang berlebihan tersebut.

Hal serupa juga terjadi dalam hubungan percintaan atau persahabatan. Adakalanya hubungan yang teramat erat melahirkan ketergantungan yang terlalu besar yang menyebabkan seseorang mudah terluka atau tersinggung dengan sesedikit apapun dalam perubahan sikap. Justru karena begitu besarnya rasa peduli, seseorang kadang dapat melihat jauh ke depan dan menemukan yang terbaik untuk sahabatnya atau orang yang dikasihinya. Walaupun bagi sahabatnya tersebut sikap acuh akan menyakitkan, namun hal itu akan melahirkan sesuatu yang baru dalam diri sahabatnya. Hal ini mungkin akan dibantah oleh mereka yang mengagung-agungkan persahabatan sejati. Namun adakah suatu persahabatan sejati apabila masih ada ruang untuk menyimpan rahasia? Padahal bila rahasia diungkapkan persahabatan dapat rusak. Rahasia disini mencakup apa yang sesungguhnya dirasakan oleh seorang sahabat terhadap sahabatnya yang mana tidak ada manusia yang benar-benar identik saling mengerti. Apa yang terjadi adalah penerimaan secara utuh tentang diri dan kondisi sahabatnya yang terjadi secara timbal balik sehingga terasa suatu kecocokan.

Menempuh langkah ketidakpedulian karena rasa peduli yang besar lebih menyakitkan bagi yang menjalaninya karena sahabatnya mungkin tidak mengerti. Namun adakalanya kita perlu menempuh langkah tersebut dan pada akhirnya manusia akan mati sendirian bukan?

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s