Inspirasi

Posted on Updated on

inspiration-sign
Inspirasi (source: tnooz)

Kita mungkin sering mendengar kata “inspirasi” yang mendorong seseorang untuk melakukan sesuatu yang baik maupun buruk. Inspirasi juga dapat mendorong seseorang untuk menciptakan sesuatu atau mengeluarkan gagasan yang cemerlang. Sebaliknya inspirasi juga dapat menjerumuskan seseorang untuk melakukan hal yang bodoh dan merusak kehidupannya sendiri. Inspirasi merupakan suatu kekuatan yang mempengaruhi atau “menginspirasi” seseorang baik dalam wujud manusia (orang lain), tempat, pengalaman, sensasi panca indra,  ide-ide, filsafat hidup, ajaran agama, contoh perilaku, keberhasilan, dan lain sebagainya.

 

Inspirasi akan mengembangkan kemampuan seni, intelektual, dan berbagai ekspresi kreatifitas manusia. Tulisan berikut ini juga bersumber dari kekuatan inspirasi yang mendorong saya untuk menuliskannya, walaupun yang menjadi inspirasi barangkali tidak pernah tahu atau membaca tulisan ini.

Submerged in the depth of God most beautiful area — Menyelam di kedalaman wilayah Tuhan yang paling indah

Ketika seorang sahabat menceritakan ketika dirinya mengunjungi Timur Indonesia dan menyelam di lautan yang sangat jernih dengan berbagai keindahan warna-warni kehidupan di dasar laut, terungkap bahwa dimanapun manusia menemui keindahan ciptaan Yang Maha Indah, hatinya akan tergerak dan merindukan saat berada di wilayah keindahan tersebut. Meskipun pengalaman merasakan keindahan tersebut terjadi di waktu yang lalu, akan tetap bertahan dalam kenangan yang mudah ke permukaan di waktu yang lain. Seiring dengan kesibukan, maka memori tentang keindahan yang kita alami akan perlahan mengendap, namun bersyukurlah karena pernah mengalami pengalaman yang menyatukan rasa di hati dan jiwa bahkan intelektualpun akan menyetujuinya.

Bila keindahan di dasar lautan demikian dalamnya merasuk ke dalam jiwa kita, maka mengapa kita tetap meninggalkannya? Hal itulah yang pertama-tama muncul dalam benak saya, mencoba menghayati bahwa pada akhirnya manusia akan merindukan habitatnya dan tidak akan mampu bertahan di wilayah keindahan Tuhan di dasar lautan yang jernih. Hal itu mengingatkan saya pada suatu kisah pencarian mata air kehidupan yang diceritakan oleh filsuf asal Iran bagian Barat Laut yakni Syihabuddin al Suhraward yang lebih dikenal sebagai Syaikh al-Isyraq (Guru Pencerah).

Syaikh al-Isyraq berkisah dalam bentuk dialog dengan seorang sahabat, sebagai berikut:
Apa yang harus aku lakukan agar rasa sakit itu terasa ringan bagiku ? Seorang sahabat bertanya.

Temukanlah mata air kehidupan, jawabnya.
Dan kucurkanlah dari mata air itu ke seluruh kepalamu, sehingga baju
baja itu dapat lolos dari tubuhmu dan kamu dapat terhindar dari tebasan
pedang, sebab air itu dapat membuat baju bajamu lepas. Jika sudah
lepas, maka tebasan pedang akan terasa ringan.

Di manakah Mata air kehidupan ? tanya sahabat.
Dalam kegelapan, jawabnya. Jika kamu mencarinya, talikanlah sepatumu
sebagaimana Khidr, dan ambillah jalan kepercayaan agar kamu dapat sampai ke Kegelapan.

Kearah manakah jalannya ?
Kearah mana pun kamu pergi, jawabnya. Kalau kamu pergi, kamu akan sampai.

Apakah tandanya kegelapan tu ?
Kehitaman, katanya. Dan kamu sendiri berada dalam kegelapan, tetapi kamu
tidak mengetahuinya. Orang yang pergi ketika menyadari dirinya berada
dalam kegelapan, mengetahui bahwa dia berada dalam kegelapan sebelum itu,
dan bahwa dia tidak pernah melihat cahaya.

Maka langkah pertama bagi mereka yang hendak pergi adalah ini, dan dari
sini dia dapat melangkah maju. Nah, jika orang itu telah mencapai tahap
ini, dia akan melanjutkannya dari situ.

Seorang pencari mata air kehidupan harus banyak berkelana dulu didalam
kegelapan, Jika dia pantas mendapatkan mata air itu , pada akhirnya ia
akan melihat cahaya setelah kegelapan. Maka dia tidak perlu mengikuti
cahaya itu sebab asalnya dari surga, dan ia berada diatas mata air
kehidupan. Jika dia berpergian dan mandi didalam mata air itu, maka
dia akan selamat dari tebasan pedang Belarak.

Barangsiapa mandi di mata air itu, tidak akan ternoda.
Barangsiapa menemukan makna realitas akan dapat mencapai mata air.
Barangsiapa keluar dari mata air itu akan memperoleh kemampuan
seperti minyak balsem, yang jika meletakkan setetes minyak itu di
telapak tanganmu lalu kamu hadapkan tanganmu ke matahari
dan maka minyak itu akan muncul dipunggung tanganmu.

Bahkan pengalaman mistik atau pengalaman bathin jiwa dalam mencari mata air kehidupan dari Sang Guru Pencerah membahas tentang meringankan atau melepaskan rasa sakit melalui pintu perpisahan antara jiwa dan badannya yang terbuat dari baju besi. Pengalaman-pengalaman memasuki ruang keindahan Tuhan yang terjadi dalam jangka waktu tertentu yang biasanya sangat singkat terjadi bagaikan kilat yang menyambar. Kemudian digambarkan pula bahwa apabila kita mandi di mata air kehidupan yang dalam konsep Judea-Kristen dikenal sebagai Vita Aqua maka akan lahir kemampuan seperti minyak balsem yang hangatnya mampu menembus telapak tangan manakala dihadapkan ke matahari. Hal itu merupakan simbol telah ditembusnya batas dua alam yakni fisik yang dipahami oleh indra manusia dan realitas bathin yang hanya dapat dipahami oleh jiwa. Sehingga ketika dihadapkan ke wajah Yang Maha Kuasa, maka akan tembus dua alam menjadi realita bagi mereka yang pernah berkelana didalam kegelapan dan mengikuti cahaya yang ditemukannya.

Kembali kepada kisah menyelami dasar lautan keindahan Tuhan, simbol lautan yang begitu luas dan manusia begitu kecil dan lemah juga ada dalam kisah Bima bertemu Dewa Ruci dalam rangka mencari tirtamerta atau air penghidupan. Kisah Serat Dewa Ruci konon ditulis pada era peralihan Hindu-Siwa-Buddha ke era Islam di tanah Jawa merujuk pada Ajisaka dan Mpu Ciwamurti yang kemudian diterjemahkan oleh Sunan Bonang dan disadur kembali oleh pujangga Yosodipuro. Kisah Dewa Ruci jelas memiliki kemiripan dengan kisah-kisah di belahan dunia lain yang intinya adalah pencarian jati diri seseorang dalam kerangka mencari kebenaran hakiki dan kesempurnaan dirinya untuk nantinya memasuki wilayah keTuhanan yang bernama triloka dan hidup kekal selamanya. Meski sebelumnya Bima mencari air kehidupan di hutan dan gunung, kemudian tokoh sentral Arya Werkudara alias Bima yang mencari tirtamerta/tirta kamandanu di tengah samudera. Diceritakan bahwa dengan suka cita Bima termenung cukup lama memandang laut dan keindahan isi laut, kesedihanpun terkikis habis, mata dan hati menerawang tanpa batas, kemudian Bima memusatkan perhatian secara mental psikologi dan keahlian mengarungi lautan atau menyelam dengan ilmu jalasengara, melupakan segala marabahaya, dengan semangat yang menyala-nyala menceburkan dirinya ke laut, tampak keharuan dan kegembiraannya yang tak terlukiskan. Perjalanan Bima tidak berhenti dalam kekaguman terhadap keindahan lautan, melainkan merasuk ke dalam kegelisahan jiwanya dimana gerangan air kehidupan yang dicarinya. Setelah berkelahi dengan naga, Bima bertemu dengan Dewa dalam wujud seperti anak kecil yang sedang bermain-main di laut.

Singkat cerita Dewa Ruci menasehati Bima:

“Jangan pergi bila belum jelas maksudnya, jangan makan bila belum tahu rasa yang dimakan, janganlah berpakaian bila belum tahu nama pakaianmu. Kau bisa tahu dari bertanya, dan dengan meniru juga, jadi dengan dilaksanakan, demikian dalam hidup, ada orang bodoh dari gunung akan membeli emas, oleh tukang emas diberi kertas kuning dikira emas mulia. Demikian pula orang berguru, bila belum paham, akan tempat yang harus disembah”.
Wrekudara masuk tubuh Dewa Ruci menerima ajaran tentang Kenyataan. “Segeralah kemari Wrekudara, masuklah ke dalam tubuhku”, kata Dewa Ruci. Sambil tertawa sena bertanya :”Tuan ini bertubuh kecil, saya bertubuh besar, dari mana jalanku masuk, kelingking pun tidak mungkin masuk”. Dewa Ruci tersenyum dan berkata lirih: “besar mana dirimu dengan dunia ini, semua isi dunia, hutan dengan gunung, samudera dengan semua isinya, tak sarat masuk ke dalam tubuhku”. Atas petunjuk Dewa Ruci, Sena masuk ke dalam tubuhnya melalui telinga kiri.

Dan tampaklah laut luas tanpa tepi, langit luas, tak tahu mana utara dan selatan, tidak tahu timur dan barat, bawah dan atas, depan dan belakang. Kemudian, terang, tampaklah Dewa Ruci, memancarkan sinar, dan diketahui lah arah, lalu matahari, nyaman rasa hati.

Kisah menyelami keindahan lautan wilayah Indonesia Timur, baik di Raja Ampat yang menjadi salah satu tempat paling indah di dunia, ataupun di tempat-tempat lain yang juga tidak kalah indahnya seperti Wakatobi, Bunaken, Pulau Alor, Pulau Komodo, Nusa Penida, Tulamben, atau di wilayah Barat Indonesia seperti di Pulau Bintan, Derawan, atau Karimun Jawa barangkali bukanlah refleksi dari pencarian keindahan realitas kehidupan sebagaimana kisah dari  Syaikh al-Isyraq atau Bima bertemu Dewa Ruci. Namun apabila diluangkan sedikit kesadaran jiwa untuk meresapi keindahan alam semesta dalam pujian kepada Yang Maha Kuasa dan esksistensi kita sebagai manusia, maka kisah-kisah pencarian mata air kehidupan akan terasa dekat dengan keseharian kita. Bahwa sepanjang kita bertekad untuk menjalani dan berjalan dalam jalan kegelapan dunia demi mencari cahaya surga, tidak mustahil bagi kita sebagai manusia biasa untuk mengalami pengalaman yang tidak terduga.

Apa yang kebanyakan terjadi dalam diri manusia adalah mengabaikan kegelisahan hatinya, kerinduan jiwanya akan cahaya keindahan Tuhan karena dominasi akal rasio dan hasrat untuk kebahagiaan pakaian besi kita atau kehendak badaniah kita yang mendambakan kebahagiaan sesaat.

Perbandingan dengan kisah perjalanan Bima dan kisah yang diceritakan oleh Syaikh al-Isyraq dapat menjelaskan menjelaskan makna dari submerged in the depth of God most beautiful area. Namun ketika saya menatap cermin dan mencoba menyelami tanpa peralatan selam dan bersikap seperti Bima untuk tidak mempedulikan jiwa, tampak bayangan lain yang berbeda dengan kisah pertemuan Bima dengan Dewa Ruci. Keindahan bagi manusia tidak selalu melekat pada aspek percikan cahaya Yang Maha Pencipta, ternyata manusia mendambakan adanya pengertian-pengertian yang sangat dalam tentang kegelisahan jiwa yang hanya terobati oleh pemahaman dari jiwa yang lain. Hal itu seperti saling melengkapi antara dahaga dan air kehidupan, sehingga banyak manusia yang merasa tidak dapat menahan dahaga atau berputus-asa manakala tidak menemukan air kehidupan. Menyadari bahwa kerinduan yang tampak jelas di dasar lautan nan-indah tidak akan mewujud dalam kehidupan nyata yang dipahami panca indra adalah berdasarkan penjelasan rasional karena jalan yang ada atau tersedia mendorong kepada arah yang berbeda. Hal itu tidak berarti pengalaman merasakan keindahan di wilayah keTuhanan tersebut tidak nyata atau diwarnai kebohongan. Faktanya terjadi suatu hubungan antara jiwa yang melampaui dunia fisik badaniah yang biasanya mendahului hubungan antara manusia, namun kenyataan sejarah yang telah tertulis dan yang akan ditulis memaksa untuk mengabaikannya betapapun kerinduan akan keindahan itu dapat tersimpan rapi walau perlahan menorehkan luka ketika harus kembali ke permukaan laut meninggalkan semua kisah di dasar lautan.

Sesampainya di permukaan laut, sejenak akan bernafas lega menghirup kembali udara segar dan kemudian berenang ke tepian pantai. Sesampainya di pantai, tiba-tiba kaki akan terasa berat karena perbedaan gravitasi saat di dalam air dan saat keluar dari laut, dengan tubuh letih akan menjatuhkan diri di pasir putih dan kembali menatap lautan dengan riak gelombang kecil seperti percikan intan permata memantulkan cahaya matahari pagi. Berbeda dengan Bima yang memperoleh pencerahan dan menyatu dengan Dewa Ruci, maka manusia biasa yang mengalami keindahan akan semakin gelisah menderita karena keinginan untuk kembali ke lautan mengalami kebahagiaan di wilayah keTuhanan. Termasuk apabila keindahan tersebut terkait dengan jiwa manusia lain yang memahaminya.

Apakah demikian kisah sahabat hati yang ingin menceritakan seutuhnya melalui kisah pengalamannya menyelam dengan segala kekuatan mental psikologi dan skill menyelam yang baik? Ataukah hanya suatu sindiran atas ketidakmampuan saya untuk lebih berani mengarungi keindahan lautan dengan persiapan yang lebih matang? Entahlah, hampir mustahil bahwa diri kita akan dapat dibaca orang lain tanpa adanya ketulusan untuk bercerita jujur tentang apa yang terjadi didalam hati. Apakah mata air kehidupan sebagaimana dikisahkan dalam berbagai naskah kuno itu dapat menjadi jawaban bagi perjalanan umat manusia yang saling bersinggungan dan berhubungan baik dalam kisah yang membahagiakan maupun yang menyedihkan hati kita?

Akhir kata, semua tulisan ini dapat mengalir lancar karena inspirasi yang lahir dari seseorang yang spesial dan mampu menyelami perasaan orang lain. Inspirasi yang mendorong demikian kuatnya untuk mengekspresikan dalam tulisan pendek yang diwarnai saduran dari kisah-kisah lain yang memiliki kemiripan. Inspirasi yang memberanikan diri membahas suatu tema yang rumit karena konon di masa lalu harus melalui jalan kebathinan atau sufisme agar tidak sesat dan menyesatkan, terlebih karena menggunakan sejumlah istilah yang sakral yang menyentuh wacana tentang wilayah keTuhanan yang mana pengetahuan penulisa jauh dari sempurna. Semoga tema inspirasi dan contoh terwujudnya suatu tulisan dari inspirasi diatas dapat menjadi bukti bagi pembaca bahwa berbahagialah dan bersyukurlah bila anda dapat menemukan inspirasi dalam hidup anda walaupun hanya sekejap saja.

Sekian

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s