Menoleh ke belakang

Posted on Updated on

Look back
picture source: bhmpics

Menyaksikan kembali perjalanan yang telah lewat, tidak akan mengubah apa yang telah terjadi, melainkan hanya mengangkat endapan kenangan baik dan buruk yang tersimpan rapi di hati kita. Seringkali kita bertanya mengapa kita harus mengalami sesuatu dan lupa mensyukuri betapa beruntungnya kita dapat melalui suatu pengalaman hidup. Sebagian manusia mengalami perjalanan yang sangat tragis tak cukup terlukiskan dengan airmata. Sebagian manusia mengalami kebahagiaan duniawi yang lengkap tak terbayangkan betapa keberuntungan selalu menyertainya. Sebagian manusia mengalami peristiwa luar biasa yang tercatat dalam sejarah. Sebagian manusia bahkan hanya dikenal keluarga inti dan meninggal muda. Begitu banyak variasi hidup manusia yang bila dituliskan adalah sebanyak jumlah manusia yang pernah hadir di bumi ini. Kisah-kisah perjalanan manusia dapat menjadi inspirasi atau peringatan bagi yang lain dan kebanyakan orang “terkenal” menuliskan otobiografi atau ditulis orang lain lain dalam bentuk memoar atau biografi. Ada yang jujur berbagi cerita, ada yang ingin menuliskan sejarah manis, dan ada yang sekedar ingin dikenang. Semua itu adalah suatu refleksi manakala kita menoleh ke belakang.

Memperhatikan jejak langkah yang telah kita tinggalkan menjadi penting bukan hanya untuk dituliskan sebagai kisah yang menarik dibaca orang lain, melainkan sebagai referensi dalam memperbaiki langkah-langkah kita hari ini dan hari esok.

Misalnya saja kita mengalami suatu peristiwa tidak terduga yang tidak pernah dikehendaki, kita sering mempertanyakannya atau merasakannya sebagai suatu “musibah.” Padahal hal itu bisa jadi suatu proses untuk dapat kita selami dan pelajari dalam rangka meningkatkan kualitas diri kita. Baik merasakan suatu kemanisan maupun kepahitan hidup pada prinsipnya adalah sama, yakni rasa hati dan gejolak jiwa yang menolak atau menerima fakta kenyataan hidup.

Menoleh ke belakang adalah suatu introspeksi yang akan melatih kita senantiasa siap untuk menerima atau Nrimo atas apapun yang terjadi dalam hidup kita, karena baik dan buruk datangnya hanya dari Yang Maha Kuasa. Sikap menerima tersebut adalah khas dalam bathin setiap individu dengan kadar yang berbeda-beda. Meski ada yang berupaya menjelaskan, sesungguhnya sikap menerima tersebut tidak dapat diperbandingkan karena sebagian besar manusia akan merahasiakannya umumnya dengan kepura-puraan atau penggunaan topeng kehidupan.

Menoleh ke belakang hanya memerlukan waktu sejenak namun sangat bermanfaat manakala kita mengalami kebuntuan di kekinian yang sebenarnya disebabkan dari kerumitan di masa lalu.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s