Tekanan Bathin

Posted on

Tulisan saya yang berjudul Tekanan Bathin dan Stress mendapatkan komentar yang cenderung mengiyakan atau merefleksikan beberapa perasaan yang sedang dirasakan pembaca Blog ini.  Mengapa kita merasa tertekan, mengapa terjadi tekanan bathin? Dengan awal pertanyaan tersebut sesungguhnya kita telah memulai proses penyembuhan dari rasa tertekan tersebut. Walaupun hal ini tidak akan bersifat instan menghilangkan rasa tekanan bathin tersebut, namun setidaknya tekanan itu telah berkurang dan seiring dengan waktu akan semakin mengecil dan akhirnya hanya menjadi bagian dari pengalaman hidup.Untuk memhamai tekanan bathin tersebut, marilah kita melihat sejenak ke dalam diri kita sendiri dan bertanya, mengapa bathin kita menjadi tertekan. Tekanan bathin akan selalu muncul silih berganti dalam kehidupan kita, namun besar kecilnya tergantung pada masalah yang dihadapi dan respon yang kita berikan. Misalnya tekanan bathin yang muncul dari harapan atau dambaan kita akan sesuatu seperti cinta, harta benda, kekuasaan, kepandaian, titel, jabatan, pengetahuan agama, ilmu kebathinan, bahkan dalam mendambakan nilai-nilai keTuhanan. Harapan yang terlalu berlebihan akan menciptakan jebakan dalam hati kita untuk memaksakan diri dan ketika harapan itu belum atau tidak kunjung terwujud maka lahir perasaan gagal, sedih, tidak berguna, marah, benci, dll yang kemudian berkumpul menekan rasa dan hati kita sendiri yang menyesakan dada kita. Pada titik yang ekstrim dapat mendorong keinginan baru untuk mengakhiri segala tekanan tersebut melalui berbagai cara yang negatif. Cara mengatasinya adalah dengan memahami sungguh-sungguh apa yang kita dambaan atau harapkan tersebut, apakah realitistis dan mampu kita jangkau sekarang ? ataukah memerlukan waktu dan kesabaran? Apakah harapan itu mungkin diwujudkan tanpa usaha yang lebih keras lagi? dan ketika harapan itu belum atau tidak tercapai, apakah tidak ada pilihan atau jalan lain yang menyelamatkan hati kita? Dan satu hal yang harus selalu kita ingat, yakni harapan selalu bersifat potensial untuk terwujud hanya bila kita sungguh-sungguh dan bersabar. Artinya ruang untuk merasa tertekan semakin kurang dengan semangat dan kesabaran. Setelah semangat dan kesabaran kita teruji, maka ada satu lagi yang harus dipahami yakni kita tidak selalu dapat mewujudkan seluruh harapan kita, maka banyak bersyukurlah pada saat ada harapan kita yang  terwujud.

Tekanan bathin juga dapat muncul dari realita hubungan sosial dimana kita berada pada posisi yang selalu dirugikan, misalnya sebagai wong cilik yang tertindas. Hal ini juga mendorong lahirnya tekanan bathin yang hebat dimana rasa sakit di hati bercampur dengan kebencian akan tindak sewenang-wenang dari kelompok elit dalam masyarakat. Tidaklah mengherankan apabila, kita menyaksikan aksi spontan kekerasan dari masyarakat kita pada saat berdemonstrasi, karena hal itu juga merupakan cermin dari tekanan bathin yang telah menumpuk dari kehidupan sehari-hari. Dalam kasus ini diperlukan kesadaran dari berbagai pihak untuk mengurai akar tekanan yang terjadi di masyarakat. Misalnya kelompok elit seyogyanya dapat bersimpati kepada kelompok masyarakat jelata dengan sungguh-sungguh memberikan perhatian dan bantuan untuk kemandirian sosial-ekonomi. Sebaliknya kelompok jelata juga perlu memberikan respect karena kelompok elit telah menunjukan kesungguhan dalam berkontribusi sebesar-besar kemakmuran bersama. Hal ini mudah diucapkan, tetapi siapa yang mau melaksanakannya? Tentu kembali kepada individu masing-masing. Fakta yang terjadi di negeri tercinta Indonesia adalah sikap eksploitatif dari kelompok elit dengan berbagai teknik korupsi, sikap sombong dan pamer kekayaan, dan tidak menghargai wong cilik. Sebaliknya apatisme sosial-ekonomi wong cilik juga melahirkan keputusasaaan dalam bentuk kemalasan, pendek dalam berpikir dengan kegiatan kriminal, korupsi hati dengan mudah dibeli dengan uang, dll. Menjadi tugas kita bersama dan khususnya Pemerintah dan kalangan civil society untuk terus membangun semangat karakter bangsa Indonesia yang saling tolong-menolong, menembus batas sekat strata sosial-ekonomi.

Adakalanya tekanan bathin lahir dari kondisi fisik kita yang kurang sempurna, karena adanya penyakit atau karena hal-hal lain yang sudah melekat menjadi bagian dari diri kita namun kita anggap sebagai beban. Hal ini membutuhkan keluasan hati kita dalam menerima segala keadaaan diri kita sendiri. Namun masyarakat, pemerintah dan berbagai pihak juga perlu mendorong terciptanya kemudahan bagi saudara-saudara kita yang mengalami keadaan demikian, sehingga akan lahir apa yang  kita kenal sebagai kesetiakawanan antar sesama manusia. Hal ini akan melahirkan generasi bangsa Indonesia yang berhati luhur dan saling memperhatikan atau saling menolong satu dengan lainnya. Meski tampak seperti idealisme kosong, namun siapa yang akan memulainya kalau bukan diri kita sendiri.

Tekanan bathin juga dapat lahir dari ketidaktahuan kita bagaimana menyelesaikan suatu masalah, atau bisa juga karena sikap keras kepala diri kita sendiri, atau karena kuping kita yang terlalu tipis dalam mendengarkan kritikan, atau karena respon-respon hati yang cenderung negatif dalam melihat berbagai aspek kehidupan. Hal ini tentunya memerlukan kewaspadaan kita masing-masing dalam memperhatikan hati kita sendiri.

Tulisan ini tentunya jauh dari lengkap atau sempurna, namun singkat kata dengan memahami latar belakang tekanan bathin yang kita hadapi, sesungguhnya kita sudah tahu bagaimana mengatasinya atau bagaimana menyikapinya tanpa terus-menerus menyakiti diri kita sendiri.

Wassalam

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s