Kenikmatan membaca kita suci

Posted on

Seorang Muslim yang ta’at dengan ajaran Islam kemungkinan besar akan bercerita dan berbagi pengalaman tentang nikmat membaca Al Quran terlebih dengan pemahaman akan maknanya. Seorang Nasrani yang meyakini ajaran Kristus akan tampak berbahagia dalam menceritakan  nikmat dalam penghayatan kitab Injil. Seorang penganut ajaran Buddha yang teguh imannya juga akan menceritakan nikmat pengalaman bathin yang kaya dalam membaca kitab sucinya, demikian juga dengan pengikut ajaran Hindu, Konghucu dan berbagai ajaran yang berkembang di dunia.

Pada titik yang lain, para penikmat bacaan cerita novel juga sedikit banyak akan mampu menceritakan bagaimana pikiran dan perasaannya melayang dalam sebuah cerita yang dinikmatinya.

Tentunya kitab suci bukanlah novel karangan dan hal itu sangat jauh berbeda. Namun ekspresi kepahaman dan pemahaman dalam membaca informasi atau cerita dalam teks apapun akan mampu menciptakan suatu bentuk pemikiran di kepala kita dan rasa di hati kita. Itulah nikmat membaca. Maka tidaklah mengherankan apabila umat manusia sangat dianjurkan untuk membaca, yakni membaca dengan sungguh-sungguh sehingga mencapai keadaan memahami apa yang dibacanya dan dapat merasakan makna bacaannya.

Kenikmatan membaca kitab suci tidak dapat disamakan dengan membaca novel atau majalah atau berita buatan manusia, namun juga tidak dapat terlalu dibuat ekstrim menjadi sesuatu yang mustahil dipahami karena kerumitan makna yang menyelimutinya. Teks apapun akan bersifat ajeg/tetap apabila pembacanya tidak mampu membaca makna-makna yang tersirat, namun upaya memahami tanpa ilmu yang cukup juga akan menjebak pada interpretasi yang jauh dari naskah aslinya. Sehingga ilmu tarjamah ataupun tafsir dalam menjembatani pemahanan sangat penting. Di era modern, kita dapat segera memanfaatkan hasil karya tafsir para ilmuwan agama yang mentafsirkan kitab suci dalam berbagai versi yang telah melalui rujukan yang ketat sehingga tidak menyimpang dari aslinya.

Persoalan manusia modern adalah ketika ketika kenikmatan membaca kitab suci menjadi “hilang” dan akhirnya lebih dapat menikmati bacaan khayal manusia dalam bentuk cerita novel dari pada cerita yang dirangkum dalam kitab suci. Mengapa demikian? Hal ini lebih karena kesederhaan dan kedekatan pikiran kepada cerita-cerita yang relatif mudah dipahami dan tidak diwarnai sesuatu yang transenden atau misterius. Sementara hampri seluruh kitab suci memiliki aura tertentu yang membutuhkan upaya dan keinginan yang lebih kuat untuk memahaminya.

Lantas mengapakah kita menjadi sedemikian sulitnya untuk memahami kitab suci dan akhirnya lebih senang bersandar pada penjelasan-penjelasan lisan yang disampaikan kyai atau pendeta? Apakah hal itu semata-mata karena jauhnya rasa beragama ataukah karena kemalasan belaka? Ataukah karena ketidakterbukaan kitab suci pada interpretasi manusiawi yang seringkali saling bertolak belakang. Kemudian faktor otorisasi penterjemahan yang mewajibkan kita untuk secara hati-hati merujuk kepada intepretasi yang telah dilakukan sebelumnya yang sesuai dengan metode yang disepakati sebagai rujukan bersama.

Hidup manusia sangat singkat dan mungkin akan kurang waktunya hanya untuk membahas hal ihwal kenikmatan membaca kitab suci. Sekedar berbagi pengalaman, ketika kita secara rajin mengulang-ulang bacaan Al Quran hal itu lama-kelamaan seperti lagu jiwa yang pada awalnya asing untuk dipahami, namun seiring waktu dan usia, pemahaman individual seperti lahir dalam bentuk kerinduan. Terlebih apabila pembacaan tersebut tidak dipersempit menjadi mantra harian, melainkan diperluas dalam pemahaman tafsir ayat demi ayat. Mungkin hal ini hanya metode yang sangat lambat dalam transformasi jiwa bagi  manusia modern yang banyak disibukan urusan duniawi. Namun kadang dalam ketidakpastian langkah hidup kita, kerinduan yang singkat dalam bacaan ayat suci tersebut justru penyelamat yang tidak pernah kita duga.

One thought on “Kenikmatan membaca kita suci

    Abu Hamza said:
    April 26, 2012 pukul 3:57 am

    Terima kasih atas pencerahannya, antum lebih pantas menjadi uztaz penerang hati umat Islam Indonesia dari pada kebanyakan Ustaz kita yang mencari uang, popularitas, istri muda yang cantik, celebriti dan secara perlahan menjauh dari hakikat ajaran agama. Wassalam

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s