Arab Spring dan Dunia Barat

Posted on

Dalam satu tahun belakangan ini, dunia Barat khususnya Eropa dan Amerika sangat sering membahas dinamika di Timur Tengah dengan istilah Arab Spring (الثورات العربية‎ al-Thuraat al-ʻArabiyy).  Hal itu bukan saja karena sungguh-sungguh menarik dari sudut pandang demokrasi dan hubungan antara negara dan agama, melainkan juga karena dianggap sebagai turning point yang seolah-olah menjadi kemenangan ideologi liberal demokrasi yang mengikutsertakan partisipasi publik seluas-luasnya untuk pengelolaan politik suatu negara.

Dalam melihat dinamika Arab Spring tersebut, negara-negara Barat juga  melihat Indonesia sebagai salah satu model transisi damai menjadi negara demokrasi. Dalam kaitan itu, sudah sewajarnya bila Indonesia berupaya tidak terjebak dalam kampanye politik liberal demokrasi Barat yang diwarnai berbagai intervensi kekerasan dan mengambil jalannya sendiri secara langsung berbagi pengalaman ke dunia Arab.

Dari kacamata matahati kita, sesungguhnya tidak ada yang baru dalam fenomena Arab Spring, berbagai gejolak di dunia Arab baik terhadap sistem politik monarki, kesukuan ataupun aliran, pada intinya adalah refleksi ketidakpuasan masyarakat terhadap Pemerintah yang dianggap tidak lagi memperhatikan jerit tangis penderitaan rakyatnya sendiri. Berbagai kasus monopoli dan korupsi di dunia Arab sama sekali jauh dari nilai-nilai agama yang turun di dunia Arab, namun dalam praktek formalnya, landasan agama tersebut dijadikan kekuatan yang dahsyat untuk menekan rakyat.

Agama diturunkan pada dasarnya untuk memperbaiki ahlak kita semua secara individual, dari perubahan ahlak individual tersebut diharapkan akan menyinari transformasi sosial yang massal di mana masyarakat madani yang berahlak tercipta. Individu-individu yang berahlak kemudian menyusun organisasi Pemerintahan yang akan mengelola berbagai peri kehidupan yang bertujuan menciptakan harmoni yang nyaman bagi seluruh masyarakat. Itulah sebabnya kemudian disusun aturan-aturan bermasyarakat yang selain berperanan penting dalam memelihara ketertiban, juga sangat penting dalam menjadi acuan atau pegangan hidup ketika terjadi perbedaaan pendapat, perselisihan atau bahkan konflik yang keras.

Namun karena transformasi ahlak baik secara individual maupun massal jarang terjadi secara sempurna, maka di negara manapun kita hidup kita akan selalu meyaksikan terjadinya berbagai kejahatan dalam berbagai bentuk baik yang dangkal dan sederhana maupun yang berlapis-lapis dan canggih.

Bila kita coba selami fenomena Arab Spring, maka matahati kita akan melihat bahwa kebobrokan politik suatu negara bukan disebabkan oleh agama, melainkan lebih disebabkan oleh kebutaan yang dialami oleh para individu yang memperoleh kesempatan untuk berkuasa. Ketika kita berkuasa, seyogyanya hal itu dimaksimalkan untuk menolong rakyat kita untuk dapat hidup lebih baik dan berbahagia. Namun ketika transformasi ahlak belum sempurna, akan selalu muncul kecenderungan individu untuk membahagiakan dirinya sendiri dan bahkan melindungi kebahagiaan itu sekeras-kerasnya.  Hal ini sudah menjadi tabiat yang sulit dilepaskan dari kebanyakan umat manusia di dunia.

Bahkan apabila kita selami dunia Barat, juga terdapat banyak kebobrokan ahlak individual yang kemudian dikemas dalam argumentasi humanisme yang sangat meyakinkan akal kita. Penghargaan yang sangat tinggi terhadap individualisme telah mempersulit pemahaman yang lebih hakiki tentang kehidupan yang sesungguhnya, bahkan membingungkan. Terungkapnya berbagai kecurangan ekonomi yang dilakukan dunia Perbankan di Barat, berbagai sistem bonus milyaran yang tidak masuk akal kepada pengelola keuangan, dan gaya hidup yang memaksimalkan kenikmatan dunia sesungguhnya juga merupakan penyakit yang terbukti telah mendorong dunia Barat ke dalam krisis ekonomi.

Sungguh tidak ada yang hebat di dunia ini bila kita mawas diri dan berhati-hati dalam menjalani kehidupan. Apa yang dikatakan sebagai kebahagiaan bagi penikmat duniawi seyogyanya tidak membuat matahati kita silau dan ikut tergoda. Sebaliknya, sikap ekstrim dengan membunuhi para penikmat duniawi tersebut juga tidak akan membutakan matahati kita karena kejahatan tidak akan pernah dapat dibenarkan oleh alasan-alasan apapun.

Lalu dimana kita berdiri dan menghadap? manusia yang terbuka matahatinya tidak akan pernah khawatir atau takut dengan dinamika kehidupan di dunia. Apapun kondisinya, makmur…miskin…sehat….sakit…hatinya terikat kuat dengan cita-cita luhur kehidupan yang mulia. Tuhan maha kuasa dalam memberikan kebahagiaan, kesusahan, kekuasaan, kejatuhan, dll sehingga tidak ada sesuatupun di dunia yang dapat menjamin bahwa suatu keadaan di dunia itu abadi. Andaipun anda tidak percaya dengan Tuhan, maka perhatikan bahwa tidak ada yang abadi di dunia ini, kita akan menjadi tua dan akhirnya mati, maka mengapa hidup yang singkat tersebut tidak kita isi dengan transformasi ahlak kita sebaik-baiknya. Pada titik puncaknya kita akan benar-benar tidak khawatir dengan ketidakadilan dan berbagai perilaku manusia yang menyakitkan hati kita.

Kita tidak menghadap ke Timur ataupun ke Barat (melempar pandangan ke luar), melainkan senantiasa waspada melihat ke dalam diri kita sendiri, memahami jati diri dan memancarkan sinar keyakinan kita tentang tujuan hidup kita. Lalu apa tujuan hidup kita? Jawabanya akan selalu berbeda dari satu individu dengan individu lainnya, jawaban itu hanya dapat ditemukan apabila kita lebih sering memperhatikan gerak hati kita sendiri. Dalam pada itu, kita tetap membuka matahati kita terhadap dinamika di luar tubuh kita, namun hal itu hanya informasi yang memperkaya pemahaman kita tentang hidup.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s