Wayang

Posted on

Pernahkah kita sejenak berpikir kembali tentang apa-apa yang kita pikir telah kita pahami? Setiap benda yang kita sentuh, setiap hal yang kita rasa, dan berbagai hal yang kita lihat hanya wayang dari realita yang sesungguhnya. Kita berputar-putar dalam pikiran kita sendiri dan kemudian meyakininya bahwa kita telah memahaminya.

Plato pernah mencatatkan ilustrasi tentang manusia di dalam gua yang terikat dan hanya dapat melihat satu sisi yang merupakan bayang-bayang dari alam yang sesungguhnya. Andaikata ada diantara kita yang berhasil lolos dari ikatan tubuh kita (gua) dan keluar serta menyaksikan realita kehidupan, maka ketika kita kembali ke dalam gua, semua akan mentertawakan dan menganggap kita gila. Kira-kira demikian, Plato menilai umat manusia pada umumnya, terikat pada badan duniawi dan terjebak dalam menganggap bayang-bayang sebagai realita.

Pertanyaannya kemudian adalah apakah semua pengalaman hidup kita di dunia itu hanya bayang-bayang seperti dalam dunia pewayangan. Lalu bagaimana kita memahami dan meyakini seluruh pengalaman itu. Apakah kemudian makanan dan minuman yang kita makan dan minum itu hanya ilusi badan kita? Apakah pertumbuhan badan kita juga hanya ilusi? Bahkan berbagai hal yang kita yakini ternyata juga keyakinan-keyakinan palsu? Agak memusingkan bukan?

Tentunya akal kita akan menyanggah semua itu dengan bukti sederhana dimana keadaan kenyang adalah berbeda dengan keadaan lapar. Sakit dan tidak sakit yang dirasakan oleh badan kita dan berbagai fenomena lainnya yang sangat meyakinkan untuk menganggapnya sebagai realita. Lalu apa yang dimaksud oleh Plato tentang bayangan di dalam gua tersebut, dan dimana letak keterikatan kita yang telah membutakan matahati kita dari realita yang sesungguhnya?

Plato meyakini bahwa kebanyakan umat manusia adalah kurang memiliki pemahaman yang mendalam sehingga diperlukan the guardians yang menjadi pembimbing perjalanan umat manusia. Hal itu mungkin ada benarnya karena kebanyakan kita adalah tidak ingin terlalu jauh mendalami atau memahami sesuatu dan sudah cukup puas dengan pemahaman di luar kulitnya. Adakalanya pemahaman yang mendalam justru semakin membuat kita bingung. Tetapi apakah klaim pengetahuan para filsuf tersebut juga dapat dikatakan valid? Bagaimana jika ternyata ketika keluar gua kita menemukan sesuatu realita yang diluar kekuatan akal kita untuk memahaminya? Tentunya berbagai pertanyaan tidak akan pernah ada habisnya.

Kembali kepada dunia bayang-bayang atau wayang, kekayaan budaya nusantara mengenal berbagai simbolisme baik dalam bentuk wayang seperti di pulau jawa-bali atau dalam bentuk patung dan berbagai hikayat di seluruh suku-suku bangsa yang mendiami kepulauan nusantara. Permisalan atau simbolisme tersebut mengandung makna yang dalam dan telah menjadi bagian dari identitas keyakinan di nusantara dengan berbagai pro-kontranya.

Bayangan atau wayang dalam konsepsi plato lebih menyerupai pengetahuan hakikat yang dicapai oleh para filsuf dengan akal dan pencerahannya, dan pada level yang lebih sempurna adalah wahyu atau petunjuk yang diterima para nabi. Seluruhnya akan tampak asing dan sulit dimengerti oleh kita sebagai manusia biasa.

Namun kita manusia biasa juga dapat mencoba untuk memahami hakikat melalui bayang-bayang atau pewayangan yang kita lihat tersebut dengan mengambil pelajaran dan nilai-nilai. Hal itu sudah lebih dari cukup untuk menentramkan kebingungan yang ditimbulkan dari simbolisme dalam kitab suci dan realita yang telah dibukakan kepada utusan Tuhan. Bahwa para utusan Tuhan tersebut adalah juga manusia biasa, tentunya membuka kemungkinan bagi kita sebagai manusia biasa juga memiliki kemungkinan untuk dapat mencapai level pencerahan sesuai dengan usaha dan garis nasib kita. Betapapun sulitnya akal kita mencerna makna pada setiap bayangan yang kita lihat dan rasa di dunia ini, kita juga telah dibekali dengan matahati yang akan lebih teliti dalam meneliti makna dibalik bayang-bayang tersebut.

Meski tulisan ini tidak cukup untuk menjelaskan bayang-bayang yang selalu kita temui dalam perjalanan hidup kita, namun untuk mencegah keterjebakan dalam penjelasan yang panjang lebar yang semakin membingungkan, saya cukupkan sampai disini.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s