Puasa

Posted on Updated on

Puasa atau shaum hanya diwajibkan kepada orang-orang yang beriman sebagai diwajibkan atas umat-umat terdahulu (yang juga beriman), agar menjadi orang yang bertaqwa. Demikian kurang lebih perintah yang yang mewajibkan puasa bagi orang-orang yang beriman dalam Alquran surat Al Baqarah ayat 183. Telah banyak penjelasan-penjelasan mengenai hikmah, manfaat,  rukun, syarat sah, bahkan hingga tingkatan atau level orang yang berpuasa dibahas dalam ceramah para ustazd maupun dalam buku-buku agama. Bagi yang melaksanakan puasa tersebut ada yang telah puluhan kali (orang tua) dan ada yang baru pertama kali (anak-anak). Sejauh mana pengaruh puasa itu terhadap diri kita tentunya menjadi rahasia dari diri kita masing-masing. Ada yang mengalami perubahan dengan peningkatan taqwa, ada yang bersifat retreat religi, ada yang sekedar menjalani kewajiban, ada yang hanya merasakan lapar dan dahaga, ada sungguh-sungguh, serta ada juga yang main-main,  ada yang sama sekali tidak dapat menghayati puasa,  bahkan ada yang meninggalkan puasa dan tidak merasa wajib berpuasa. Mengapa begitu banyak respon yang berbeda dari diri kita?

Seperti juga respon kita terhadap berbagai perihal kehidupan, cara pandang individu terhadap puasa akan beragam sebanyak karakter manusia dan latar belakangnya. Hal ini tentunya menjadi sangat pribadi dan hampir tidak dapat kita pahami kecuali apa yang kita alami dan jalani masing-masing. Dalam hati kecil kita atau dalam sanubari yang terdalam akan selalu ada penilaian-penilaian terhadap apa yang kita lakukan dalam hidup ini, termasuk dalam berpuasa. Bahwa kita memutuskan untuk bersikap acuh tak acuh, atau bersikap hati-hati dan mawas diri dalam berpuasa juga kembali kepada hati kita.  Secara teori, biasanya kondisi lapar akan menurunkan sikap keduniaan kita karena dalam kondisi berpuasa secara fisik akan terjadi penurunan vitalitas yang akan pula berdampak pada semangat keduniawian, khususnya yang paling mendasar yakni makanan dan minuman. Ketiadaan suplai makanan dan minuman dalam waktu tertentu setidaknya menekan perhatian kita kepada hal-hal yang biasanya kita anggap lumrah dalam keseharian dunia aktifitas kita. Terlebih dengan berbagai keutamaan berpuasa yang kita niatkan sungguh-sungguh secara sadar mengalihkan arah perhatian dari urusan dunia kepada urusan yang lebih hakiki, yakni hati kita sendiri, karena puasa adalah rahasia antara individu dan Tuhannya.

Beberapa dari kita  berhasil memfokuskan perhatian kepada kondisi hatinya sendiri selama berpuasa dan mengurangi atau bahkan meninggalkan urusan keduniawian. Sebagian lagi mengalami kecendrungan untuk menaruh seluruh harapan kepada transformasi mutlak kemanusiaanya dengan perubahan total berupa lahirnya kembali jati dirinya yang bersih setelah menyelesaikan ibadah puasa. Kecenderungan tersebut diperkuat pula oleh adanya malam yang lebih baik dari 1000 bulan yang dinanti-nantikan oleh para pencari jalan Tuhan dengan harapan akan membawanya kepada kondisi yang mungkin sulit dibayangkan oleh akal kita.  Harapan demi harapan senantiasa kita panjatkan ketika kita menjalani bulan puasa demi sebuah pemahaman segar yang memperbaharui sikap, perilaku dan khususnya hati kita yang lebih bertaqwa.

Sebagian lagi dari kita berupaya untuk mengurangi perhatian kepada dunia dan mendorong diri kita sendiri untuk lebih memperhatikan kondisi hati kita selama berpuasa. Namun ibaratnya seorang pemabuk duniawi, masa yang sangat singkat selama bulan puasa akan seperti mimpi yang tidak akan pernah terwujud karena harapan kita untuk perubahan tidak sungguh-sungguh diniatkan dan kita hanya melalui malam-malam mimpi selama bulan puasa. Setelah bulan puasa berakhir, kita akan kembali bergelimang dengan kemabukan duniawi dan sama sekali tidak ada bekas baik dari lapar dan haus kita, maupun dari ibadah-ibadah khusus yang kita lakukan selama bulan puasa.

Bagaimana dengan yang mengabaikan puasa? tentu saja hal ini tidak perlu dibahas lebih jauh karena mereka yang mengabaikan puasa jelas tidak masuk dalam kategori orang yang beriman.

Tujuan utama dari berpuasa adalah mencapai derajat taqwa, yakni sebuah kondisi segenap pribadi diri kita (lahir-bathin, hati, fikiran dan fisik) yang tunduk patuh secara iklash kepada Allah SWT, baik yang digerakan oleh sifat takut, malu, cinta, dan berbagai sifat yang lahir dari ketekunan kita dalam beribadah. Taqwa yang merupakan buah dari ibadah termasuk puasa adalah sebuah keadaan hati yang seharusnya menjadi dambaan dari setiap orang yang mengaku beriman. Taqwa tersebut tidak dapat kita klaim atau ditempelkan sebagai gelar bagi kita setelah selesai beribadah, karena hanya Allah SWT yang mengilhamkan kefasikan dan ketaqwaan kepada jiwa kita (QS. Ash-Shams ayat 8).  Ketaqwaan tersebut juga merupakan sebuah jalan menuju, bersama dan didalam keselamatan dunia dan akhirat, sehingga beruntunglah apabila kita dapat meraih kondisi hati bersinar ketaqwaan itu. Karena dalam kondisi tersebut kita akan berhenti bertanya tentang apa dan mengapa kita hadir di dunia ini, semuanya menjadi jelas dan tirai penghalang ilmu pengetahuan sejati telah terangkat.

Semoga puasa kita tahun ini membawa kita kepada derajat taqwa, amin.

Wassalam

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s