Hamba yang hina ?

Posted on Updated on

Dalam sejumlah ekspresi do’a, penyembahan, dan pengabdian manusia kepada Yang Maha Pencipta, kita sering menemukan istilah hamba yang hina, hamba yang fakir, hamba yang rendah, hamba yang berlumuran dosa, hamba yang sangat-sangat kecil dalam berbagai manifestnya. Mengapa terjadi situasi yang sangat mengecilkan diri kita sendiri di hadapan yang Maha Agung?

Refleksi apapun yang muncul dari dalam diri kita ketika menghadapkan diri kepada Yang Maha Agung merupakan rasa diri yang menguasai kita, dan bukan hakikatnya jati diri kita. Rasa tersebut begitu menguasai segenap tindak dan tanduk kita sehingga terjadi penguasaan total salah satu rasa, dalam hal ini rasa rendah dan hina di hadapan Yang Maha Agung. Hal ini dapat menjelaskan mengapa umat Yahudi menangis di depan tembok ratapan, mengapa umat Islam menangis di hadapan Baitullah Makkah, mengapa umat Buddha menangis di hadapan Patung Buddha, mengapa umat Kristiani menangis di hadapan Patung Bunda Maria atau Yesus Kristus (Nabi Isa), dst yang menjadi refleksi kelemahan dan atau penyesalan para umat beragama tersebut di hadapan simbol-simbol yang dirasa oleh hati masing-masing sebagai keadaan yang seolah-olah di depan Yang Maha Agung.

Mengapa kita merasa hina? kehinaan muncul dari keadaan yang kotor baik secaca fisik maupun bathin dan salah satu pembersihannya adalah dengan air yakni airmata penyesalan dan keharuan yang luar biasa dan airmata hati yang tidak akan dapat ditahan oleh logika/rasionalitas. Manusia cenderung untuk mengotori dirinya dan hal itu terjadi baik disadari maupun tidak disadari. Sayangnya kita cenderung dalam keadaan tidak sadar dan kesadaran akan setiap perbuatan  jarang muncul dalam kehidupan sehari-hari. Kesadaran muncul pada saat-saat tertentu, misalnya dalam kesendirian dan dalam do’a, dalam perjalanan ibadah, dalam proses kontemplasi diri, serta dalam berbagai keadaan yang memungkinkan diri kita melakukan introspeksi terhadap perjalanan hidup yang telah kita lalui. Rasa sesal yang menyeruak dalam hati kita merupakan proses yang sangat wajar dimana pada titik kesadaran itu kita berbeda dengan keseharian kita yang lupa diri. Menyesali apa-apa yang sudah berlalu tidak akan bermanfaat apabila kita mengulangi lagi kekeliruan yang sama, dan kita cenderung senang mengulangi kesalahan yang sama. Penyesalan tidak seharusnya mengambil alih keseluruhan rasa kehidupan kita karena setelah penyesalan akan lahir rasa lega, hal itu hanya berganti-ganti rasa saja. Dalam rangka memperkuat pengaruh penyesalan, manusia memiliki gagasan yakni dengan prosesi permohonan ampunan yang diperpanjang, dengan mengkondisikan kehinaan diri kita dalam waktu yang lebih lama dari biasanya, dengan harapan untuk lega selama-lama dan bebas dari rasa sesal tersebut, lahir kembali menjadi insan yang bersih. Islam mengenalnya dengan istilah taubatan nasuha, sedangkan umat Katholik dengan prosesi confession, dll.

Sesungguhnya ketika kita merasa hina di hadapan Yang Maha Agung, mencerminkan keadaan yang jauh karena kita bahkan tidak mampu atau tidak bisa menatap keagunganNya. Kita hanya bisa menunduk malu dengan ratapan kesedihan menyesali keadaan yang hina tersebut dan memohon belas kasih dari Yang Maha Kasih dan Maha Penyayang. Ketika tercipta gagasan yang tulus, tentu keadaan yang hina tersebut juga akan segera digantikan dengan keadaan yang lebih baik, yakni rasa lega serta bebas dari beban penyesalan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s