Benarkah hidup terasa singkat

Posted on Updated on

Membaca buku karya Lucius Annaeus Seneca yang berjudul the shortness of life menyegarkan ingatan saya ketika menyusuri jalan mendaki gunung slamet dari desa bobotsari sekian tahun silam.

Dalam perjalanan itu, seiring dengan senda gurau dengan teman perjalanan dan tafakur alam berkali-kali muncul pertanyaan: apa sebenarnya yang sedang saya lakukan ? Membuang waktu percuma dengan mendaki gunung….ikut-ikutan teman yang senang mendaki gunung….ingin melihat puncak gunung dan menikmati keindahan alam….ataukah hanya sekedar melepas penat dari kesibukan sehari-hari dan mengisi liburan sekaligus memperkuat mental dan jati diri.

Hidup akan terasa sangat singkat bagi siapapun ketika waktunya telah tiba untuk kembali kepada Yang Maha Kuasa. Hidup juga akan terasa singkat bagi mereka yang banyak membuang waktu dan tidak menghasilkan apapun dalam perjalanan hidupnya. Hidup mereka yang sangat sibuk dengan urusan dunia juga akan terlihat begitu cepat berlalu. Bahkan hidup membutakan diri hanya untuk urusan akhirat juga akan tampak bagai kilatan belaka. Lalu mengapa dalam kondisi tertentu kita menyaksikan waktu berjalan sangat lambat? Pada saat menantikan sesuatu kita akan melihat waktu berlalu lama sekali, namun pada saat kita terdesak untuk penyelesaian sesuatu kita akan merasa diburu oleh waktu.

Seluruh rasa akan perjalanan waktu tersebut sebenarnya merupakan sikap bathin dan mental dalam menyikapi perjalanan hidup kita. Bagi anda yang senang menghabiskan waktu untuk mabuk-mabukan tentunya anda agak sulit melihat betapa waktu telah terbuang percuma, karena anda bahagia dengan kemabukan anda. Orang lain yang akan menyikapinya dengan pandangan prihatin dan kemudian memberikan penilaian. Kita semua sadar maupun tidak sadar memiliki kecenderungan untuk saling menilai satu dengan yang lain, sehingga seringkali lupa memperhatikan diri kita yang sesungguhnya. Bahkan besar kemungkinan terjadi kondisi dimana kita menghabiskan waktu untuk menilai orang lain dan tidak sadar telah mengabaikan hati nurani kita yang juga memerlukan perhatian dari kesadaran kita sehari-hari.

Apakah waktu menentukan rasa singkat dan lamanya hidup kita? Perhatikan bagaimana seseorang yang berbuat banyak dalam waktu singkat dan bandingkan dengan seseorang yang malas dan tidak berbuat apa-apa dalam waktu yang lama. Betapapun kita melakukan perbandingan lamanya waktu ukuran dunia ini ada semacam rata-rata waktu hidup kita (angka harapan hidup). Taruhlah kita memiliki jumlah waktu yang sama sekitar 60-70 tahun untuk hidup di dunia, yang satu mengisinya dengan berbagai kegiatan dan mencapai banyak keberhasilan sedangkan yang lain mengisinya dengan kemalasan dan tidak mencapai apa-apa. Apakah mereka akan sama dalam merasakan perjalanan hidupnya, yang sangat aktif akan merasakan waktu cepat berlalu cepat. Bagaimana dengan yang malas? Pada ujung kematiannya yang malas akan jauh lebih panik dan merasakan kesia-siaan hidup dan waktu bagaikan silet tajam yang memutus perjalanan hidupnya.

Lha…mengapa kedua-duanya tetap merasakan hidup yang singkat? Ketika saya bercerita tentang perjalanan mendaki gunung, sesungguhnya terjadi sebuah pengalaman hidup yang luar biasa yang membuka berbagai cara pandang dalam bathin dan mental sehingga terjadi langkah awal pengenalan diri sendiri yang sibuk dengan berbagai urusan dunia. Pada saat kesendirian itu, barulah muncul rasa tanpa waktu yang sulit dijelaskan. Dalam kesempatan lain, mendaki gunung saya ulangi lagi seorang diri tanpa teman. Walau tampak terlalu mencari-cari dan agak mengada-adakan proses pengenalan diri sendiri, namun dalam perjalanan bagaikan bicara dengan diri sendiri dari tahapan kebingungan, dialog hingga keheningan. Dalam sebuah proses berpikir yang lebih dari kebiasaan berpikir sehari-hari.

Bila anda memiliki kecenderungan untuk jatuh dalam pelukan kondisi mental yang dekat dengan neurosis, tentunya sangat tidak disarankan untuk melakukan perjalanan sendiri. Akan lebih aman untuk sekedar melakukan perenungan sejenak di tempat duduk anda atau di kamar anda. Bahkan agama juga mengajarkan banyak metode untuk memberikan waktu untuk diri sendiri, misalnya dengan shalat dalam Islam, meditasi dalam agama Hindu dan Buddha dan berbagai metode lainnya.

Intinya adalah memperhatikan diri anda sendiri, bukan dalam arti egosime tetapi dalam keutuhan jati diri anda, hingga pada saatnya tidak lagi terjebak dalam rasa terhadap waktu yang dibatasi masanya di bumi ini. Pada level ini, mungkin anda tidak akan lagi merasakan apakah hidup itu singkat atau lama.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s