Kematian Manusia

Posted on Updated on

Mengapa kematian manusia hampir selalu menarik diri kita ke dalam suatu keadaan/kondisi yang kelabu, hening, bahkan kadang membuat nalar mengalami kelambatan berpikir atau bahkan dunia tampak berhenti sejenak?

Dalam banyak tradisi, apa yang  kita lakukan dalam bentuk prosesi upacara melepaskan kepergian bagi yang meninggal sebenarnya selalu memiliki dua arah, yaitu untuk meninggalkan dan untuk yang ditinggalkan.

Apapun namanya, berdo’a bersama…upacara penghormatan, tahlilan, upacara pembakaran mayat, upacara penguburan, dll berbagai versi mengantarkan orang yang sudah mati, hasilnya selalu melegakan bagi mereka yang ditinggalkan. Tentu saja bukan dalam ukuran manusia yang masih hidup untuk dapat secara pasti menjamin dampaknya kepada yang telah meninggalkan kita, namun setidaknya dalam hati kita terjadi penguatan keyakinan dalam memanjatkan do’a khususnya kepada yang mendahului kita tersebut.

Kita akan selalu terpengaruh oleh setiap kematian dari orang-orang terdekat kita, terlebih bila orang tersebut merupakan  bagian dari kehidupan keseharian kita seperti bagian dari keluarga inti. Diperlukan sebuah sikap menerima dari setiap peristiwa kematian. Namun manusia juga memiliki kecenderungan rasa di dalam hati yang sulit tertahankan manakala menyaksikan kematian, sehingga tangisan hati akan hampir selalu tampak dalam tetesan air mata atau ekspresi kesedihan lainnya di wajah kita.

Semua itu adalah kewajaran manusiawi dalam merespon kematian manusia. Lalu mengapa saya menuliskan sesuatu yang sudah biasa dan wajar terjadi di sekitar kita tersebut?

Hari ini, menulis bagi saya bukan sekedar menyampaikan apa yang sedang saya pikirkan, melainkan juga  menjadi do’a untuk seorang teman yang meninggalkan dunia tanggal 11 Mei kemarin, Pak Agus. Tentunya saya mendo’akan sepenuh hati yang terbaik untuk perjalanan Pak Agus selanjutnya. Karena dalam keyakinan saya, semua berawal dan berakhir dan intinya (tengahnya) adalah perjalanan demi perjalanan yang harus kita lalui. Oleh karena itu, do’a terbaik adalah  harapan untuk dapat melaksanakan perjalanan hidup-mati kita dengan baik, dimana ujungnya adalah kembali kepada Yang Maha Kuasa. Sangkan Paraning Dumadi.

Meskipun saya tidak dapat hadir ditengah-tengah do’a bersama karena dibatasi luasnya lautan dan jarak, namun hati dan pikiran menyatu dalam do’a untuk bekal perjalanan Pak Agus berikutnya di alam kubur.

Ketika kita berdo’a menurut keyakinan masing-masing, kita melambungkan harapan yang tertera dalam do’a-do’a kita tersebut untuk mereka yang meninggalkan kita terlebih dahulu. Dimulai dengan pujian kepada Yang Maha Esa, Pujian kepada Alam Semesta, Pujian kepada Manusia terdahulu yang memiliki Kemuliaan, serta kita isi dengan do’a permohonan ampunan, do’a permohonan kemudahan dalam menjalani kehidupan selanjutnya, serta do’a permohonan untuk dapat kembali ke lingkungan Yang Maha Mulia dalam kebahagiaan yang hakiki.

Selamat jalan sahabat….saya pasti akan menyusul suatu saat nanti.

One thought on “Kematian Manusia

    dealer pulsa said:
    Mei 18, 2011 pukul 8:33 am

    semoga kita meninggalkan dunia ini dalam kondisi terbaik

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s