Perasaan Beragama dan Pengalaman Spiritual

Posted on Updated on

Membaca buku Wired for God?: The Biology of Spiritual Experience karya seorang pencari kebenaran, Charles Foster dari Universitas Oxford bukan saja membongkar rasa yang terdalam dari diri kita tentang rasa keberagamaan kita melainkan juga mengoyak keyakinan kita tentang apa yang sering kita klaim sebagai pengalaman spiritual.

Sejumlah guru kebathinan dari berbagai latar belakang keyakinan baik di Barat maupun di timur telah menuliskan berbagai macam fenomena kebathinan yang dikaitkan dengan pengalaman spiritual yang seringkali sangat menakjubkan bagi orang awam. Baik spiritual dalam arti pengalaman di luar hal-hal yang manusiawi seperti mengetahui masa depan, menyembuhkan penyakit, menembus alam gaib, pengalaman di luar badan, serta berbagai hal yang bagi akal sehat kita tampak ajaib.

Sebut saja misalnya sejumlah karya guru kebathinan seperti Madame Blavatsky dengan theosophy dan ide karma serta inkarnasi, Krishnamurti dengan pikiran manusia dan konsep meditasi sehari-hari yang memperkenalkan ajaran Timur ke Barat. Atau sebaliknya bagaimana pengaruh filsafat Yunani ke dalam pemikiran Timur. Lebih jauh lagi misalnya ajaran yang kontroversial dari Al Hallaj yang bertentangan dengan ajaran gurunya Junaid yang rasional (namun keduanya saling memahami), ajaran Wali Sanga (the 9 Saint) di Jawa yang penuh cerita ajaib, konsep menyatu dengan Tuhan (manunggaling kawulo gusti) dari Syech Siti Jenar, ajaran Hindu-Islam yang menyatu dalam tokoh pewayangan Wayang misalnya dalam cerita Dewaruci. Ajaran asli Nusantara yang sarat dengan cerita yang berdasarkan pada keyakinan adanya Kekuatan Yang Maha Kuasa yang menentukan jalan hidup manusia. Serta berbagai fenomena spiritual sehari-hari di sekitar kita dengan masih lakunya dukun, kyai, guru agama dari agama apapun yang melakukan pendekatan spiritual di tengah-tengah masyarakat.

Buku the Wired for God sepintas lalu tampak seperti mengguncang keyakinan kita dengan apa-apa yang telah diyakini baik secara turun-temurun maupun yang dibangun atas pengalaman pribadi. Nasehat bijak bagi anda yang belum memiliki pondasi keyakinan yang kuat tentu saja untuk berhati-hati karena anda akan menjadi semakin bingung karena sekali kita membaca buku ini maka akal kita akan bekerja untuk meresponnya.

Sejumlah respon yang akan muncul dari diri kita akan mencakup penolakan yang keras, keraguan, setengah ragu dan percaya, atau bahkan akan menguncang keseluruhan keyakinan kita dan akan menyeret kita pada keyakinan baru misalnya darwinisme atau Dawkinisme (Richard Dawkins).  Sebagai sebuah exercise intelektual, jelas bahwa upaya-upaya menjelaskan fenomena keagamaan khususnya keTuhanan dan pengalaman spiritual secara scientific sangat menarik untuk kita perhatikan. Hal ini merupakan diskursus yang sangat jarang atau bahkan belum ada di Indonesia. Dimana pembahasan hal tersebut bukan saja sensitif dan mungkin masih dianggap tabu, melainkan juga berpotensi akan menyinggung kemapanan keyakinan mayoritas orang Indonesia tentang apa yang selama ini diyakini sebagai pengalaman spiritual.

Namun sadarkah anda bahwa sebagian besar orang yang mengaku memiliki pengalaman spiritual dan kemudian memiliki posisi penting di masyarakat juga banyak yang penipu. Barangkali bukan penipu dalam artian kriminal melainkan secara sadar ataupun tidak sadar, sesungguhnya mereka itu tidak memiliki pondasi yang kuat dalam menceritakan pengalaman spiritualnya atau bahkan memberikan nasehat berdasarkan petunjuk spiritualnya. Kita bahkan sangat sering mendengar istilah guru spiritual dalam berbagai kesempatan, atas dasar apa kita kemudian memiliki keyakinan kepada mereka yang mengklaim diri atau dikenal sebagai guru spiritual, serta bagaimana ukurannya. Tentunya kita hanya dapat menerimana tanpa melakukan penyelidikan lebih dalam.

Sejumlah kelompok spiritual belakangan terbukti melakukan penipuan dengan tujuan memperoleh keuntungan uang. Sayangnya masyarakat kita yang cenderung kurang memiliki pengetahuan yang dalam tentang spiritualisme baik secara intelektual maupun pengalaman sangat mudah tertipu.

Kembali kepada buku Wired for God, adalah sangat penting untuk mengembangkan pengetahuan tanpa bermaksud meninggalkan ajaran agama. Hal ini bahkan dapat mendorong penghayatan yang lebih dalam tentang keyakinan kita. Misalnya buku tersebut menceritakan tentang bagian-bagian dari otak manusia yang diteliti memiliki hubungan dengan aspek keTuhanan (God spot),  seperti fenomena mata ketiga (frontal cortex), kelenjar pineal, temporal lobe, medial temporal lobe, dst. Bahkan ada pula penelitian yang menggambarkan sebagai sebuah jaringan otak yang memberikan respon yang unik dan saling terkait ketika dihubungkan dengan aspek keTuhanan dan besar kemungkinan setiap orang memiliki respon yang berbeda-beda. Walaupun pendekatan neuroscience atau cognitive science tersebut belum mencapai kesepakatan mutlak, namun setidaknya telah membuka diskusi yang sama ini kebanyakan kita bahkan tidak mengenalnya.

Berbagai contoh  perbandingan yang dinarasikan dalam bentuk cerita dari berbagai peradaban di dunia yang mengilustrasikan pencarian manusia akan Tuhannya sangat penting. Hal itu bukan saja relevan dalam meninjau kembali apa-apa yang selama ini kita yakini sebagai agama kita masing-masing, melainkan juga menyegarkan pemahaman kita tentang kemiripan upaya pencarian umat manusia itu sendiri. Walaupun pada akhirnya akal kita mungkin akan terbentur oleh keadaan yang tidak dapat dijelaskan, setidaknya upaya demi upaya dalam memahami berbagai hal yang selama ini kita terima begitu saja, akan memiliki dampak yang besar kepada hidup kita dan mudah-mudahan bermanfaat.

Tulisan ini terlalu singkat untuk mengantarkan kita kepada buku the Wired for God.  Hal ini hanya sebuah ledakan reaksi yang seketika terjadi ketika mulai membaca beberapa bab awal dari buku tersebut. Kemungkinan upaya untuk memahami buku tersebut diperlukan pengulangan beberapa kali membacanya.

2 thoughts on “Perasaan Beragama dan Pengalaman Spiritual

    Ainna said:
    Maret 2, 2012 pukul 8:44 am

    Makna spiritual pada tiap individu sangat beragam, dipengaruhi oleh budaya, perkembangan, pengalaman hidup, kepercayaan dan ide-ide tentang kehidupan.
    Manifestasi dari pengalaman spiritual tercermin dari perilaku yang muncul.
    salam kenal…

      sadadi responded:
      Maret 7, 2012 pukul 5:29 pm

      Benar sekali, itulah sebabnya kekayaan spiritual nusantara menjadi kurang berdaya guna karena terlalu inward looking dan kurang memahami kekuatan spiritual bangsa lain.

      salam kenal kembali

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s