Kemajuan Berpikir

Posted on Updated on

Pertanyaan-pertanyaan : dari mana kita berasal? apakah kita ini? dan akan kemana kita pergi? atau dalam bahasa Inggrisnya Where do we come from? What are we? Where are we going?, konon dipopulerkan oleh artis, pelukis, dan penulis ternama Paul Gauguin. Kita semua dalam hati kita memiliki pertanyaan tersebut dan bahkan sejak peradaban kuno China, lembah Mesopotamia, Yunani kuno, suku Aztec, Inca, bahkan pada era para Nabi Yahudi, Kristen dan Islam, serta  barangkali juga leluhur kita di Nusantara dengan animisme-dinamisme-nya pernah bertanya-tanya tentang hal yang serupa.

Seribu jawaban versus seribu kekecewaan dan seribu keyakinan meliputi pertanyaan sederhana dengan jawaban yang kompleks dan bahkan saling bertentangan bukan? Akhirnya kita bersandar pada jawaban yang dibawa para Nabi atau orang suci, jawaban para filsuf dan ahli kebijakan, atau jawaban dari berpikir bebas di alam ideologi liberal. Sebagai orang biasa, kita terlalu malas untuk berpikir lebih jauh mengenai hal-hal yang terdekat dengan diri kita sendiri, bahkan cenderung untuk menghabiskan waktu untuk hal-hal yang bersifat asessoris dunia yang kemudian menjadi bagian dari identitas kita. Sebut saja misalnya kehidupan sosial kita, mulai dari pergaulan, pekerjaan, status sosial, dan lain-lain. Seringkali identitas yang melekat pada diri kita lebih dekat kepada pekerjaan kita, oh dia itu pengusaha, pegawai negeri, atau dokter, pengacara, hakim, jaksa, polisi, serta ribuan profesi lainnya yang mereduksi identitas kemanusiaan kita yang lebih luas dari semua itu.

Kita dengan kemampuan berpikir luar biasa telah mencapai begitu banyak kemajuan yang kita labelkan sebagai modernisasi, khususnya dalam hal kemudahan hidup dengan penemuan berbagai peralatan dan teknologi. Namun bagaimana dengan pengenalan kita terhadap diri kita sendiri, hanya sebatas pada pengenalan organ fisik (ilmu anatomi), pengenalan sifatdan perilaku  (psikologi), pengenalan etnis, suku bangsa (antropologi), dll yang mana semuanya belum menjawab secara pasti siapakah diri kita ini? Agama menawarkan jawaban bahwa kita adalah ciptaan Tuhan atau hamba Tuhan yang diciptakan untuk mengabdi kepadaNya dalam kebaikan, tetapi sungguhkah kita telah mencapai kesempurnaan jawaban yang menghentikan pemikiran kita tentang siapa diri kita. Ataukah kita masih bingung?

Kebanyakan manusia akan berhenti bertanya dan kemudian bersandar pada jawaban standar yang telah ditawarkan oleh kitab suci atau buku filsafat dan kemudian sibuk dengan keseharian urusan dunia dan hasrat-hasrat lainnya. Kemajuan yang kita capai hingga saat ini sepertinya masih berada di tepi lautan ilmu pengetahuan yang dapat digali terus oleh umat manusia.

Salam

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s