Bingung ?

Posted on

Pernahkah anda merasa bingung dalam hidup anda?

Contoh situasi yang mungkin sering  kita hadapi adalah dalam sebuah perjalanan mencari alamat seseorang atau kantor, kita bingung arah jalan yang harus ditempuh untuk mencapai tujuan. Biasanya kita akan menyelesaikan kebingungan tersebut dengan membaca peta, bertanya pada seseorang, atau menelpon orang yang kita tuju dan meminta agar dijelaskan arah menuju alamatnya. Kita akan berusaha memperhatikan tanda-tanda dalam perjalanan kita yang menunjukan arah yang benar.

Contoh lainnya adalah saat kita sedang belajar, misalnya matematika. Apabila kita belum memahami teori dan berlatih dengan tekun, kita akan sering menghadapi persoalan matematika yang membuat kita bingung. Berbeda dengan persoalan non-eksakta, dalam matematika terdapat kepastian perhitungan yang tidak dapat ditawar atau hanya menggunakan intuisi dan tebak-tebakan, sehingga kita harus mengerti betul bagaimana menyelesaikan sebuah persoalan matematis. Kita harus mengerti prinsip-prinsip dasar yang akan dipergunakan untuk penyelesaian persoalan matematika tersebut, dan pada akhirnya kita akan memperoleh sebuah jawaban yang benar. Kebingungan pada saat menghadapi perhitungan matematika bertingkat yang rumit seringkali membuat kita menyerah dan menganggap matematika bukan bidang kita, padahal dalam kehidupan sehari-hari kita sering menghadapi persoalan matematika, lihat saja peristiwa jual beli dan bagaimana kita mengatur keuangan kita.

Dalam persoalan yang lebih sederhana bahkan kita juga sering bingung, misalnya dalam memilih sesuatu yang akan kita beli di pasar, departemen store atau mall. Sebut saja misalnya saat kita akan memilih baju yang akan kita beli, seringkali kita menghabiskan waktu yang cukup lama dalam proses pemilihan tersebut. Kita cukup bingung bukan? kebingungan tersebut bisa saja disebabkan oleh keterbatasan uang yang kita miliki, pilihan yang ada sama bagusnya, memilih diantara warna yang berbeda, memilih merk, memilih model, dan lain-lain. Kita mengalami kebingungan, bahkan dalam situasi yang  dimana kita kurang memiliki ketegasan dalam memilih, kita menghabiskan waktu yang luar biasa lama sampai pada hari berikutnya.

Dalam persoalan hati, kita juga menghadapi kebingungan. Misalnya hal ini terjadi dalam hubungan antara pria-wanita. Bingung dalam situasi ini terjadi karena tidak ada perhitungan pasti yang akan membawa pada kebahagiaan, serta melibatkan kemungkinan yang cukup banyak dan tidak dapat sepenuhnya dikendalikan oleh kehendak kita sendiri.

Dalam melihat masa depan kitapun sering dibayangi oleh kebingungan akan melangkah kemana menjadi apa dan bagaimana menempuhnya. Mulai dari persiapan pembentukan diri kita baik dari sisi intelektual dengan menempuh studi, dari sisi skill dengan menempuh pelatihan dan bekerja, serta dari sisi keorganisasian yang seluruhnya merupakan proses dalam menjadi diri kita sendiri sebagai apapun yang akhirnya kita pilih dalam hidup ini.

Seringkali kita menghadapi persoalan bahwa kita “terpaksa” menempuh satu jalan yang tampaknya tidak membawa ketenangan dan kebahagiaan karena kita tidak dapat memilih atau pilihan sangat terbatas. Akhirnya kitapun merasa menderita dan menjadi bingung dengan nasib yang sedang kita jalani. Pada saat kita kehilangan orang yang kita sayangi, pada saat kita kehilangan pekerjaan, pada saat kita mengalami sakit, pada saat kita dihimpit oleh kemiskinan dan hutang, pada saat kita tidak mampu bahkan menolong diri kita sendiri, kitapun akan secara otomatis diselimuti oleh kebingungan dan akal kita seperti membeku dalam jeritan hati memohon pertolongan untuk dibebaskan dari kebingungan dan penderitaan yang kita hadapi tersebut.

Kebingungan dalam keterpaksaaan keadaan yang serba menyiksa lahir bathin kita tersebut tampak sangat berat dan bahkan nyaris menghapuskan segala harapan kita akan perubahan. Bayangkan bila kita menjadi seorang anak yatim piatu yang hidup di jalanan, mencari sisa-sisa makanan di tempat sampah restoran, bekerja kasar serta mengemis untuk sekedar dapat menyambung hidup. Bingungkah ? Belum tentu bukan? Mengapa saya katakan belum tentu bingung ?

Kebingungan pada hakikatnya lahir dari taraf atau level pemikiran kita sendiri tentang kepatutan diri kita sebagai manusia. Apabila kebingungan akal pikiran kita tersebut telah mencapai tahapan yang semakin kritis, maka hatipun akan menjadi bingung, marah, sedih, kecewa, putus asa, dll. Kita tidak dapat menerima keadaan yang kita alami, hal ini awal dari rentetan berbagai perasaan yang menumpuk menjadi masalah yang semakin besar dari waktu ke waktu.

Kembali pada ilustrasi seorang anak yatim piatu yang hidup di jalanan. Saya pernah menyaksikan bahwa mereka memiliki kearifan tersendiri pada saat mereka akhirnya keluar dari himpitan perasaan dengan menerima keadaan. Dalam sebuah pembicaraan saya dengan seorang anak jalanan yang yatim piatu, saya mendengarkan bahwa setelah menjalani kesedihan dalam hitungan jam, hari, bulan dan tahun, pada suatu waktu sang anak yatim tersebut mencapai penyerahan terhadap keadaan dan akhirnya terbiasa dalam kemiskinan dan baju yang bau dan kotor. Dipersimpangan jalan, menyaksikan anak-anak orang kaya diantar ke sekolah dengan mobil atau motor yang bagus oleh orang tuanya dan pada awalnya hatinya demikian besar dalam iri hati akan ketidakadilan hidup di dunia. Namun seiring waktu berlalu, hatinya hanya teriris sedikit sampai akhirnya tidak lagi terasa dan kadang dapat turut tersenyum menyaksikan kenikmatan yang dirasakan anak-anak orang berada, turut berbahagia dan bersyukur untuk anak-anak yang beruntung.

Pada awalnya juga, sang anak yatim piatu tersebut membenci hidupnya, marah kepada Yang Maha Kuasa dan tidak lagi sanggup mendengarkan ayat-ayat Tuhan yang mengajarkan kebajikan pada manusia. Semua menjadi hampa karena perutnya lapar, tubuhnya gatal, dan air matanya mulai mengering karena menangis sepanjang kegelapan malam. Namun dalam penyerahan dan penerimaannya pada keadaan, sang anak tidak lagi membenci hidupnya karena akhirnya pagi hari harus dijelang dan ia harus menghadapi siang dengan usaha, bekerja untuk kelangsungan hidupnya, tidak lagi marah kepada Tuhan karena menurutnya Tuhan terlalu besar untuk mengurusi tangisan keluhan hidupnya, dan akhirnya mulai memacu dirinya untuk lebih kuat dari waktu ke waktu. Kebingungannya mengendap seiring dengan pergumulannya dengan persoalan hidup yang sangat berat, dan pemahamannya akan makna penyerahan kepada Tuhan melampaui kebanyakan manusia yang lupa akan jati dirinya.

Manusia dengan jutaan atau bahkan milyaran ragam keunikan perjalanan hidupnya akan menghadapi berbagai persoalan yang khas masing-masing individu. Kepedulian kita satu dengan yang lainnya akan menyirami dan menerangi sedikit persoalan kita satu dengan lainnya. Konflik dan kebencian akan menambah dan mempergelap kebingungan yang kita hadapi. Kita sering merasa persoalan kita adalah yang paling besar, kita merasa paling perlu dikasihani, kita paling sedih dan paling hancur hatinya, padahal hal itu tidak perlu terjadi apabila kita paham pada level/taraf mana kita berpikir dalam menerima keadaan yang sedang kita jalani.

Dalam keadaan yang serba cukup-pun tidak akan luput dari masalah. Sebut saja misalnya sifat kita yang berlebihan dalam menikmati hidup yang kemudian membawa kesengsaraan, misalnya dalam soal makanan dan minuman, dalam pelampiasan nafsu seks, dalam arogansi kekuasaan, dalam kebutaan kilauan harta benda dunia, dll. Kita dari waktu-waktu senantiasa diintai oleh persoalan yang akan membuat kita bingung dalam perjalanan hidup kita.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s