Selamat Tahun Baru Twenty Ten… Selamat jalan Gus Dur

Posted on Updated on

10…9…8…7…6…5…4…3…2…1….hiruk pikuk detik-detik tahun baru di dunia Barat lebih banyak diwarnai oleh gegap gempita kembang api, berkumpul bersama keluarga dan orang yang dikasihi, bersama teman sejawat, serta berbagai pesta besar maupun kecil yang terasa cukup hangat serta dapat melepas kepenatan selama tahun 2009, kemudian memupuk kembali semangat dalam menyongsong harapan tahun 2010.

Tradisi tersebut juga sudah menjalar ke sebagian kota-kota besar di dunia Timur, khususnya di kawasan Asia, termasuk di Indonesia. Namun d Indonesia, suasana gempita tahun baru tersebut juga diwarnai oleh keheningan karena mantan Presiden Abdurrahman Wahid meninggalkan kita pada 30 Desember 2009, malam hari tepatnya sekitar jam 18.45 WIB.

Mengapa kali ini matahati terasa terpanggil untuk mengkontraskan gegap gempita tahun baru dan kepergian salah seorang tokoh Indonesia?

Pergantian waktu atau peralihan masa hakikatnya adalah perjalanan yang mana tidak dapat kita ulangi lagi, semuanya hanya terjadi sekali. Kelahiran dan kematian menjadi sangat fenomenal karena dampaknya yang sangat mendalam kepada siapapun manusia yang berada disekitarnya (dalam jangkauan lingkungan pengaruhnya).

Kepergian almarhum Gus Dur, sangat terasa mendalam di masyarakat Indonesia, lebih khusus lagi di kalangan Nahdatul Ulama, dan lebih sangat khusus lagi di dalam keluarga inti. Rasa kehilangan atau perasaan yang hilang, hampa dalam keheningan secara tiba-tiba menyeruak dalam segenap panca indera kita.

Kehadiran/kelahiran Tahun Baru 2010, adalah kematian bagi periode tahun 2009. Pada saat yang bersamaan hampir selalu terjadi keadaan yang paralel dimana kita kehilangan sesuatu sekaligus juga mendapatkan sesuatu.

Apakah yang kita dapatkan dari perginya sosok Gus Dur? Hal ini berpulang kepada diri kita masing-masing dan sejauh mana kedekatan kita atau sedalam apa pengaruh Gus Dur kepada kita.

Matahati kita yang jujur akan mendapatkan bahwa kepergian Gus Dur melahirkan suatu kesadaran bahwa dalam berbagai kontroversi yang pernah keluar dari pemikiran dan perbuatan Gus Dur selama hidupnya, terdapat makna lain yang dapat kita terjemahkan menurut jangkauan pemahaman hakikat maupun akal kita. Sebagian orang mungkin melihat adanya suatu hal yang bersifat di atas normal, namun yang lain melihatnya sebagai kebjiakan, dan ada juga yang melihatnya sebagai refleksi kecerdasan, namun tidak sedikit yang justru salah memahaminya karena kurangnya pengetahuan dan kedalaman pemahaman hati ataupun akal.

Akhir kata, menyongsong tahun 2010 kita kehilangan tokoh yang berpengaruh dalam perjalanan bangsa Indonesia. Janganlah berpikir bahwa kehilangan sama artinya dengan akhir dari segalanya, namun sebaliknya justru melahirkan sesuatu yang baru dalam hati kita.

Selamat jalan Gus Dur…..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s