Do’a

Posted on

Pernahkah anda merasa bosan dalam berdo’a? mengulang-ulang sesuatu perbuatan yang bahkan anda tidak pernah mengerti karena terlalu banyak hal yang tidak dapat dijelaskan. Sementara kebanyakan manusia melihat doa sebagai kewajiban, sebagai suatu jalan keluar atau sebagai metode untuk melepaskan diri dari masalah dunia.

Do’a dalam teori agama-agama di dunia adalah suatu perbuatan atau tindakan yang bermakna permintaan, harapan atau permohonan yang ditujukan kepada Tuhan atau apapun anda menyebutnya Kekuatan Yang Maha Dahsyat yang menurut keyakinan anda akan mengabulkan apa-apa yang anda do’akan. Mengapa terjadi mekanisme do’a dalam keseharian kita, atau mengapa kita tidak merasakan manisnya atau manfaat dari do’a? Apakah kita berdo’a karena orang tua kita atau guru kita mengajarkan dan mewajibkannya dalam kehidupan kita, ataukah karena satu dan lain hal kita akhirnya dapat merasakan suatu kebutuhan akan do’a. Setidaknya secara psikologis do’a akan membawa ketenangan dalam kehidupan kita karena ada sesuatu (Tuhan) yang menjadi harapan ketika kita menghadapi perjalanan hidup yang sulit, yang sempit ataupun yang menyebabkan kita sangat menderita. Kita menderita disebabkan oleh hampir setiap apapun yang kita sentuh di dunia ini. Penderitaan itu dapat berasal dari dunia fisik dimana kita dapat terluka misalnya kulit kita akan berdarah menghadapi irisan benda tajam atau terbakar menghadapi api, dst. Tubuh kita akan jatuh sakit menghadapi serangan bakteri atau virus, serta kita akan sangat menderita manakala terjadi kelainan fungsi dalam tubuh biologis kita seperti jantung yang tidak sempurna, fungsi ginjal yang rusak ataupun penyempitan pembuluh darah di bagian manapun sebagai akibat dari kelebihan kolesterol dan berbagai macam hal lainnya.

Secara non fisik, kita akan menderita ketika kita menyentuh dunia harapan, yaitu ketika kita berharap akan sesuatu namun harapan itu tidak terwujud, misalnya ketika kita berharap untuk sukses dalam pekerjaan, percintaan, membangun keluarga, memiliki anak yang baik sehat dan cerdas, dst. Bahkan harapan terkecil sekalipun seperti senyuman dari sesama manusia yang tidak kita terima melahirkan suatu rasa tidak enak atau kecewa. Mengapa demikian?

Kita hampir selalu mendambakan kesenangan atau kebahagiaan tanpa pernah memperhitungkan dampak dari dambaan tersebut, yaitu penderitaan karena tidak tercapainya harapan tersebut. Uniknya dambaan manusia tidak ada batas dan habisnya, mungkin ujung yang dapat kita pahami dalam perjalanan di dunia ini adalah kematian karena mayoritas kita tidak memahami kematian dan tidak terlalu mengacuhkannya sampai waktunya giliran kita. Sesekali kita peduli dan berpikir tentang kematian, yaitu ketika orang terdekat kita mati atau ketika kita menghadiri upacara kematian seseorang atau ketika menyaksikan peristiwa kematian di depan mata kita.

Adalah suatu kewajaran apabila kita selalu mendambakan kesenangan/kebahagiaan, namun perjalanan kita tidak selalu diwarnai oleh kesenangan atau kebahagiaan. Bukankah kita dapat benar-benar meresapi kebahagiaan manakala juga mengerti makna penderitaan, yaitu singkatnya adalah ketiadaan rasa bahagia. Bahagia dalam pekerjaan adalah ketika kita bekerja di bidang yang kita cintai/senangi, menghasilkan sesuatu yang kita patut banggakan serta mendapatkan penghargaan yang layak/sesuai harapan. Namun seringkali kita tidak mendapatkan keadaan yang ideal demikian, bila bekerja di bidang yang kita senangi namun hanya dihargai/dibayar 1/4 dari  nilai yang layak, tentunya kita juga akan menderita karena kebutuhan kehidupan dunia juga cukup mahal. Demikian juga dalam percintaan, dan berbagai aspek kehidupan manusia yang lainnya yang dapat anda tuliskan daftarnya masing-masing.

Apakah faktor-faktor duniawi tersebut yang memicu anda untuk berdo’a? Apabila benar demikian, maka anda telah terjebak dalam memperkuat keinginan akan kebahagiaan dan memperbesar kekecewaan yang akhirnya membuat anda menderita. Hal itu disebabkan oleh ketiadaan suatu rasa yang sering disebut dalam ajaran agama atau filsafat sebagai ikhlas, tulus atau tanpa pamrih atau tanpa paksaan. Kita cenderung untuk memaksakan harapan kebahagiaan kita kepada Tuhan tanpa pernah mengukur diri kita seberapa pantas memperoleh kebahagiaan yang kita harapkan tersebut.

Walaupun Tuhan dalam ajaran agama-agama di dunia menjanjikan bahwa berdoalah dan akan AKU kabulkan, sesungguhnya dibalik itu terdapat semacam prakondisi yang mendahuluinya. Apa yang akan terjadi apabila setiap doa manusia segera terkabul dalam sekejap mata? Kita sebagai orang tua berdoa agar supaya anak kita lulus masuk perguruan tinggi, disamping kita ratusan ribu orang tua yang lain juga berdoa hal yang sama, padahal kursi di universitas yang kita harapkan hanya ada 50 ribu kursi. Tentunya akan ada ratusan ribu orang tua yang menderita karena doanya tidak terkabul bukan? Lalu dimana janji Tuhan itu? Apakah Tuhan tidak menepatinya, menundanya atau apa penjelasannya. Kita akan selalu menyaksikan manusia-manusia yang berhasil (bahagia) dan manusia-manusia yang gagal (menderita), walaupun semuanya telah beriman dan berdoa kepada Tuhan.

Atau adakah yang salah dengan doa kita? perhatikan diri anda masing-masing sejauh mana ketulusannya anda dalam berdoa, karena doa yang tulus adalah doa dalam keyakinan dan berserah diri tanpa paksaan kepada Tuhan. Artinya anda akan tetap berprasangka baik kepada Tuhan manakala doa anda belum terwujud dan dalam jangka waktu tertentu hingga saatnya kematian anda akan melihat makna dibalik misteri semua itu, dan akhirnya anda akan mampu melihat dengan penglihatan yang yakin tentang doa, harapan dan permohonan anda dimana letak perwujudannya di dunia ini dan sungguh Tuhan bersifat Maha Kasih Maha Sayang sehingga akan mengabulkan setiap doa kita, namun kita jarang mensyukuri atau bahkan tidak mampu melihat perwujudannya. Hal itu dikarenakan ukuran penglihatan kita adalah dunia.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s