Keindahan, Cinta dan Kesedihan

Posted on Updated on

Pancaran bahagia yang pertama diciptakan Yang Maha Pencipta adalah keindahan diriNya sendiri yang mana dalam ajaran hampir seluruh agama dan keyakinan kita dilarang untuk memikirkannya. Karena memikirkan zat Yang Maha Indah tidak akan sanggup, bahkan upaya merasakannya bersama angin malam yang berkelana juga tidak akan menembusnya, malahan akan menjerumuskan kita kepada keheningan dan lamunan akan keindahan yang tidak terbayangkan tersebut.

Itulah sebabnya cita-cita tertinggi dari para penempuh jalan spiritual adalah berhadap-hadapan dengan Wajah Sang Pencipta yang Maha Indah, adalah janji atas kebahagiaan tertinggi umat manusia.

Umat manusia dalam keyakinan apapun akan menempuh liku-liku jalan, gejolak rasa, dalam mencari keindahan dunia sebagai pengganti sementara dari Yang Maha Indah ataupun sebagai perwujudan perantara pengabdian kepada Yang Maha Indah. Apakah anda seorang yang religius? apa yang anda cari? kebenaran hakiki, pengungkapan segala rahasia, ataukah penerimaan dari Yang anda puja, apapun namanya Tuhan, Allah, Tuhan Allah, Dewa-Dewi, Tian, Yahweh, Brahma, Buddha, dll berbagai nama yang kita berikan kepada Yang kita puja. Kita dapat berusaha meyakinkan diri kita sebagai manusia religius yang rajin dan tekun memuja pujaan kita, tetapi apakah puncak dari pemujaan itu…tentunya penerimaan bukan. Bagaimana rasanya diterima oleh Yang Maha Indah? tentunya kembali kepada rasa terdalam dalam kejujuran hati kita. Kita tidak dapat menipu diri sendiri bukan?

Apakah anda seorang pemuja keindahan wanita dan pria? tentunya ada mencari-cari kualitas sesuai kata hati dan kecenderungan rasa terdalam yang ingin dicurahkan kepada yang anda puja. Tentunya anda juga mendambakan penerimaan dari yang anda puja. Di zaman paska kenabian, dimana humanisme menjadi raja dari pemikiran umat manusia, kita di zaman sekarang dapat melihat kenyataan manusia yang saling mencinta baik yang berpasangan wanita-pria (heteroseksual), sesama wanita (lesbian) maupun sesama pria (homoseksual), mengapa hal itu dapat terjadi? wajarkah ataukan ada suatu pelanggaran norma manusiawi? Saya tidak akan masuk dalam pembahasan filosofis ataupun religius karena jawabannya sudah ada dalam kitab-kitab suci yang anda yakini. Apa yang ingin saya bahas disini adalah bahwa ketertarikan tersebut sangat dipengaruhi oleh kualitas keindahan seseorang baik secara penampilan fisik maupun dari keindahan lainnya seperti kualitas karakter, intelektual, perilaku, dll.

Apakah anda seorang pemuja keindahan alam semesta, tentunya hati akan terdiam dalam kekaguman manakala kita berada di lingkungan yang indah baik itu berupa pemandangan alam, maupun ditengah-tengah hasil mahakarya manusia seperti bangunan-bangunan yang megah nan indah. Semua itu mewujud dalam alam keindahan dan pemujaan yang tiada hentinya dalam suasana bathin yang jujur. Bahkan kita akan secara jujur mengakui suatu kualitas keindahan foto tetesan air pada saat kita sungguh-sungguh memperhatikannya.

Ya, kata kuncinya adalah perhatian. Ketika kita sangat sering memperhatikan sesuatu akan lahir rasa sayang pada sesuatu itu. Ketika kita berhari-hari, berbulan-bulan memperhatikan secara tulus apapun (pekerjaan, benda, manusia, dll) kita akan cenderung untuk tumbuh perasaan yang lebih dalam, dan pada saatnya tepat mengenai sasaran perasaan itu menemukan namanya sebagai cinta.

Cinta adalah penciptaan kedua setelah keindahan, ia lahir begitu tiba-tiba/spontan seperti ledakan yang tertahan.Cinta adalah pemuja setia keindahan, itulah sebabnya semua agama mengajarkan kita untuk mengutamakan cinta kepada Tuhan dibandingkan dengan cinta kepada ciptaanNya. Namun abstraknya Yang Maha Indah menyebabkan kita lebih memilih untuk lebih memperhatikan cinta kepada hal-hal yang lebih mudah dipahami seperti cinta kepada lawan jenis dan kepada keturunan kita. Cinta bersifat mengikat dan cenderung untuk setia kepada satu perwujudan keindahan apapun bentuknya, namun beberapa ahli filsafat membuka diri dengan menyatakan bahwa cinta itu dapat bersifat banyak dimana kita dapat mencintai banyak perwujudan keindahan dalam satu waktu, hal ini sering menjadi alasan kepada pemuja wanita untuk mencintai banyak wanita dalam satu waktu. Padahal hakikatnya keindahan wanita hanya satu, yaitu melihat percikan cahaya Tuhan dan samasekali tidak bersifat seksual. Seks adalah ciptaan potensi badaniah yang disetujui oleh bathin kita sebagai bagian dari proses regenerasi manusia dalam melakukan kegiatan prokreasi, andaikata tidak diciptakan penuh hasrat dan godaan, tentunya manusia sudah punah sejak berabad waktu yang lalu.

Bayangkan dengan adanya perkembangan teknologi modern yang menyebabka manusia dapat melakukan regenerasi dengan membeli bibit manusia (sperma) atau menanamnya di dalam rahim sewaan? Di mana kegiatan prokreasi berdasarkan cinta tidak lagi terjadi, apakah ada dampaknya terhadap generasi yang dilahirkan? jawabnya tentu sangat sulit karena manusia tiada akan tahu kedalaman dari sebab akibat suatu perilaku/perbuatan yang kita tempuh saat ini hingga kita akan melihatnya sendiri di masa mendatang. Hal ini cukup menjadi indikasi dimasa mendatang akan semakin banyak generasi yang dilahirkan dari proses tanpa cinta, namun tumbuh berkembang dalam kasih sayang pasangan yang mengasuhnya. Sehingga pemujaan kepada keindahan tidak lagi berujung pada pendambaan seks untuk proses regenerasi dan hal ini memang hanya bagian kecil dari cita-cita cinta dalam pemujaannya kepada keindahan.

Kembali pada proses penciptaan cinta sebagai dampak dari keberadaan keindahan. Cinta akan menempuh berbagai bahaya dalam pemujaannya kepada keindahan, bahkan cinta tidak takut dengan kemusnahan dirinya dalam menempuh pemujaannya kepada keindahan. Namun manakala keindahan memberikan senyuman penolakan kepada cinta, cinta-pun tertunduk lesu dan dunia bagaikan berakhir dalam gelapnya kabut malam, bahkan kegelapan menyebabkan kita tidak bisa melihat tangan kita sendiri. Saat itulah kesedihan dilahirkan atau diciptakan oleh Yang Maha Pencipta sebagai teman untuk cinta. Kesedihan adalah anak bungsu yang tidak mengerti masalah cinta, namun ia lahir dengan jeritan dan tangisan yang nyaris tidak terdengar dan merupakan bagian dari cinta yang secara tiba-tiba pula menjadi cerminan dari kepedihan perjalanan cinta. Kesedihan lahir dalam wujud yang tidak disukai mahluk manapun, karena kemanapun ia berjalan ia menjadi antagonisme dari keceriaan dan warna-warni kehidupan. Dengan bungkus pakaian serba gelap, hitam keabu-abuan, bahkan kesedihan sering dituduh sebagai bagian dari Iblis yang harus diusir dari rumah hati manusia. Sesungguhnya tidak demikian, kesedihan juga tidak mengerti mengapa ia lahir mendampingi cinta hanya ketika cinta tertolak oleh keindahan, sedangkan ketika cinta mendapatkan penerimaan dari keindahan cinta bagaikan tidak lagi mengenal kesedihan, sehingga kesedihan menyendiri di relung terdalam manusia dan bersembunyi untuk suatu waktu keluar kembali dalam tetesan airmata cinta maupun penyesalan.

Kepada sahabat yang sedang bersusah hati karena cinta, perhatikannlah bahwa keindahan yang anda kejar tidak abadi dan kesedihan adalah teman setia yang akan selalu hadir dan meredakan beban hati dengan ekspresinya yang khas, baik berupa tetesan air mata, sesaknya hati, maupun ekspresi kreatif berupa maha karya seni dan sastra. Namun jangan biarkan kesedihan menguasai seluruh rumah hati kita, karena kamar kesedihan adalah di pojok terjauh yang pintunya dikunci oleh kesedihan dan kesedihan akan membuka pintu dan menguasai hati kita sesaat manakala, hati memanggilnya yaitu saat hidup terasa sangat susah baik oleh keadaan maupun tertimpa malapetaka, saat tertolak oleh keindahan, dan saat penyesalan dari suatu perbuatan.

Inspirasi dari filsafat iluminasi Al Israq.

2 thoughts on “Keindahan, Cinta dan Kesedihan

    translate indonesia inggris said:
    Oktober 10, 2009 pukul 3:28 am

    makasih telah berbagi..

    stainless tanks said:
    Oktober 13, 2009 pukul 1:15 pm

    Cinta datang kepada orang yang masih mempunyai harapan, walaupun mereka telah dikecewakan. Kepada mereka yang masih percaya, walaupun mereka telah dikhianati. Kepada mereka yang masih ingin mencintai, walaupun mereka telah disakiti sebelumnya dan Kepada mereka yang mempunyai keberanian dan keyakinan untuk membangunkan kembali kepercayaan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s