Menerima

Posted on

Pernahkah kita sadar bahwa untuk bersikap menerima itu cukup rumit. Kita cenderung untuk memaksakan kehendak dan bersikap ambisius di setiap keadaan. Ingin ini dan itu tanpa menyadari mengapa keinginan itu lebih kuat dibanding dengan sikap menerima.

Menerima suatu keadaan tidak sama dengan menyerah dan berpangku tangan mengharapkan keajaiban. Bahkan harapan yang baik sekalipun apabila dipaksakan dengan kehendak nafsu akan menjadi kontras dengan sikap menerima.

Menerima tidak identik dengan sikap pasif ataupun aktif, yang ada hanya suatu keadaan pikiran, hati dan gerak yang berdasarkan pada dorongan murni yang bersumber dari Yang Maha Kuasa.

Kita bisa saja aktif bekerja karena dorongan sikap menerima tersebut, kita juga bangun pagi karena menerima dengan iklash untuk beribadah. Kita berjalan, berpikir, berkreasi dan segala akifitas lainnya karena menerima…lho menerima apa? Bukankah kita yang bergerak sendiri? Disinilah letak kerumitan menerima itu apabila akal kita mencoba mencernanya.

Kita bisa juga berdiam diri dalam samadhi atas dorongan menerima, kita tidur dan rileks juga didorong oleh keadaan menerima. Dalam pasifnya aktifitas, kita juga bisa berada dalam keadaan menerima…lho menerima bagaimana? Bukankah yang menyebabkan diamnya kita itu karena kita sendiri? Di sini juga letak rumitnya keadaan menerima itu.

Entahlah ketika saya menuliskan ini, semua terjadi begitu saja. Mungkin ini juga suatu keadaan menerima.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s