Kehendak

Posted on

Adakah yang salah dengan mimpi dan kehendak kita sebagai manusia ? ketika kita berkehendak apa sesungguhnya yang sedang terjadi…apakah demikian saja sebagai suatu kewajaran yang natural, ataukah melalui suatu proses yang rumit yang merupakan hasil dari dialog internal kita tentang apa yang kita inginkan di dunia ini.

Berkehendak untuk makan dan minum adalah suatu kewajaran karena itu menjadi salah satu dasar dari kehidupan. Tetapi berkehendak untuk makan dan minuman tertentu itu telah menjadi suatu aliran dahaga kenikmatan duniawi yang memang tersaji sedemikian rupa di dalam perjalanan hidup kita. Ada kalanya kehendak itu tercapai dan ada kalanya tidak. Penghalangnya bisa bermacam-macam, ada yang dihalangi oleh penyakit, ada yang dihalangi oleh kemiskinan, serta ada juga yang dihalangi oleh hilangnya selera karena penolakan secara psikologis maupun fisikal.

Kehendak-kehendak apapun baik duniawi maupun yang tampak ideal mendekati Tuhan semuanya adalah kehendak yang tersimpan dalam lubuk terdalam manusia yang secara sadar maupun tidak menjadi penggerak langkah kehidupannya. Ada kalanya kehendak tersebut didefinisikan dengan baik dan buruk, misalnya mereka yang larut dalam kehidupan akhirati sering memandang hasrat dan kehendak duniawi buruk. Sebaliknya para penikmat dunia memandang mereka yang mengabaikan dunia sebagai suatu kehendak utopis yang meninggalkan tanggung jawab membangun dan memelihara dunia.

Apakah kehendak kita “harus” sesuai dengan kehendak Yang Maha Kuasa? Bagaimana kita mengetahui kehendak Yang Maha Kuasa?

Seringkali kita merasa “terpaksa” berada dalam suatu keadaan dan kemudian kita menghibur diri dengan mengatakan kepada hati kita bahwa ini adalah kehendak Yang Maha Kuasa. Namun tidak kalah seringnya kita merasa bahwa Yang Maha Kuasa merestui kehendak kita karena kita berada dalam suatu keadaan yang sesuai dengan harapan kita.

Pada akhirnya kita perlu menengok sejenak, dan akan kita dapati bahwa kehendak kita lebih banyak bergerak secara otomatis dalam ruang yang telah kita ciptaan sendiri demi menjaga stabilitas perasaan dan hati kita. Dengan kata lain, justifikasi dan cara-cara menghibur diri seringkali menggiring kita untuk menjadi penipu terhadap diri kita sendiri.

Semoga Tuhan mengampuni.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s