Aduh !

Posted on Updated on

Aduh ! desah keluhan membuang beban
Aduh ! sekedar pelepas rasa tidak enak
Aduh ! kekesalan di hati menyeruak
Aduh ! sepertinya enak diucapkan

Aduh ! kepusingan menjadi gejala umum manusia di alam reformasi karena perubahan bergerak ke wilayah berkabut. Meski kabut tersebut sebernarnya tidak terlalu pekat, tetapi karena bahan kabut tersebut merupakan campuran emosi rendah keduniaan dan ramuan bisikan setan, maka mata kita menjadi pedih. Air mata menetes, penglihatan semakin kabur dan hatipun tertegun.

Aduh ! seorang ibu menjadi sedih karena anaknya masuk dalam aliran sesat, ibu yang lain kaget karena anaknya menjadi teroris, ibu yang lain menangis pedih karena anaknya mati kelaparan.

Aduh ! hiruk-pikuk politik ekonomi begitu bisingnya sampai-sampai langkah perubahan tercekam keraguan. Terlalu banyak suara tanpa karya sampai-sampai tujuan bersama tenggelam dalam genggaman kepentingan pribadi dan kelompok.

Aduh ! gejolak energi dunia semakin menghimpit sesaknya nafas kita.
Aduh ! korupsi masih merajalela di tengah-tengah kita.
Aduh ! alam masih mengintai bencana demi bencana.

Aduh ! menjadi keluhan spontan manakala kesakitan, kepedihan, kekecewaan, kesedihan, dan beragam persoalan yang menyempitkan hati kita terjadi. Masih wajar ketika keluhan aduh tersebut berhenti dalam ruang waktu sesaat untuk bangkit kembali. Masih bisa diterima manakala keluhan aduh tersebut tidak melukai hati secara permanen dan meninggalkan kebusukan yang tidak terobati.

Kepada siapa hati kita mengeluh dan mangaduh ? kembali kepada masing-masing hati kita dalam meyakini adanya kekuatan Yang Maha Besar untuk menyampaikan segala himpitan hati kita, sehingga hati terjaga dalam keyakinan yang mewujud dalam bentuk ekspresi do’a yang tulus ikhlas.

Dunia berputar dalam pengaruh baik – jahat, bahagia -sedih, awal – akhir, sehingga tidak perlu hidup kita dikuasai oleh kekhawatiran yang berlebihan dan matahati kita tidak perlu terpaku pada kemandegan dan hidup di masa lalu dalam kuburan masalah duniawi. Melaksanakan perbaikan dari waktu ke waktu serta kembali ingat pada asal dan tujuan hidup kita. Innalillahi wa innailaihi roji’un.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s