Latihan Matahati

Posted on

Sering kita mendengar adanya suatu upaya manusia memperoleh berkah. Dalam istilah arabnya dikenal suatu metode tabaruk sedangkan dalam istilah Barat ada istilah Blessing atau pemberkatan. Apa sebenarnya makna dari berkah tersebut? Secara sepintas lalu dapat segera kita pahami bahwa pengharapan, cita-cita dan kehendak manusiawi senantiasa melambung kepada Yang Maha Kuasa sementara kepastian tercapainya semua itu tidak bisa dijamin. Ketidakpastian tercapainya pengharapan manusia tersebut kemudian dibungkus dalam suatu ritual yang sebenarnya merupakan sharing pengalaman bathin seseorang (biasanya pimpinan agama, orang yang membersihkan diri, dll). Karena rumitnya perjalanan bathin yang akan selalu bersifat khas individual, maka lahirlah ide-ide yang didorong oleh kepedulian untuk menolong sesama manusia. Orang-orang yang mendapat pencerahan kemudian menyusun suatu susunan ritual  yang apabila dilakukan, ada “semacam jaminan” bahwa pengharapannya akan terkabul. Pengharapan yang meliputi permohonan akan masa depan yang lebih cerah, perlindungan dari kejahatan, terwujudnya kenikmatan duniawi dan bahkan surga seolah-olah hanya bisa ditempuh melalui “jalan” pilihan. Lahirlah kemudian berbagai metode baik yang mencakup hipnotis diri (mengulang-ulang mantra), meditasi, pernafasan, puasa, serta berbagai upaya pemutusan indera manusia dengan lingkungannya. Hasilnya cukup mencengangkan pada sebagian orang, namun juga membuat frustasi pada sebagian orang yang lain. Keberhasilan dan kegagalan dalam jalan ini tidaklah terlalu signifikan dalam pemurnian matahati manakala ujung pengharapannya berhenti pada kehendak nafsu manusia. Betapapun tingginya  perjalanan mistik seseorang akan dengan mudah terjun bebas pada kehancuran manakala melahirkan kebutaan pada matahatinya. Kebutaan yang disebabkan oleh kesombongan, takabur, mendahului kehendak Yang Maha Esa, serta sikap abai pada hal-hal “kecil”, akan segera menggelincirkan seseorang.
Fokus manusia pada tujuan pencapaian berkah/barokah sering menjerumuskan perjalanan pada ikatan metode jalan pencerahan yang memberikan janji tercapainya berkah tersebut. Padahal jalan pencerahan tidak terbatas pada tujuan-tujuan sempit kenikmatan dan keberhasilan hidup di dunia. Keberhasilan di dunia bisa dicapai melalui kerja nyata yang tekun dan do’a yang sungguh-sungguh. Bukan melalui prosesi pemberkatan yang diwarnai ritual sugesti tinggi tentang pencapaian sesuatu. Pada banyak kasus kebanyakan sugesti yang kuat tersebut cukup berhasil mewujudkan kenyataan keberhasilan duniawi, namun hal itu sangatlah lemah apabila kita tidak segera memperkuat keyakinan pada diri sendiri dan hanya bersandar pada  Yang Maha Kuasa.

Benar bahwa tidak semua manusia mampu menempa dirinya untuk mencapai pencerahannya, namun dalam hidup yang singkat ini tidak ada ilmu yang lebih mulia dibandingkan dengan pencerahan pribadi. Dalam perjalanan pencerahan pribadi tersebut tentunya ada ruang saling menasehati dengan kebaikan dan kesabaran, dan pada proses itulah terjadi proses berguru/belajar sesama manusia. Tetapi reduksi luasnya matriks hubungan sesama manusia (mahluk sosial) sering mempersempit ruang gerak sehingga terjadi reduksi kemampuan manusia, khususnya akal.

Akhirnya kita masuk pada inti pembahasan tentang latihan matahati, tidak lain tidak bukan adalah suatu proses belajar tiada henti tentang lingkungan hidup kita, tentang keyakinan kita, tentang harapn kita, dan tentang segala sesuatu yang terlintas di hati kita. Menangkap dan memahami lintasan matahati akan membuat kita faham tentang diri kita sendiri dan pada gilirannya tentang manusia lain. Kepedulian dan terciptanya hubungan-hubungan sosial dan bathiniah sesama manusia adalah suatu intekoneksitas yang tidak pernah bisa diputuskan. Guru yang baik tidak akan pernah membodohi muridnya dengan pembatasan pemahaman tentang luasnya hakikat.

Latihan adalah keseharian kita dari bangun tidur hingga tidur kembali. Dalam lingkungan do’a dan kewaspadaan atas lintasan matahati yang merupakan muara dari lintasan ide (rasio), rasa (emosi), memori (ingatan), ilusi (bayang-bayang), harapan (mimpi), hingga fakta sehari-hari. Ritual apapun dari berbagai keyakinan pada dasarnya adalah melatih diri kita untuk membiasakan dengan fenomena-fenomena kehidupan kita, bersyukurlah karena para Rasul dan Nabi sudah mewariskan metode-metode pencerahan jiwa yang bisa kita terapkan sebagai latihan tiada henti.

Bagaimana dengan  fokus tujuannya, singkat saja….semakin beragam semakin tidak fokus . Dunia adalah cermin keanekaragaman sehingga janganlah dijadikan tujuan. Iklash dan berani menjalani hidup dalam tujuan pulang ke asal kita bisa menjadi suatu pilihan dimana Kasih Sayang dan Ridha Yang Maha Esa mendahului setiap langkah kita menujuNya.

Apakah lantas dengan latihan tersebut, dunia kita terabaikan? Tentu saja tidak, karena interkoneksitas jiwa manusia mendorong manusia untuk selalu terikat dengan sesamanya dalam urusan dunia. Pada langkah/proses latihan, manusia yang senantiasa tekun dalam menempa dirinya akan mengambil peranan dominan dalam menolong penyelamatan sesama jiwa manusia, khususnya dari reduksi kemanusiaan yang tenggelam dalam hasrat, gairah, nafsu urusan dunia.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s