Matahati Pekerjaan

Posted on

Tidak jarang kita mendengar adanya fenomena “gila kerja” atau istilah yang lebih trendnya workalholic di sekiling kita, atau minimal di lingkungan kerja kita. Apakah kita ternyata juga termasuk yang sangat menyenangi pekerjaan atau terobesesi dengan pekerjaan atau terikat oleh pekerjaan seringkali secara umum dipandang sebagai orang yang gila kerja. Adakah masalah dengan hal itu? Apabila dilihat dari sudut pandang batasannya tentu setiap orang akan berbeda-beda. Mereka yang rajin dan tekun dalam bekerja akan melihat kegiatan bekerja sesuai jam kerja sebagai hal yang wajar, bahkan dengan tambahan berupa lembur di luar jam kerja juga masih diterima dalam kewajaran. Tetapi bagi mereka yang malas bekerja, melihat kegiatan yang rutin-pun sudah dianggap sebagai terlalu rajin karena alasan gaji cuma “segini”, apalagi apabila melihat kegiatan lembur akan muncul tuduhan cuma cari-cari tambahan uang lembur saja. Dalam tulisan ini kita tidak akan menyoroti fenomena gila kerjanya, tetapi lebih pada bagaimana  matahati menempatkan pekerjaan dalam kehidupan kita.

Tetapi dalam titik yang paling ekstrim, kita akan melihat kerajinan bekerja di atas rata-rata yang dimiliki oleh mereka yang sangat-sangat rajin sampai-sampai mengabaikan urusan lain. Semuanya terfokus pada pekerjaan semata, dan segala potensi hidupnya dikerahkan untuk pekerjaannya. Tentu saja tidak aneh bila manusia jenis ini akan sukses besar, namun biasanya ada ketidakseimbangan dalam hidupnya karena banyak kekosongan dalam urusan yang diabaikannya.

Matahati melihat pekerjaan dalam mencari rezeki dan nafkah tidak dikendalikan oleh ambisi, tetapi lebih dimotivasi oleh gairah yang senantiasa segar. Di dalamnya ada tanggung jawab (kewajiban), ada kreatifitas penciptaan, ada kecerdikan kalkulasi, ada kerajinan dan ketekunan, serta ada keadilan. Kata keadilan adalah memberikan porsi yang sewajaranya pada pekerjaan.

Pekerjaan bukanlah jati diri kita. Meskipun misalnya profesi dokter melekat pada seseorang, hal itu tidak berarti dia harus berperan sebagai dokter setiap detiknya bukan? Ada kalanya kita berperan sebagai seorang ayah atau ibu, berperan sebagai seorang anak, sebagai anggota keluarga, sebagai pengurus organisasi, sebagai orang yang beragama, sebagai pribadi, dst…dst. Pekerjaan hanya salah satu dari sekian banyak peran yang menanti kita untuk menyentuhnya.

Hidup kita terlalu dalam dan luas untuk dipersempit dalam perjuangan meniti karir yang kita labelkan sebagai jatidiri kita. Salah-salah jati diri kita malahan terserap dalam lilitan jenjang karir kita, yang akhirnya akan mempengaruhi kepribadian sejati yang seharusnya tidak goyah oleh label-label keberhasilan duniawi. Adalah hal yang wajar apabila karir kita bersinar dan mencapai posisi tertinggi sebagai Direktur perusahaan, sebagai seorang Jenderal, sebagai seorang Dokter spesialis, sebagai seorang Profesor ahli, dan segudang label lainnya yang memiliki kelas atau posisi tinggi di mata masyarakat, kemudian kita diperlakukan “istimewa”.

Hal yang perlu disadari adalah bahwa keistimewaan itu tidak bersifat permanen dan sekali lagi label keberhasilan duniawi itu bukanlah jati diri kita. Label-label itu adalah bagian dari proses hidup kita yang telah menempuh berbagai rintangan. Tidak ada bedanya dengan proses belajar hidup yang terus kita lalui setiap detik, menit, jam, hari, minggu, bulan, dan tahun.

Dengan demikian, matahati kita akan melihat bahwa tidak ada ruang untuk kesombongan dengan segala label-label duniawi tersebut. Apa yang sering terjadi disekeliling kita adalah keterikatan pada identitas pekerjaan telah mereduksi potensi manusiawi yang yang lebih luas. Kita senang berpegangan pada keberhasilan sempit di dunia pekerjaan. Kemudian muncul fenomena kegagalan dalam rumah tangga, dalam hubungan sosial, dalam sudut pandang agama, atau bahkan dalam pencarian makna hidup kita masing-masing.

Kita terlalu sibuk dengan pekerjaan yang telah menjadi identitas diri kita, sampai-sampai waktu kita habis dan akhirnya dalam keheningan menjelang ajal kita baru tersentak kaget bahwa hidup ini bukan semata-mata untuk pekerjaan. Ada keterlupaan pada tanggung jawab yang lain yang juga melekat dalam perjalanan hidup kita.

Matahati yang jernih akan menempatkan pekerjaan sebagai bagian dari proses hidup yang teramat luas. Tidak ada ketakutan atau kekhawatiran dalam melihat pekerjaan dan upaya pencarian rezeki atau nafkah, karena suatu pekerjaan bukanlah segalanya dalam hidup kita. Namun dengan niat baik, pekerjaan yang baik akan dapat kita kerjakan dengan baik, dan hasilnya adalah limpahan rezeki yang baik pula. Besar kecilnya rezeki lebih ditentukan oleh cara pandang kita terhadap rezeki yang kita terima. Rasa syukur akan menciptakan pribadi yang berkecukupan, sementara tidak adanya rasa syukur hanya akan melahirkan keserakahan yang akan menjerumuskan kita.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s