Masalah Kita

Posted on Updated on

Mengapa segala sesuatu yang kita sentuh dalam kehidupan ini kita pandang sebagai masalah? Mamah!!! Ibu!! sejak kita bayi setiap kali ada “masalah” kita berseru, berteriak, bahkan menangis, merengek pertolongan orang tua kita. Demikianlah awal kehidupan kita telah mendefiniskan hal-hal yang “baru” dan “asing” baik berupa pelajaran, benda maupun sifat, kita lakukan pendekatan coba-coba dan secara umum kita pandang sebagai “masalah”. Jadi tidaklah mengherankan bila kemudian kita tumbuh berkembang dalam perjuangan menghadapi satu masalah ke masalah lainnya.

Tidak ada yang aneh dalam cara pandang kita akan masalah kehidupan terlepas dari berat ringannya, hampir setiap aspek kehidupan bisa kita permasalahkan. Ketika kita sedang belajar berdiri dan berjalan, bukankah hal itu merupakan masalah besar bagi seorang anak manusia. Namun kegigihan, tangisan akibat jatuh, serta usaha berulang-ulang akhirnya membuahkan hasil kita bisa berdiri dan berjalan. Lalu mengapa ketika kita menjadi dewasa kegigihan tersebut tidak sekuat ketika kita sedang belajar berdiri dan berjalan?

Melemahnya kekuatan hati dalam menjalani kehidupan kita banyak disebabkan oleh faktor mentalitas dan kebiasaan-kebiasan atau kecenderungan. Dalam suatu situasi yang sangat parah, kita akan sangat tergantung pada pertolongan orang lain. Dalam situasi lain, kita akan terdorong untuk melakukan kejahatan/keburukan untuk memecahkan permasalahan yang kita hadapi.

Dalam kelemahan hati, seringkali kita juga berlindung pada kesesatan logika menghalalkan keburukan demi survival atau demi kebaikan. Misalnya menyontek demi kelulusan, mencuri untuk makan, korupsi untuk sekolah anak, dst. Atau sangat sering kita mendengar keluhan bahwa masalahnya sangat besar sehingga seolah-olah esok akan kiamat.

Masalah menjadi besar manakala porsinya memang besar dan menghisap sebagian besar daya kehidupan kita. Misalnya ketika kita dihadapkan dengan upaya penyelesaian konflik berdarah yang berpotensi melahirkan perang yang berkepanjangan. Atau misalnya kita dihadapkan pada sejumlah pilihan sulit untuk mengambil kebijakan di tingkat negara atau perusahaan yang berada dalam krisis berat. Bisa juga karena kita cara pandang kita yang membuat masalah itu menjadi besar. Dalam soal cara pandang inilah yang seringkali menjerumuskan kita pada kelemahan dalam mengambil keputusan yang tepat.

Kita sering berdo’a dalam harap untuk dijauhkan dari masalah. Mungkinkah do’a semacam itu dikabulkan? Logikanya adalah masalah itu bersifat ajeg dan ada begitu saja, kita berada dalam posisi pasif ataupun pasif masalah itu akan tetap menyentuh kita. Sehingga akan lebih tepat bila kita bertekad dalam do’a untuk memperkuat diri sekaligus diperkuat dalam menghadapi badai persoalan. Dengan demikian, ukuran berat-ringan atau besar-kecilnya masalah tidak lagi menjadi monster yang terus menakut-nakuti langkah kita.

Yang benar akan tetap benar, dan yang bathil selamanya bathil. Bila kita menyentuh kebenaran akan ada rasa nyaman dan kemantapan dalam menghadapi setiap masalah. Namun bila kita menyentuh kebathilan, maka langkah sentuhan kita itu sudah menjadi masalah, lalu bila kita lari akan semakin besar masalahnya dan akan terus menghantui perjalanan hidup kita.

Peranan matahati kita dalam memahamkan setiap peristiwa yang kemudian kita definisikan sebagai masalah sangatlah besar. Kebutaan matahati kita akan menjerumuskan kita dalam trauma, kecenderungan, atau kepengecutan, sehingga respon-respon kita akan terselubungi oleh was-was. Padahal masalah itu ada untuk dihadapi, dan hanya dengan masalah yang hadir silih berganti, hati dan matahati kita akan semakin kuat dan jernih.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s