Kecenderungan

Posted on Updated on

Mengapa kita memiliki suatu kecenderungan pada sesuatu, pada keadaan, atau bahkan pada sifat. Apakah hal itu benar-benar jatidiri kita sebagaimana kita ketahui dengan akal dan hati kita, ataukah hal itu kumpulan kenangan yang ada dalam memori kita, tentu memerlukan kewaspadaan. Contoh yang sederhana misalnya kecenderungan pada makanan tertentu, kecenderungan pada kemalasan, dan kecenderungan ingin diperhatikan. Hal itu wajar dirasakan oleh kita semua sebagai bagian dari unsur kemanusiaan yang berproses dalam kehidupan kita.

Tetapi hal yang terpenting adalah bahwa tidak selayaknya kita tenggelam dan membiarkan kecenderungan kita tersebut menjadi pengendali dalam kehidupan kita. Dalam ragam perjalanan kita yang berbeda-beda terbina suatu kecenderungan yang akan menciptakan otomatisasi respon yang dominan dalam perilaku kita. Apabila kita gemar dengan makanan yang manis dan berlemak, maka kita akan memasuki sebuah lingkaran kecenderungan-efek-ketergantungan-efek yang akan terus menerus diperkuat. Kecenderungan untuk mengalami obesitaspun menjadi tidak terhindarkan karena badan kita pada dasarnya menyerahkan pengelolaannya sepenuhnya kepada kita.

Dalam kasus yang lain misalnya dalam kebiasaan merokok dan meminum minuman beralkohol. Lebih dari itu, kebiasaan-kebiasaan dalam melakukan sesuatu juga akan mendorong pada kecenderungan tertentu, misalnya rajin bangun pagi dan atau rajin bekerja.

Namun sekali lagi apapun dan betapapun buruk dan baiknya kecenderungan kita tersebut, harus ada kewaspadaan untuk memperhatikan bahwa seringkali kecenderungan itu hanya kumpulan sensasi dan bukan hakikat dari diri kita yang sedang melakukan perjalanan di alam dunia ini. Kecenderungan untuk terikat dengan dunia sering membuat kita lengah dan lupa bahwa waktu perjalanan kita tinggal sedikit lagi dan kita harus telah mempersiapkan modal perjalanan berikutnya.

Sebaliknya kecenderungan untuk tenggelam dalam urusan bukan duniawi bukannya tanpa resiko karena ketersesatan dalam ilusi juga menanti disana. Dengan pengecualian orang-orang pilihan seperti para nabi dan rasul, maka sebagian besar penempuh jalan kegaiban terjebak dalam ilusi dan elemen dimensi yang tidak bisa dijelaskan oleh nalar manusia. Andaikatapun kita mencoba menjelaskannya, hal itu akan tampak sebagai sebuah fenomena kegilaan dan akan ditolak masyarakat.

Lalu bagaimana sebaiknya kita menghadapi kecenderungan kita sendiri? jawabnya sederhana yaitu mulailah untuk memperhatikan kecenderungan kita apapun bentuknya, dari waktu ke waktu sebagai sebuah catatan yang secara cermat diperhatikan oleh matahati kita. Dari waktu ke waktu tanpa mengenal lelah, pada suatu saat kita akan tercengang bahwa ternyata pengendali perilaku kita bukanlah memori kecenderungan, melainkan “kita” dalam definisi yang dalam penuh kekuatan.

Tanpa terjebak dalam khayalan atau harapan akan keajaiban dan pengungkapan kegaiban, tanpa harus menempuh studi mendalam tentang psikologi manusia, atau bahkan tanpa praktek-praktek ritual yang menyiksa tubuh kita, matahati kita akan mampu melihat dunia dari sisi yang benar-benar baru dan benar-benar berbeda.

One thought on “Kecenderungan

    Masalah Kita « Matahati Kita said:
    Februari 5, 2008 pukul 9:37 pm

    […] Kita « Kecenderungan Masalah Kita Februari 5, 2008 Mengapa segala sesuatu yang kita sentuh dalam kehidupan ini […]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s