Rasa yang Bercampur

Posted on Updated on

Ketika tangan kita terluka, rasa sakit akan segera muncul dan sebagian besar kita akan menterjemahkannya dengan keluhan aduhh…tanganku sakit. Ketika kita diputus cinta, ssshhh rintihan hati yang berseru lirih segera terasa dan sebagian dari kita akan menterjemahkannya dengan lelehan air mata, kemurungan, atau hilangnya gairah hidup. Pada umumnya kita akan melimpahkan rasa keluh kesah penderitaan hidup itu sebagai aku yang menderita. Demikian pula dalam berbagai penderitaan hidup dalam kemelaratan, dalam penyakit, dalam kesepian, ketika ditinggal mati orang yang kita sayangi, ketika gagal, ketika jatuh dari kejayaan, serta beragam peristiwa kehidupan yang kita hayati sebagai derita.

Sebaliknya, ketika kita dalam keadaan sehat, mendapatkan keberuntungan, merasakan kebahagiaan, memperoleh jodoh yang baik, mendapatkan rezeki yang cukup, serta berbagai wujud yang menyenangkan hati kita, maka kita terjemahkan situasi tersebut dalam refleksi senyuman bahagia, puas, atau bahkan tawa riang.

Namun ternyata bila matahati kita tidak cukup waspada, kita sering tertipu dengan rasa di hati kita. Apa-apa yang kita rasakan sebagai kebahagiaan menyimpan kekhawatiran bahwa kebahagiaan itu akan berakhir dan penderitaan sudah menanti. Sebaliknya dalam penderitaan, akan selalu ada harapan dan dambaan datangnya kebahagiaan/kesenangan. Dengan demikian terjadi percampuran rasa yang sesungguhnya harus kita resapi sebagai kenyataan/realita mekanisme kerja hati kita.

Sayangnya kita cenderung lupa bahwa tidak ada kekekalan rasa senang ataupun rasa susah di dunia ini. Setiap peristiwa terjadi dari satu titik momen ke titik momen berikutnya, sehingga sewaktu-waktu bisa terjadi perubahan drastis yang akan kita respon dalam perubahan rasa di hati kita. Meskipun misalnya kita dalam keadaan miskin dan serba susah, detik-detik rasa senang bisa kita rasakan dalam kedamaian ketika berdoá, ketika masih bisa kumpul keluarga, atau ketika masih punya sepotong roti kering untuk mengganjal lapar. Sebaliknya dalam berlimpahnya harta, detik-detik rasa susah akan menyapa dalam kesombongan yang menjerumuskan pada perselingkuhan, penyakit akibat mengkonsumsi makanan “enak”, dalam perceraian, dalam perebutan harta, serta segudang persoalan hidup.

Bercampurnya rasa di hati kita akan terlihat dan terasa manakala ada pemahaman yang benar atas setiap rasa yang silih berganti hadir di hati kita. Setiap kita menjalani kehidupan yang unik dan berbeda dengan suka dan dukanya masing-masing. Lebih jauh lagi, rasa senang dan rasa susah juga terkait erat dengan enak (nyaman) dan tidak enaknya (tidak nyaman) rasa yang tercipta di hati kita. Memahami bahwa dunia ini tempat yang dinamis dengan berbagai rasa yang silih berganti tercipta di hati kita setidaknya akan memperterang perjalanan hidup kita yang beraneka ragam.

Pada suatu ketika ada pertanyaan di hati, bagaimana dengan seorang anak manusia yang lahir kemudian menderita kelaparan/busung lapar dan kemudian mati? Penderitaan dari kemiskinan absolut dimana kebutuhan paling dasar berupa makanan dan minuman saja tidak bisa terpenuhi, kira-kira bagaimana rasa di hati sang anak tersebut? pernahkah hadir rasa senang di hati anak tersebut? Dalam jangka waktu kehidupan yang sangat singkat tersebut hanya ada rasa sakit sebagai akibat dari kelaparan. Jawabnya…hanya tetesan air mata yang mengalir deras dalam pertanyaan misteri hidup manusia, mengapa terasa sakit ?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s