Mema’afkan

Posted on

Belakangan ini berita tentang kondisi mantan Presiden Suharto terus menerus terdengar di radio dan newsflash TV. Perkembangan kondisi kritis kesehatan mantan orang nomor satu di era Orde Baru tersebut juga diwarnai oleh perdebatan tentang status hukum, pengampunan, serta mekanisme penyelesaian persoalan yang masih menggantung. Bagaimana matahati kita melihat persoalan itu?

Untuk kekeliruan/kesalahan ataupun dosa yang tidak terasa langsung kepada diri kita mungkin urusan mema’afkan akan dianggap enteng, apalagi apabila orang yang dianggap keliru tersebut juga orang yang banyak berjasa. Tetapi bagi mereka yang pernah tersakiti secara langsung,  tentu akan berbicara lain, sehingga tidak mengherankan bila pro-kontra di seputar status hukum mantan Presiden Suharto menjadi tetap menggantung.

Banyak sisi dan banyak argumentasi yang bisa dikemukakan untuk menyelesaikan dengan jalan pintas seperti kemanusiaan dll, dan inilah yang biasanya digemari oleh kita orang Indonesia. Daripada ruwet berkepanjangan dalam meja pengadilan, akan lebih simple bila ada penyelesaian di luar hukum. Namun bagi mereka yang menganggap hukum di atas segalanya dengan asas keadilan, maka cara-cara yang menomorduakan penegakkan hukum adalah penghianatan besar dari amanat rakyat kepada pemerintah.

Memang terasa kurang etis, bila ditengah-tengah kondisi kritis seorang manusia, kita terlalu banyak berdebat soal masalah di sekeliling manusia tersebut.  Tetapi demikianlah jalan yang harus ditempuh oleh mantan Presiden Suharto, kontrversi kehidupannya menjadi perbincangan pro dan kontra di tengah-tengah masyarakat. Suatu keadaan yang sangat jauh dari idealnya dari ujung perjalanan paska kekuasaan dengan lengser keprabon, mandeg pandito selama kurang lebih 10 tahun jalan.

Seorang pandito, dalam definisi pidato tahun 1998, Pak harto menjelaskan bahwa makna pandito adalah; “Pertama, mendekatkan diri pada Tuhan Yang Maha Kuasa. Yang
kedua, mengasuh anak cucu dan cicit supaya menjadi orang yang berguna bagi
negara dan bangsa. Kepada masyarakat akan memberi saran-saran, atau ‘wur-wur
sumbur.’ Kepada penguasa, tut wuri handayani.” Sebuah campuran filosofis Jawa antara pewayangan, Raja Jawi kuno, suluk Jawa, ajaran Ki HajarDewantoro, dan nasionalisme.

Dalam kosmologi Jawa yang lebih dalam, madeg pandito seharusnya benar-benar totalitas pengabdian pada Yang Maha Tunggal (dalam rangka Manunggaling Kawula Gusti), bukan lagi mendekatkan pada Yang Maha Kuasa. Meskipun namanya banyak dalam beragam sifat, hakikat kesatuan dan keesaannya menjadi puncak refleksi seorang pandito yang paripurna. Akibat dari proses penunggalan tersebut maka secara teori, persoalan-persoalan duniawi sudah bisa diselesaikan dengan segera.

Namun ternyata alam semesta, baik dari faktor subyek, obyek dan lingkungan justru menciptakan kondisi tergantung belum terselesaikan. Sungguh, seorang manusia sejati tanah jawa akan menangis darah betapapun dinginnya hati. Dengan demikian, penghakiman situasi, kondisi yang menyebabkan tidak tercapainya kondisi ideal seorang jalan akhir seorang pandito cukup menyesakkan.

Apakah kita akan masa bodoh dengan kondisi obyektif yang sedang dialami mantan pemimpin nasional kita? Bagaimana bila kita sedikit mengingat penderitaan mantan Presiden Sukarno dalam tahanan rumah dan dalam keadaan sakit? Mengapa kita rakyat biasa mesti menyaksikan contoh-contoh hancurnya kekuasaan secara tragis yang dalam kosmologi Jawa teramat sangat tidak ideal. Tidak tercipta heroisme total, tidak membuminya kecintaan rakyat, kurangnya penghargaan, bahkan masih ada tuntutan.

Untuk urusan formal, semoga pemerintah Indonesia mampu mencari jalan terbaik bagi penyelesaian masalah hukum mantan Presiden Suharto. Untuk urusan matahati, pertanyakan kepada hati kita masing-masing, mengapa ada beban dalam melapangkan dada kita untuk mema’afkan Pak Harto, atau mengapa tidak ada beban dalam ketulusan mendo’akan yang terbaik untuk Pak Harto.

Sebagai orang biasa tanpa kepentingan, tanpa ingin tampil, tanpa kedekatan dengan kekuasaan, tanpa motivasi ambisi pribadi, tanpa desakan, tanpa tekanan, tanpa rasa tidak enak, semuanya dalam keadaan yang dingin dan lapang. Mungkin dalam keadaan itu, kita malahan akan belajar sebuah hakikat perjalanan hidup yang sungguh teramat berharga, sehingga kita akan lebih berhati-hati dalam menjalani hidup kita. Kita akan abai dengan perdebatan pro-kontra, dan akan melihat sisi manusiawinya tanpa menyingkirkan fakta hukum, karena itu semua harus diyakini oleh matahati kita sebagai yang terbaik bagi perjalanan seorang mantan penguasa yang menjadi pandito sejak 10 tahun silam.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s