Matahati & Pengulangan Kekeliruan

Posted on

Disadari ataupun tidak, kita memiliki kecenderungan mengulangi kekeliruan yang pernah terjadi di masa lalu. Bahkan apabila kita telah melakukan tekad untuk tidak mengulangi kekeliruan tersebut, tekad tersebut tidak bulat utuh, melainkan lonjong atau penyok sana-sini sehingga untuk tergelincir kembali dalam kesalahan yang sama mudah terjadi. mengapa demikian?

Pengulangan perbuatan kita disebabkan oleh oleh berbagai faktor dan alasan. Faktor pendukung terjadinya pengulangan perbuatan berasal baik dari dalam diri kita sendiri maupun dari luar yang merangsang pengulangan perbuatan tersebut. untuk perbuatan-perbuatan yang wajib untuk survival (makan-minum), lumrah, baik, menyehatkan, serta berbagai refleksi kebutuhan yang positif bagi kehidupan, biasanya sudah tidak ada pertanyaan lagi.

Kita semua sama-sama paham bahwa pengulangan perbuatan minum dan makan merupakan sesuatu yang tidak terhindarkan bagi kita. Sementara itu, perbuatan yang positif ada juga yang bersifat pilihan karena tidak terkait langsung dengan hidup mati diri kita, misalnya menolong orang serta berbagai peran positif lainnya yang bisa kita lakukan dan bisa kita abaikan.

Mengulangi perbuatan yang baik bagi diri kita, bagi orang lain, bagi lingkungan alam , dan bagi berbagai mahluk hidup hampir tidak pernah, dan memang tidak perlu dipertanyakan lagi mengapa. Karena pengulangan perbuatan baik tidak menciptakan kontradiksi atau perasaan tidak nyaman dalam diri kita.

Lalu apa bedanya dengan mengulangi kekeliruan atau perbuatan buruk? Serta bagaimana pula dengan peranan matahati kita dalam mendorong terjadinya pengulangan atau penghentian perbuatan buruk atau kekeliruan dalam perjalanan hidup kita?

Perbedaan yang sangat jelas dalam pengulangan kekeliruan atau perbuatan buruk adalah pada dampaknya yang bisa rasakan langsung baik secara lahir maupun bathin. Contohnya pengulangan perbuatan menghisap rokok yang telah sama-sama diyakini akan merusak kesehatan adalah sebuah fenomena yang unik. Pada satu sisi ada pemahaman yang cukup tentang pentingnya menghentikan kebiasaan merokok, tetapi pada sisi lain ada kerinduan lahiriah dan bathiniah untuk menghisap rokok.

Apabila kita beragumentasi dengan pentingnya kesehatan psikologis yang ditandai dengan ketenangan, maka perbuatan merokok ternyata juga menghasilkan rasa tenang, bahkan para perokok akan merasa gelisah bila tidak menghisap rokok. Namun apabila kita berargumentasi bahwa merokok akan membawa kematian, maka secara lahiriahnya para perokok tidak menjadi sedemikian penyakitannya dibandingkan dengan non-perokok apalagi dalam kondisi udara perkotaan yang semakin buruk dan produk rokok sekarang sudah menurunkan banyak kandungan racunnya.

Berbicara mengenai racun, apakah ada jaminan bahwa kita tidak memasukan racun ke dalam diri kita setiap harinya. Makanan yang secara lahiriah mengandung bahan berbahaya seperti residu pestisida, pupuk non-organik, bahan pengawet, pewarna buatan, dll seringkali secara bathiniahnya juga mengandung sesuatu yang meragukan, misalnya dari mana dan bagaimana kita memperolehnya.

Mekanisme pengulangan perbuatan yang keliru sesungguhnya telah melalui urutan langkah yang cukup kompleks yang bekerja begitu cepat dalam diri kita, dan ketika kita melakukannya lagi untuk kesekian kalinya ada mekanisme penyesalan yang biasanya berupa rasa tidak enak. Namun apabila rasa tidak enak tersebut kita tindas maka sensitifitasnya menjadi lemah dan lama-kelamaan kita sudah tenggelam dalam pengulangan perbuatan yang keliru.

Matahati tidak dalam posisi mengadili setiap perbuatan yang telah berlalu, sedang dilakukan ataupun akan dilakukan. Matahati kita merupakan bagian dari mekanisme manusiawi yang berfungsi sebagai pembeda hakiki dari perbuatan yang baik dan buruk. Meskipun kita tidak merasakannya, matahati kita niscaya akan menangis manakala kita terlalu lama tenggelam dalam lautan perilaku keliru. Namun teriakan tangisan matahati tidak lagi dapat terdengar karena kita telah membangun tembok yang sangat tebal yang mendindingi matahati kita, sehingga sepertinya kita telah menjadi buta.

Betapapun beratnya penyesalan yang kita tanggung sebagai akibat perbuatan yang keliru, Matahati tidak akan merajam kita dengan kesakitan bahkan secara lembut akan membimbing kebangkitan kita dengan semangat dan harapan baru tentang meninggalkan perbuatan yang keliru. Matahati juga tidak akan mengeluarkan vonis terkutuk pada diri kita karena luasnya kesempatan yang diberikan kepada kita untuk memahami hakikat setiap perbuatan dan kita bisa saja jatuh bangun berkali-kali pada perbuatan yang keliru, namun selama kehidupan dunia masih kita hirup, ada kesempatan untuk memperbaikinya dan segera menghentikannya. Dengan demikian penglihatan matahati akan kembali jernih sebelum kita pulang kembali ke Yang Maha Pencipta. 

Catatan: kekeliruan dalam tulisan ini digeneralisir dan tidak dibedakan berdasarkan level atau tingkatan besar dan kecilnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s