Matahati Menangis

Posted on

Menangis merupakan salah satu mekanisme fisik yang mewujud dari refleksi gejolak hati kita yang didominasi oleh rasa terharu, sedih, sakit, tertekan, tertahannya marah, serta berbagai campuran dari suasana di dalam diri kita maupun sebagai pengaruh dari luar diri kita. Seringkali, ketika sesuatu yang menyakitkan terjadi terhadap diri kita, atau ketika rencana, harapan dan keinginan tidak tercapai, pada saat itu kita cenderung untuk merasakan sempitnya dada kita dalam beban rasa yang tidak tertahankan, dan menitiklah air mata kita… menangis atau ingin menangis.

Dari sudut pandang kreatifitas, menangis adalah refleksi yang paling dasar dan kurang kreatif karena tidak mewujud dalam sebuah karya. Namun bila kita adalah seorang yang kreatif, akan lahir karya sastra berupa prosa, novel, puisi, lagu, lukisan serta berbagai wujud karya lainnya yang merupakan refleksi tangisan hati kita. Refleksi yang paling menyedihkan adalah rasa ingin mengakhiri hidup sebagai jeritan perihnya rasa di hati.

Semua itu adalah realitas-realitas yang tak kan mungkin seragam bagi setiap manusia di dunia. Refleksi tangisan itu akan sangat beragam sebanyak perbedaan karakter individu-individu.  Sehingga rasanya tidak adil bila kita bersikap satu arah mendikte kondisi hati yang sedang hancur dalam kesedihan. Kita dengan entengnya bisa berkata Jangan Bersedih namun kita tidak bisa memaksakan suatu bentuk refleksi dari tangisan hati. Empati atau simpati moral matahati kita atas rasa yang sedang ditanggung saudara kita adalah langkah awal untuk memahami kondisi obyektif saudara kita yang sedang menangis. Kadangkala matahati kita pun tergerak untuk turut meneteskan air mata sebagai suatu pemahaman situasi dari luar diri kita. Kita dapat turut tersungkur dalam keheningan rasa haru atas situasi yang ada di sekitar kita.

Tangisan matahati bisa menjadi mekanisme penjernihan penglihatan bila pada saat yang bersamaan kesadaran memahami makna tangisan itu dan disaksikan sendiri. Karena adakalanya tangisan itu juga menjadi refleksi ego yang tidak bisa menerima keadaan atau sebagai suatu bentuk penolakan realitas, akibatnya tangisan itu akan berlangsung dalam waktu yang relatif lama. Sebaliknya penerimaan keadaan dengan tangisan juga bisa mengarah pada penyerahan yang dekat dengan keputusasaan.

Lalu seperti apa seharusnya tangisan itu? Tidak ada patokan atas bentuk dan makna tangisan, karena hal ini berada dalam ruang terdalam masing-masing kita, yang diperlukan hanya suatu kesadaran rasa yang diperkuat kejernihan akal untuk melakukan kontemplasi sesaat dalam kepedihan suasana yang sedang dihadapi.

Dalam ajaran agama, ajaran kebathinan, ajaran moral dan filsafat, menangis seringkali dipertautkan dengan penyadar keadaan manusiawi yang lemah sehingga uncullah konsep penyerahan diri pada Yang Maha Kuasa. Runtuhnya kesombongan serta pengantar pada kekhusyukan atau keheningan hati, jiwa dan akal kita. Bahkan kita sering menyaksikan terjadinya tangisan histeria dalam prosesi taubat yang banyak dinilai sebagai metode pengobatan yang paling mujarab atas penyakit yang membebani hati. Hal itu sah-sah saja sepanjang tidak berhenti hanya dalam batas pengeluaran sampah hati, sampah psikologis, ataupun sugesti diri bersih kembali setelah menangisi dosa.

Akan lebih penting untuk memahai setiap kondisi dari waktu ke waktu, sehingga kita tidak akan berputar-putar dalam pemujaan diri sendiri dalam bentuk menipu diri sendiri, menghibur diri sendiri, membenarkan diri sendiri, atau justru menyalahkan diri sendiri, menyiksa diri sendiri, dan dan semakin terpojok dalam kenistaan hidup.

Refleksi matahati menangis merupakan respon manusiawi yang lumrah dan bersyukurlah bila masih bisa menitikkan air mata. Namun, tetesan air mata akan menguap begitu saja jika tak ada kesadaran segenap hati, jiwa dan akal dalam situasi kontemplatif sesaat yang benar-benar paham mengapa air mata kita meleleh di pipi kita.

salam matahati

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s