Jalan Orang Biasa

Posted on Updated on

Menggunakan matahati tidaklah identik suatu kondisi ideal imajiner yang mempersyaratkan penglihatan yang jernih. Apabila cerminan penglihatan matahati mengacu pada manusia-manusia “pilihan” baik dari level tertinggi utusan Tuhan, sampai pada guru-guru pencerahan di berbagai pelosok negeri, tentu kita akan dihadapkan pada inferioritas psikologis yang penuh apologia. Ah…aku kan manusia biasa yang lemah! Apakah dengan demikian menggunakan matahati menjadi hal yang teramat sulit dan bahkan mustahil?Keterjebakan kita dalam memahami diri kita sendiri seringkali disebabkan oleh adanya acuan atau standar tertentu yang mungkin kurang pas. Memang benar bahwa contoh yang baik bisa mengacu pada perilaku para Rasul, Nabi dan orang-orang yang menempuh jalan pencerahan. Namun untuk dapat menggunakan matahati, apakah lantas kualitas diri kita harus dipersyaratkan seperti para Nabi? Dimana keadilan begitu tentunya hati kita akan berteriak, lantas apakah kita termasuk bukan orang pilihan sehingga tidak mampu menggunakan matahati? Seorang utusan Tuhan-pun hakikatnya adalah manusia dengan segala potensinya seperti kita. Kita bisa mengambil manfaat dengan mencontoh atau mengikuti ajaran para Nabi, yang mana salahsatunya bisa dipastikan akan terkait dengan risalah hati.

Ketika kita bercermin pada ketauladanan seorang arif, maka hal itu sah-sah saja dan sangat mungkin akan membimbing jalan kita pada penggunaan matahati dengan baik. Namun ketika kita mempersyaratkan diri untuk menjadi arif baru kemudian kemampuan untuk menggunakan matahati lahir, maka kita justru berputar-putar dalam cita-cita menjadi arif dengan mengabaikan matahati kita.

Sesungguhnya matahati sangatlah mendasar sebagaimana potensi-potensi manusia lainnya. Persoalannya terletak pada idealisasi posisi matahati dan tantangan serta godaan duniawi yang cenderung menyingkirkan matahati. Pada saat kita mulai gelisah dan menjadi sadar untuk menggunakan matahati, maka beragam hal yang lain juga ikut bergabung dan minta perhatian. Apakah hal-hal yang lain tersebut berada dalam posisi berlawanan dengan matahati. Belum tentu!, karena potensi-potensi melihat mendengar, merasa, mencium, serta yang lainnya pada dasarnya netral dan tidak memiliki nilai tertentu. Seharusnya matahati berposisi sebagai pengambil keputusan berdasarkan pada data-data yang disampaikan oleh potensi-potensi manusiawi yang melekat pada diri kita.

Jalan Orang Biasa adalah kewajaran dalam sebuah fenomena umum dari manusia. Kita tidak perlu menyiksa diri untuk dapat menggunakan matahati, namun segala macam pengalaman dalam perjalanan hidup kita justru menjadi bahan bagi terbukanya matahati. Andaikatapun kita melakukan upaya peniadaan diri dengan suatu ketaatan yang sangat ketat seperti puasa terus menerus pada periode tertentu, hal itu sangat tergantung pada tujuannya. Jika tujuannya untuk mencapai suatu kenikmatan duniawi, maka apa bedanya dengan kerja keras memerask otak dan kreatifitas kita?

Matahati bersifat instant dan sudah ada dalam diri kita dan siap dipergunakan kapan saja kita mau. Tujuannya bukan untuk pencapaian sesuatu melainkan untuk menerangi setiap keadaan yang kita hadapi dan responnya juga selalu wajar dan tidak berlebihan. Dengan demikian hal ini juga menjadi jalan orang biasa.

Manusia biasa seringkali diidentikkan dengan hal-hal yang biasa pula serta tidak ada yang istimewa. Lantas apakah dengan menjadi orang biasa maka kita dianggap sebagai kurang berhasil dalam kehidupan kita? Siapa yang melakukan penilaian sesungguhnya?

Di mata manusia, keberhasilan seseorang dalam urusan dunia sering dianugerahkan label sukses. Keterkenalan/popularitas, kekayaan, kekuasaan, kepemilikan, status sosial, serta berbagai atribut lainnya menjadi indikator keberhasilan. Tetapi apakah semua orang yang kita kagumi dengan atribut duniawi tersebut telah menggunakan matahatinya? Mengapa dalam sejarah tercatat ada pemimpin yang kejam (tidak punya hati), ada orang terkenal yang bunuh diri, ada orang kaya dari hasil mencuri, serta berbagai hal yang bila kita tanyakan pada hati kita masing-masing akan menimbulkan keprihatinan.

Adalah masyarakat yang memberikan label-label tertentu pada individu. Apakah lantas menempuh jalan orang biasa berarti menutup diri dari kejayaan hidup di dunia, tentu tidak bukan?  perjalanan yang kita tempuh adalah dalam jangkauan potensi diri secara optimal dan hal itu kita anggap biasa dan wajar, lalu apabila hasilnya dianggap masyarakat sebagai sesuatu yang luar biasa, apakah label masyarakat akan tetap biasa?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s