2008

Posted on Updated on

365 hari akan kita jelang selama tahun 2008, adakah yang istimewa ketika kita melalui waktu demi waktu tersebut. Tampak berbagai kegiatan yang dilakukan manusia menutup tahun 2007 dan membuka tahun 2008. Sebagian berkumpul di rumah dengan menyantap barbeque daging maupun sekedar jagung bakar, sebagian lagi bersama keluarga berkumpul di tempat keramaian pusat kota, sebagian lagi menikmati keindahan kembang api, sebagian bersama kawan sahabat menonton pertunjukan musik dan seni, sebagian lagi tidak melakukan apa-apa dan menganggapnya sama saja dengan hari biasa, sebagian melakukan zikir bersama mengingat kebesaran Tuhan, sebagian melakukan retreat dan perenungan, sebagian memotivasi diri untuk hal-hal yang lebih baik, sebagian melakukan kemaksiatan dengan berbagai fasilitas kenikmatan dunia, sebagian sedang bergelut dengan kesulitan hidup, sebagian lagi sedang dilanda malapetaka bencana alam, sebagian sedang dalam keadaan kesakitan, dst…dst…dst. Mengapa kita perlu menyoroti berbagai refleksi di akhir tahun dan awal tahun. Hal ini tidak terlepas dari cara pandang dan berpikir yang telah turun-temurun tentang “keistimewaan” peralihan tahun, sehingga begitu banyak ragam kegiatan manusia. Tulisan ini tidak menilai benar-salahnya keanekaragaman kegiatan kita tersebut, hanya ingin sedikit mengintip apa kata hati kita tatkala kita mundur sedikit dan melihat apa-apa yang kita lakukan.

Salah satu pertanyaan yang sering muncul di hati manakala menjadi saksi atas perbuatan adalah mengapa. Hal itu sangat umum dan hatipun segera memiliki segudang jawaban yang dipertajam oleh analisa rasio kita. Misalnya saja ketika kita memilih untuk melakukan  zikir bersama, maka ketika  hati bertanya mengapa…segudang jawaban yang baik akan segera terjadi bahkan menambah legitimasi kegiatan tersebut dan hatipun menjadi nyaman. Andaikata ternyata hati kita menjawab “ah..itu kan karena diajak ayah dan ga enak kalau menolaknya”, maka kenyamanan hati sedikit guncang antara apa yang sungguh-sungguh ingin dilakukan dan keterpaksaan karena sesuatu yang lain. Akan terjadi dialog antara menyetujui secara iklash ajakan ayah untuk berzikir dan keinginan untuk melakukan kegiatan lain. Hati secara jujur akan melihat kegiatan berzikir sebagai sesuatu yang baik dan tidak bertentangan, hanya saja ada hal lain yang ingin dilakukan. Ketika kemudian hal lain itu dikalahkan dan pilihan jatuh untuk ikut berzikir, maka pada saat awal landasannya adalah ikut-ikutan semata. Namun bila suasana zikirnya bisa dirasakan secara mendalam, maka hati akan berseru gembira…ah ternyata nyaman sekali mengikuti kegiatan zikir ini.

Contoh ekstrim yang berlawanan adalah ketika ajakan dan undangan untuk maksiat datang. Dari awalnya hati sudah mempertanyakan mengapa, segudang jawaban pun tersedia…untuk pergaulan, memenuhi undangan, mengasyikan, banyak kenikmatan menanti, dst..dst. Bila hati cukup mapan dia akan bisa mencegah niatan maksiat, namun bila tidak cukup kuat, niscaya kita akan meluncur pada kemaksiatan dengan perasaan galau di hati. Bila hati sudah buta, maka kita bisa meluncur pada kemaksiatan dengan tenang bahkan dikuasai oleh fantasi kenikmatan tiada tara.

Lalu bagaimana dengan keadaan yang serba prihatin karena nasib buruk sedang menghampiri. Dalam kaitan ini pertanyaan hati akan tetap ada, entah mempertanyakan keadilan Tuhan, entah menanyakan kapan penderitaan akan berakhir, entah menanyakan hukum sebab akibat.  Hati yang tenang akan menghibur dengan jawaban setelah kesulitan ada kemudahan, jangan bersedih karena takdir harus diimani, pasrahlah pada kuasa Tuhan, dst. Hati yang marah akan mencaci maki dan berprasangka buruk pada Yang Maha Kuasa, hati yang bimbang akan goyah dari keteguhan iman.

Matahati adalah suara kejujuran. Semakin kita dengarkan semakin nyaman hidup kita. Namun manakala situasinya begitu berat dalam tanggungan rasa hati, maka beragam refleksi kemarahan, kebencian, keputusasaan silih berganti terlintas dalam hati.

Pada sisi mereka yang sedang berbahagia, maka keterlupaan biasanya menjadi sangat dominan. Karena sungguh manusia akan merasa aman manakala merasa telah memiliki segala sesuatu.

Oh Tuhan semesta alam, berilah hati kami penglihatan tentan dunia dan hidup kami apa adanya, amin.

Selamat Tahun Baru 2008, semoga matahati kita semakin jernih.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s