<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Matahati Kita</title>
	<atom:link href="http://matahatikita.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://matahatikita.wordpress.com</link>
	<description></description>
	<lastBuildDate>Mon, 08 Aug 2011 10:39:34 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='matahatikita.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Matahati Kita</title>
		<link>http://matahatikita.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://matahatikita.wordpress.com/osd.xml" title="Matahati Kita" />
	<atom:link rel='hub' href='http://matahatikita.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Puasa</title>
		<link>http://matahatikita.wordpress.com/2011/08/08/puasa-2/</link>
		<comments>http://matahatikita.wordpress.com/2011/08/08/puasa-2/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 08 Aug 2011 10:39:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sadadi</dc:creator>
				<category><![CDATA[individu]]></category>
		<category><![CDATA[masyarakat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://matahatikita.wordpress.com/?p=124</guid>
		<description><![CDATA[Puasa atau shaum hanya diwajibkan kepada orang-orang yang beriman sebagai diwajibkan atas umat-umat terdahulu (yang juga beriman), agar menjadi orang yang bertaqwa. Demikian kurang lebih perintah yang yang mewajibkan puasa bagi orang-orang yang beriman dalam Alquran surat Al Baqarah ayat 183. Telah banyak penjelasan-penjelasan mengenai hikmah, manfaat,  rukun, syarat sah, bahkan hingga tingkatan atau level [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=matahatikita.wordpress.com&amp;blog=2388952&amp;post=124&amp;subd=matahatikita&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Puasa atau shaum hanya diwajibkan kepada orang-orang yang beriman sebagai diwajibkan atas umat-umat terdahulu (yang juga beriman), agar menjadi orang yang bertaqwa. Demikian kurang lebih perintah yang yang mewajibkan puasa bagi orang-orang yang beriman dalam Alquran surat Al Baqarah ayat 183. Telah banyak penjelasan-penjelasan mengenai hikmah, manfaat,  rukun, syarat sah, bahkan hingga tingkatan atau level orang yang berpuasa dibahas dalam ceramah para ustazd maupun dalam buku-buku agama. Bagi yang melaksanakan puasa tersebut ada yang telah puluhan kali (orang tua) dan ada yang baru pertama kali (anak-anak). Sejauh mana pengaruh puasa itu terhadap diri kita tentunya menjadi rahasia dari diri kita masing-masing. Ada yang mengalami perubahan dengan peningkatan taqwa, ada yang bersifat retreat religi, ada yang sekedar menjalani kewajiban, ada yang hanya merasakan lapar dan dahaga, ada sungguh-sungguh, serta ada juga yang main-main,  ada yang sama sekali tidak dapat menghayati puasa,  bahkan ada yang meninggalkan puasa dan tidak merasa wajib berpuasa. Mengapa begitu banyak respon yang berbeda dari diri kita?</p>
<p>Seperti juga respon kita terhadap berbagai perihal kehidupan, cara pandang individu terhadap puasa akan beragam sebanyak karakter manusia dan latar belakangnya. Hal ini tentunya menjadi sangat pribadi dan hampir tidak dapat kita pahami kecuali apa yang kita alami dan jalani masing-masing. Dalam hati kecil kita atau dalam sanubari yang terdalam akan selalu ada penilaian-penilaian terhadap apa yang kita lakukan dalam hidup ini, termasuk dalam berpuasa. Bahwa kita memutuskan untuk bersikap acuh tak acuh, atau bersikap hati-hati dan mawas diri dalam berpuasa juga kembali kepada hati kita.  Secara teori, biasanya kondisi lapar akan menurunkan sikap keduniaan kita karena dalam kondisi berpuasa secara fisik akan terjadi penurunan vitalitas yang akan pula berdampak pada semangat keduniawian, khususnya yang paling mendasar yakni makanan dan minuman. Ketiadaan suplai makanan dan minuman dalam waktu tertentu setidaknya menekan perhatian kita kepada hal-hal yang biasanya kita anggap lumrah dalam keseharian dunia aktifitas kita. Terlebih dengan berbagai keutamaan berpuasa yang kita niatkan sungguh-sungguh secara sadar mengalihkan arah perhatian dari urusan dunia kepada urusan yang lebih hakiki, yakni hati kita sendiri, karena puasa adalah rahasia antara individu dan Tuhannya.</p>
<p>Beberapa dari kita  berhasil memfokuskan perhatian kepada kondisi hatinya sendiri selama berpuasa dan mengurangi atau bahkan meninggalkan urusan keduniawian. Sebagian lagi mengalami kecendrungan untuk menaruh seluruh harapan kepada transformasi mutlak kemanusiaanya dengan perubahan total berupa lahirnya kembali jati dirinya yang bersih setelah menyelesaikan ibadah puasa. Kecenderungan tersebut diperkuat pula oleh adanya malam yang lebih baik dari 1000 bulan yang dinanti-nantikan oleh para pencari jalan Tuhan dengan harapan akan membawanya kepada kondisi yang mungkin sulit dibayangkan oleh akal kita.  Harapan demi harapan senantiasa kita panjatkan ketika kita menjalani bulan puasa demi sebuah pemahaman segar yang memperbaharui sikap, perilaku dan khususnya hati kita yang lebih bertaqwa.</p>
<p>Sebagian lagi dari kita berupaya untuk mengurangi perhatian kepada dunia dan mendorong diri kita sendiri untuk lebih memperhatikan kondisi hati kita selama berpuasa. Namun ibaratnya seorang pemabuk duniawi, masa yang sangat singkat selama bulan puasa akan seperti mimpi yang tidak akan pernah terwujud karena harapan kita untuk perubahan tidak sungguh-sungguh diniatkan dan kita hanya melalui malam-malam mimpi selama bulan puasa. Setelah bulan puasa berakhir, kita akan kembali bergelimang dengan kemabukan duniawi dan sama sekali tidak ada bekas baik dari lapar dan haus kita, maupun dari ibadah-ibadah khusus yang kita lakukan selama bulan puasa.</p>
<p>Bagaimana dengan yang mengabaikan puasa? tentu saja hal ini tidak perlu dibahas lebih jauh karena mereka yang mengabaikan puasa jelas tidak masuk dalam kategori orang yang beriman.</p>
<p>Tujuan utama dari berpuasa adalah mencapai derajat taqwa, yakni sebuah kondisi segenap pribadi diri kita (lahir-bathin, hati, fikiran dan fisik) yang tunduk patuh secara iklash kepada Allah SWT, baik yang digerakan oleh sifat takut, malu, cinta, dan berbagai sifat yang lahir dari ketekunan kita dalam beribadah. Taqwa yang merupakan buah dari ibadah termasuk puasa adalah sebuah keadaan hati yang seharusnya menjadi dambaan dari setiap orang yang mengaku beriman. Taqwa tersebut tidak dapat kita klaim atau ditempelkan sebagai gelar bagi kita setelah selesai beribadah, karena hanya Allah SWT yang mengilhamkan kefasikan dan ketaqwaan kepada jiwa kita (QS. Ash-Shams ayat 8).  Ketaqwaan tersebut juga merupakan sebuah jalan menuju, bersama dan didalam keselamatan dunia dan akhirat, sehingga beruntunglah apabila kita dapat meraih kondisi hati bersinar ketaqwaan itu. Karena dalam kondisi tersebut kita akan berhenti bertanya tentang apa dan mengapa kita hadir di dunia ini, semuanya menjadi jelas dan tirai penghalang ilmu pengetahuan sejati telah terangkat.</p>
<p>Semoga puasa kita tahun ini membawa kita kepada derajat taqwa, amin.</p>
<p>Wassalam</p>
<br />Filed under: <a href='http://matahatikita.wordpress.com/category/individu/'>individu</a>, <a href='http://matahatikita.wordpress.com/category/masyarakat/'>masyarakat</a>  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/matahatikita.wordpress.com/124/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/matahatikita.wordpress.com/124/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/matahatikita.wordpress.com/124/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/matahatikita.wordpress.com/124/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/matahatikita.wordpress.com/124/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/matahatikita.wordpress.com/124/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/matahatikita.wordpress.com/124/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/matahatikita.wordpress.com/124/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/matahatikita.wordpress.com/124/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/matahatikita.wordpress.com/124/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/matahatikita.wordpress.com/124/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/matahatikita.wordpress.com/124/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/matahatikita.wordpress.com/124/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/matahatikita.wordpress.com/124/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=matahatikita.wordpress.com&amp;blog=2388952&amp;post=124&amp;subd=matahatikita&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" /><div class="sharedaddy sd-like-enabled"></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://matahatikita.wordpress.com/2011/08/08/puasa-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/2e85deaa631bf87c8fea7188f75ed80e?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">sadadi</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Mozilla Mark</title>
		<link>http://matahatikita.wordpress.com/2011/06/16/mozilla-mark/</link>
		<comments>http://matahatikita.wordpress.com/2011/06/16/mozilla-mark/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 15 Jun 2011 23:00:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sadadi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://matahatikita.wordpress.com/?p=100</guid>
		<description><![CDATA[Ketika sedang surfing dengan web browser Mozilla Firefox, tampak sebuah seruan untuk membuat mark yang terinspirasi oleh budaya graffiti yang diterjemahkan sebagai dukungan terhadap people&#8217;s web. Ide yang menarik dan tidak ada salahnya untuk dicoba. Spontan tergores beberapa garis yang menjadi salah satu mark up urutan ke 193730. Jumlah tersebut akan terus tumbuh seiring dengan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=matahatikita.wordpress.com&amp;blog=2388952&amp;post=100&amp;subd=matahatikita&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Ketika sedang surfing dengan web browser Mozilla Firefox, tampak sebuah seruan untuk membuat mark yang terinspirasi oleh budaya graffiti yang diterjemahkan sebagai dukungan terhadap people&#8217;s web. Ide yang menarik dan tidak ada salahnya untuk dicoba. Spontan tergores beberapa garis yang menjadi salah satu mark up urutan ke 193730. Jumlah tersebut akan terus tumbuh seiring dengan semakin banyaknya pengguna web browser yang tertarik untuk membuat mark-nya. Bukan sebuah promosi, hanya sekedar  jejak langkah dalam dunia online belaka. Bagusnya jejak ini tidak mengotori tembok, pagar, atau fasilitas umum lainnya.</p>
<p><a href="http://matahatikita.files.wordpress.com/2011/06/mozilla-mark.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-101" title="Mozilla Mark" src="http://matahatikita.files.wordpress.com/2011/06/mozilla-mark.jpg?w=288&#038;h=74" alt="" width="288" height="74" /></a></p>
<h3 id="mark-number"></h3>
<br />Filed under: <a href='http://matahatikita.wordpress.com/category/uncategorized/'>Uncategorized</a>  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/matahatikita.wordpress.com/100/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/matahatikita.wordpress.com/100/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/matahatikita.wordpress.com/100/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/matahatikita.wordpress.com/100/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/matahatikita.wordpress.com/100/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/matahatikita.wordpress.com/100/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/matahatikita.wordpress.com/100/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/matahatikita.wordpress.com/100/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/matahatikita.wordpress.com/100/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/matahatikita.wordpress.com/100/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/matahatikita.wordpress.com/100/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/matahatikita.wordpress.com/100/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/matahatikita.wordpress.com/100/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/matahatikita.wordpress.com/100/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=matahatikita.wordpress.com&amp;blog=2388952&amp;post=100&amp;subd=matahatikita&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" /><div class="sharedaddy sd-like-enabled"></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://matahatikita.wordpress.com/2011/06/16/mozilla-mark/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/2e85deaa631bf87c8fea7188f75ed80e?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">sadadi</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://matahatikita.files.wordpress.com/2011/06/mozilla-mark.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">Mozilla Mark</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Hamba yang hina ?</title>
		<link>http://matahatikita.wordpress.com/2011/06/10/hamba-yang-hina/</link>
		<comments>http://matahatikita.wordpress.com/2011/06/10/hamba-yang-hina/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 10 Jun 2011 11:33:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sadadi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://matahatikita.wordpress.com/?p=97</guid>
		<description><![CDATA[Dalam sejumlah ekspresi do&#8217;a, penyembahan, dan pengabdian manusia kepada Yang Maha Pencipta, kita sering menemukan istilah hamba yang hina, hamba yang fakir, hamba yang rendah, hamba yang berlumuran dosa, hamba yang sangat-sangat kecil dalam berbagai manifestnya. Mengapa terjadi situasi yang sangat mengecilkan diri kita sendiri di hadapan yang Maha Agung? Refleksi apapun yang muncul dari [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=matahatikita.wordpress.com&amp;blog=2388952&amp;post=97&amp;subd=matahatikita&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Dalam sejumlah ekspresi do&#8217;a, penyembahan, dan pengabdian manusia kepada Yang Maha Pencipta, kita sering menemukan istilah hamba yang hina, hamba yang fakir, hamba yang rendah, hamba yang berlumuran dosa, hamba yang sangat-sangat kecil dalam berbagai manifestnya. Mengapa terjadi situasi yang sangat mengecilkan diri kita sendiri di hadapan yang Maha Agung?</p>
<p>Refleksi apapun yang muncul dari dalam diri kita ketika menghadapkan diri kepada Yang Maha Agung merupakan rasa diri yang menguasai kita, dan bukan hakikatnya jati diri kita. Rasa tersebut begitu menguasai segenap tindak dan tanduk kita sehingga terjadi penguasaan total salah satu rasa, dalam hal ini rasa rendah dan hina di hadapan Yang Maha Agung. Hal ini dapat menjelaskan mengapa umat Yahudi menangis di depan tembok ratapan, mengapa umat Islam menangis di hadapan Baitullah Makkah, mengapa umat Buddha menangis di hadapan Patung Buddha, mengapa umat Kristiani menangis di hadapan Patung Bunda Maria atau Yesus Kristus (Nabi Isa), dst yang menjadi refleksi kelemahan dan atau penyesalan para umat beragama tersebut di hadapan simbol-simbol yang dirasa oleh hati masing-masing sebagai keadaan yang seolah-olah di depan Yang Maha Agung.</p>
<p>Mengapa kita merasa hina? kehinaan muncul dari keadaan yang kotor baik secaca fisik maupun bathin dan salah satu pembersihannya adalah dengan air yakni airmata penyesalan dan keharuan yang luar biasa dan airmata hati yang tidak akan dapat ditahan oleh logika/rasionalitas. Manusia cenderung untuk mengotori dirinya dan hal itu terjadi baik disadari maupun tidak disadari. Sayangnya kita cenderung dalam keadaan tidak sadar dan kesadaran akan setiap perbuatan  jarang muncul dalam kehidupan sehari-hari. Kesadaran muncul pada saat-saat tertentu, misalnya dalam kesendirian dan dalam do&#8217;a, dalam perjalanan ibadah, dalam proses kontemplasi diri, serta dalam berbagai keadaan yang memungkinkan diri kita melakukan introspeksi terhadap perjalanan hidup yang telah kita lalui. Rasa sesal yang menyeruak dalam hati kita merupakan proses yang sangat wajar dimana pada titik kesadaran itu kita berbeda dengan keseharian kita yang lupa diri. Menyesali apa-apa yang sudah berlalu tidak akan bermanfaat apabila kita mengulangi lagi kekeliruan yang sama, dan kita cenderung senang mengulangi kesalahan yang sama. Penyesalan tidak seharusnya mengambil alih keseluruhan rasa kehidupan kita karena setelah penyesalan akan lahir rasa lega, hal itu hanya berganti-ganti rasa saja. Dalam rangka memperkuat pengaruh penyesalan, manusia memiliki gagasan yakni dengan prosesi permohonan ampunan yang diperpanjang, dengan mengkondisikan kehinaan diri kita dalam waktu yang lebih lama dari biasanya, dengan harapan untuk lega selama-lama dan bebas dari rasa sesal tersebut, lahir kembali menjadi insan yang bersih. Islam mengenalnya dengan istilah taubatan nasuha, sedangkan umat Katholik dengan prosesi confession, dll.</p>
<p>Sesungguhnya ketika kita merasa hina di hadapan Yang Maha Agung, mencerminkan keadaan yang jauh karena kita bahkan tidak mampu atau tidak bisa menatap keagunganNya. Kita hanya bisa menunduk malu dengan ratapan kesedihan menyesali keadaan yang hina tersebut dan memohon belas kasih dari Yang Maha Kasih dan Maha Penyayang. Ketika tercipta gagasan yang tulus, tentu keadaan yang hina tersebut juga akan segera digantikan dengan keadaan yang lebih baik, yakni rasa lega serta bebas dari beban penyesalan.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<br />Filed under: <a href='http://matahatikita.wordpress.com/category/uncategorized/'>Uncategorized</a>  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/matahatikita.wordpress.com/97/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/matahatikita.wordpress.com/97/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/matahatikita.wordpress.com/97/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/matahatikita.wordpress.com/97/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/matahatikita.wordpress.com/97/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/matahatikita.wordpress.com/97/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/matahatikita.wordpress.com/97/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/matahatikita.wordpress.com/97/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/matahatikita.wordpress.com/97/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/matahatikita.wordpress.com/97/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/matahatikita.wordpress.com/97/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/matahatikita.wordpress.com/97/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/matahatikita.wordpress.com/97/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/matahatikita.wordpress.com/97/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=matahatikita.wordpress.com&amp;blog=2388952&amp;post=97&amp;subd=matahatikita&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" /><div class="sharedaddy sd-like-enabled"></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://matahatikita.wordpress.com/2011/06/10/hamba-yang-hina/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/2e85deaa631bf87c8fea7188f75ed80e?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">sadadi</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Benarkah hidup terasa singkat</title>
		<link>http://matahatikita.wordpress.com/2011/05/31/benarkah-hidup-terasa-singkat/</link>
		<comments>http://matahatikita.wordpress.com/2011/05/31/benarkah-hidup-terasa-singkat/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 31 May 2011 13:29:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sadadi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<category><![CDATA[Seneca]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://matahatikita.wordpress.com/?p=88</guid>
		<description><![CDATA[Membaca buku karya Lucius Annaeus Seneca yang berjudul the shortness of life menyegarkan ingatan saya ketika menyusuri jalan mendaki gunung slamet dari desa bobotsari sekian tahun silam. Dalam perjalanan itu, seiring dengan senda gurau dengan teman perjalanan dan tafakur alam berkali-kali muncul pertanyaan: apa sebenarnya yang sedang saya lakukan ? Membuang waktu percuma dengan mendaki [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=matahatikita.wordpress.com&amp;blog=2388952&amp;post=88&amp;subd=matahatikita&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Membaca buku karya Lucius Annaeus Seneca yang berjudul the shortness of life menyegarkan ingatan saya ketika menyusuri jalan mendaki gunung slamet dari desa bobotsari sekian tahun silam.</p>
<p>Dalam perjalanan itu, seiring dengan senda gurau dengan teman perjalanan dan tafakur alam berkali-kali muncul pertanyaan: apa sebenarnya yang sedang saya lakukan ? Membuang waktu percuma dengan mendaki gunung&#8230;.ikut-ikutan teman yang senang mendaki gunung&#8230;.ingin melihat puncak gunung dan menikmati keindahan alam&#8230;.ataukah hanya sekedar melepas penat dari kesibukan sehari-hari dan mengisi liburan sekaligus memperkuat mental dan jati diri.</p>
<p>Hidup akan terasa sangat singkat bagi siapapun ketika waktunya telah tiba untuk kembali kepada Yang Maha Kuasa. Hidup juga akan terasa singkat bagi mereka yang banyak membuang waktu dan tidak menghasilkan apapun dalam perjalanan hidupnya. Hidup mereka yang sangat sibuk dengan urusan dunia juga akan terlihat begitu cepat berlalu. Bahkan hidup membutakan diri hanya untuk urusan akhirat juga akan tampak bagai kilatan belaka. Lalu mengapa dalam kondisi tertentu kita menyaksikan waktu berjalan sangat lambat? Pada saat menantikan sesuatu kita akan melihat waktu berlalu lama sekali, namun pada saat kita terdesak untuk penyelesaian sesuatu kita akan merasa diburu oleh waktu.</p>
<p>Seluruh rasa akan perjalanan waktu tersebut sebenarnya merupakan sikap bathin dan mental dalam menyikapi perjalanan hidup kita. Bagi anda yang senang menghabiskan waktu untuk mabuk-mabukan tentunya anda agak sulit melihat betapa waktu telah terbuang percuma, karena anda bahagia dengan kemabukan anda. Orang lain yang akan menyikapinya dengan pandangan prihatin dan kemudian memberikan penilaian. Kita semua sadar maupun tidak sadar memiliki kecenderungan untuk saling menilai satu dengan yang lain, sehingga seringkali lupa memperhatikan diri kita yang sesungguhnya. Bahkan besar kemungkinan terjadi kondisi dimana kita menghabiskan waktu untuk menilai orang lain dan tidak sadar telah mengabaikan hati nurani kita yang juga memerlukan perhatian dari kesadaran kita sehari-hari.</p>
<p>Apakah waktu menentukan rasa singkat dan lamanya hidup kita? Perhatikan bagaimana seseorang yang berbuat banyak dalam waktu singkat dan bandingkan dengan seseorang yang malas dan tidak berbuat apa-apa dalam waktu yang lama. Betapapun kita melakukan perbandingan lamanya waktu ukuran dunia ini ada semacam rata-rata waktu hidup kita (angka harapan hidup). Taruhlah kita memiliki jumlah waktu yang sama sekitar 60-70 tahun untuk hidup di dunia, yang satu mengisinya dengan berbagai kegiatan dan mencapai banyak keberhasilan sedangkan yang lain mengisinya dengan kemalasan dan tidak mencapai apa-apa. Apakah mereka akan sama dalam merasakan perjalanan hidupnya, yang sangat aktif akan merasakan waktu cepat berlalu cepat. Bagaimana dengan yang malas? Pada ujung kematiannya yang malas akan jauh lebih panik dan merasakan kesia-siaan hidup dan waktu bagaikan silet tajam yang memutus perjalanan hidupnya.</p>
<p>Lha&#8230;mengapa kedua-duanya tetap merasakan hidup yang singkat? Ketika saya bercerita tentang perjalanan mendaki gunung, sesungguhnya terjadi sebuah pengalaman hidup yang luar biasa yang membuka berbagai cara pandang dalam bathin dan mental sehingga terjadi langkah awal pengenalan diri sendiri yang sibuk dengan berbagai urusan dunia. Pada saat kesendirian itu, barulah muncul rasa tanpa waktu yang sulit dijelaskan. Dalam kesempatan lain, mendaki gunung saya ulangi lagi seorang diri tanpa teman. Walau tampak terlalu mencari-cari dan agak mengada-adakan proses pengenalan diri sendiri, namun dalam perjalanan bagaikan bicara dengan diri sendiri dari tahapan kebingungan, dialog hingga keheningan. Dalam sebuah proses berpikir yang lebih dari kebiasaan berpikir sehari-hari.</p>
<p>Bila anda memiliki kecenderungan untuk jatuh dalam pelukan kondisi mental yang dekat dengan neurosis, tentunya sangat tidak disarankan untuk melakukan perjalanan sendiri. Akan lebih aman untuk sekedar melakukan perenungan sejenak di tempat duduk anda atau di kamar anda. Bahkan agama juga mengajarkan banyak metode untuk memberikan waktu untuk diri sendiri, misalnya dengan shalat dalam Islam, meditasi dalam agama Hindu dan Buddha dan berbagai metode lainnya.</p>
<p>Intinya adalah memperhatikan diri anda sendiri, bukan dalam arti egosime tetapi dalam keutuhan jati diri anda, hingga pada saatnya tidak lagi terjebak dalam rasa terhadap waktu yang dibatasi masanya di bumi ini. Pada level ini, mungkin anda tidak akan lagi merasakan apakah hidup itu singkat atau lama.</p>
<br />Filed under: <a href='http://matahatikita.wordpress.com/category/uncategorized/'>Uncategorized</a> Tagged: <a href='http://matahatikita.wordpress.com/tag/seneca/'>Seneca</a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/matahatikita.wordpress.com/88/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/matahatikita.wordpress.com/88/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/matahatikita.wordpress.com/88/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/matahatikita.wordpress.com/88/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/matahatikita.wordpress.com/88/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/matahatikita.wordpress.com/88/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/matahatikita.wordpress.com/88/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/matahatikita.wordpress.com/88/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/matahatikita.wordpress.com/88/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/matahatikita.wordpress.com/88/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/matahatikita.wordpress.com/88/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/matahatikita.wordpress.com/88/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/matahatikita.wordpress.com/88/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/matahatikita.wordpress.com/88/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=matahatikita.wordpress.com&amp;blog=2388952&amp;post=88&amp;subd=matahatikita&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" /><div class="sharedaddy sd-like-enabled"></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://matahatikita.wordpress.com/2011/05/31/benarkah-hidup-terasa-singkat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/2e85deaa631bf87c8fea7188f75ed80e?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">sadadi</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Kematian Manusia</title>
		<link>http://matahatikita.wordpress.com/2011/05/12/kematian-manusia/</link>
		<comments>http://matahatikita.wordpress.com/2011/05/12/kematian-manusia/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 12 May 2011 16:17:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sadadi</dc:creator>
				<category><![CDATA[individu]]></category>
		<category><![CDATA[Kematian]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://matahatikita.wordpress.com/?p=87</guid>
		<description><![CDATA[Mengapa kematian manusia hampir selalu menarik diri kita ke dalam suatu keadaan/kondisi yang kelabu, hening, bahkan kadang membuat nalar mengalami kelambatan berpikir atau bahkan dunia tampak berhenti sejenak? Dalam banyak tradisi, apa yang  kita lakukan dalam bentuk prosesi upacara melepaskan kepergian bagi yang meninggal sebenarnya selalu memiliki dua arah, yaitu untuk meninggalkan dan untuk yang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=matahatikita.wordpress.com&amp;blog=2388952&amp;post=87&amp;subd=matahatikita&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Mengapa kematian manusia hampir selalu menarik diri kita ke dalam suatu keadaan/kondisi yang kelabu, hening, bahkan kadang membuat nalar mengalami kelambatan berpikir atau bahkan dunia tampak berhenti sejenak?</p>
<p>Dalam banyak tradisi, apa yang  kita lakukan dalam bentuk prosesi upacara melepaskan kepergian bagi yang meninggal sebenarnya selalu memiliki dua arah, yaitu untuk meninggalkan dan untuk yang ditinggalkan.</p>
<p>Apapun namanya, berdo&#8217;a bersama&#8230;upacara penghormatan, tahlilan, upacara pembakaran mayat, upacara penguburan, dll berbagai versi mengantarkan orang yang sudah mati, hasilnya selalu melegakan bagi mereka yang ditinggalkan. Tentu saja bukan dalam ukuran manusia yang masih hidup untuk dapat secara pasti menjamin dampaknya kepada yang telah meninggalkan kita, namun setidaknya dalam hati kita terjadi penguatan keyakinan dalam memanjatkan do&#8217;a khususnya kepada yang mendahului kita tersebut.</p>
<p>Kita akan selalu terpengaruh oleh setiap kematian dari orang-orang terdekat kita, terlebih bila orang tersebut merupakan  bagian dari kehidupan keseharian kita seperti bagian dari keluarga inti. Diperlukan sebuah sikap menerima dari setiap peristiwa kematian. Namun manusia juga memiliki kecenderungan rasa di dalam hati yang sulit tertahankan manakala menyaksikan kematian, sehingga tangisan hati akan hampir selalu tampak dalam tetesan air mata atau ekspresi kesedihan lainnya di wajah kita.</p>
<p>Semua itu adalah kewajaran manusiawi dalam merespon kematian manusia. Lalu mengapa saya menuliskan sesuatu yang sudah biasa dan wajar terjadi di sekitar kita tersebut?</p>
<p>Hari ini, menulis bagi saya bukan sekedar menyampaikan apa yang sedang saya pikirkan, melainkan juga  menjadi do&#8217;a untuk seorang teman yang meninggalkan dunia tanggal 11 Mei kemarin, Pak Agus. Tentunya saya mendo&#8217;akan sepenuh hati yang terbaik untuk perjalanan Pak Agus selanjutnya. Karena dalam keyakinan saya, semua berawal dan berakhir dan intinya (tengahnya) adalah perjalanan demi perjalanan yang harus kita lalui. Oleh karena itu, do&#8217;a terbaik adalah  harapan untuk dapat melaksanakan perjalanan hidup-mati kita dengan baik, dimana ujungnya adalah kembali kepada Yang Maha Kuasa. Sangkan Paraning Dumadi.</p>
<p>Meskipun saya tidak dapat hadir ditengah-tengah do&#8217;a bersama karena dibatasi luasnya lautan dan jarak, namun hati dan pikiran menyatu dalam do&#8217;a untuk bekal perjalanan Pak Agus berikutnya di alam kubur.</p>
<p>Ketika kita berdo&#8217;a menurut keyakinan masing-masing, kita melambungkan harapan yang tertera dalam do&#8217;a-do&#8217;a kita tersebut untuk mereka yang meninggalkan kita terlebih dahulu. Dimulai dengan pujian kepada Yang Maha Esa, Pujian kepada Alam Semesta, Pujian kepada Manusia terdahulu yang memiliki Kemuliaan, serta kita isi dengan do&#8217;a permohonan ampunan, do&#8217;a permohonan kemudahan dalam menjalani kehidupan selanjutnya, serta do&#8217;a permohonan untuk dapat kembali ke lingkungan Yang Maha Mulia dalam kebahagiaan yang hakiki.</p>
<p>Selamat jalan sahabat&#8230;.saya pasti akan menyusul suatu saat nanti.</p>
<br />Filed under: <a href='http://matahatikita.wordpress.com/category/individu/'>individu</a> Tagged: <a href='http://matahatikita.wordpress.com/tag/kematian/'>Kematian</a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/matahatikita.wordpress.com/87/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/matahatikita.wordpress.com/87/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/matahatikita.wordpress.com/87/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/matahatikita.wordpress.com/87/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/matahatikita.wordpress.com/87/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/matahatikita.wordpress.com/87/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/matahatikita.wordpress.com/87/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/matahatikita.wordpress.com/87/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/matahatikita.wordpress.com/87/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/matahatikita.wordpress.com/87/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/matahatikita.wordpress.com/87/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/matahatikita.wordpress.com/87/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/matahatikita.wordpress.com/87/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/matahatikita.wordpress.com/87/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=matahatikita.wordpress.com&amp;blog=2388952&amp;post=87&amp;subd=matahatikita&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" /><div class="sharedaddy sd-like-enabled"></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://matahatikita.wordpress.com/2011/05/12/kematian-manusia/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/2e85deaa631bf87c8fea7188f75ed80e?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">sadadi</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Perasaan Beragama dan Pengalaman Spiritual</title>
		<link>http://matahatikita.wordpress.com/2011/02/23/perasaan-beragama-dan-pengalaman-spiritual/</link>
		<comments>http://matahatikita.wordpress.com/2011/02/23/perasaan-beragama-dan-pengalaman-spiritual/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 22 Feb 2011 21:55:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sadadi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Alam Semesta]]></category>
		<category><![CDATA[Dunia Internasional]]></category>
		<category><![CDATA[individu]]></category>
		<category><![CDATA[masyarakat]]></category>
		<category><![CDATA[Charles Foster]]></category>
		<category><![CDATA[Wired for God]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://matahatikita.wordpress.com/?p=113</guid>
		<description><![CDATA[Membaca buku Wired for God?: The Biology of Spiritual Experience karya seorang pencari kebenaran, Charles Foster dari Universitas Oxford bukan saja membongkar rasa yang terdalam dari diri kita tentang rasa keberagamaan kita melainkan juga mengoyak keyakinan kita tentang apa yang sering kita klaim sebagai pengalaman spiritual. Sejumlah guru kebathinan dari berbagai latar belakang keyakinan baik [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=matahatikita.wordpress.com&amp;blog=2388952&amp;post=113&amp;subd=matahatikita&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Membaca buku Wired for God?: The Biology of Spiritual Experience karya seorang pencari kebenaran, Charles Foster dari Universitas Oxford bukan saja membongkar rasa yang terdalam dari diri kita tentang rasa keberagamaan kita melainkan juga mengoyak keyakinan kita tentang apa yang sering kita klaim sebagai pengalaman spiritual.<span id="more-113"></span></p>
<p>Sejumlah guru kebathinan dari berbagai latar belakang keyakinan baik di Barat maupun di timur telah menuliskan berbagai macam fenomena kebathinan yang dikaitkan dengan pengalaman spiritual yang seringkali sangat menakjubkan bagi orang awam. Baik spiritual dalam arti pengalaman di luar hal-hal yang manusiawi seperti mengetahui masa depan, menyembuhkan penyakit, menembus alam gaib, pengalaman di luar badan, serta berbagai hal yang bagi akal sehat kita tampak ajaib.</p>
<p>Sebut saja misalnya sejumlah karya guru kebathinan seperti Madame Blavatsky dengan theosophy dan ide karma serta inkarnasi, Krishnamurti dengan pikiran manusia dan konsep meditasi sehari-hari yang memperkenalkan ajaran Timur ke Barat. Atau sebaliknya bagaimana pengaruh filsafat Yunani ke dalam pemikiran Timur. Lebih jauh lagi misalnya ajaran yang kontroversial dari Al Hallaj yang bertentangan dengan ajaran gurunya Junaid yang rasional (namun keduanya saling memahami), ajaran Wali Sanga (the 9 Saint) di Jawa yang penuh cerita ajaib, konsep menyatu dengan Tuhan (manunggaling kawulo gusti) dari Syech Siti Jenar, ajaran Hindu-Islam yang menyatu dalam tokoh pewayangan Wayang misalnya dalam cerita Dewaruci. Ajaran asli Nusantara yang sarat dengan cerita yang berdasarkan pada keyakinan adanya Kekuatan Yang Maha Kuasa yang menentukan jalan hidup manusia. Serta berbagai fenomena spiritual sehari-hari di sekitar kita dengan masih lakunya dukun, kyai, guru agama dari agama apapun yang melakukan pendekatan spiritual di tengah-tengah masyarakat.</p>
<p>Buku the Wired for God sepintas lalu tampak seperti mengguncang keyakinan kita dengan apa-apa yang telah diyakini baik secara turun-temurun maupun yang dibangun atas pengalaman pribadi. Nasehat bijak bagi anda yang belum memiliki pondasi keyakinan yang kuat tentu saja untuk berhati-hati karena anda akan menjadi semakin bingung karena sekali kita membaca buku ini maka akal kita akan bekerja untuk meresponnya.</p>
<p>Sejumlah respon yang akan muncul dari diri kita akan mencakup penolakan yang keras, keraguan, setengah ragu dan percaya, atau bahkan akan menguncang keseluruhan keyakinan kita dan akan menyeret kita pada keyakinan baru misalnya darwinisme atau Dawkinisme (Richard Dawkins).  Sebagai sebuah exercise intelektual, jelas bahwa upaya-upaya menjelaskan fenomena keagamaan khususnya keTuhanan dan pengalaman spiritual secara scientific sangat menarik untuk kita perhatikan. Hal ini merupakan diskursus yang sangat jarang atau bahkan belum ada di Indonesia. Dimana pembahasan hal tersebut bukan saja sensitif dan mungkin masih dianggap tabu, melainkan juga berpotensi akan menyinggung kemapanan keyakinan mayoritas orang Indonesia tentang apa yang selama ini diyakini sebagai pengalaman spiritual.</p>
<p>Namun sadarkah anda bahwa sebagian besar orang yang mengaku memiliki pengalaman spiritual dan kemudian memiliki posisi penting di masyarakat juga banyak yang penipu. Barangkali bukan penipu dalam artian kriminal melainkan secara sadar ataupun tidak sadar, sesungguhnya mereka itu tidak memiliki pondasi yang kuat dalam menceritakan pengalaman spiritualnya atau bahkan memberikan nasehat berdasarkan petunjuk spiritualnya. Kita bahkan sangat sering mendengar istilah guru spiritual dalam berbagai kesempatan, atas dasar apa kita kemudian memiliki keyakinan kepada mereka yang mengklaim diri atau dikenal sebagai guru spiritual, serta bagaimana ukurannya. Tentunya kita hanya dapat menerimana tanpa melakukan penyelidikan lebih dalam.</p>
<p>Sejumlah kelompok spiritual belakangan terbukti melakukan penipuan dengan tujuan memperoleh keuntungan uang. Sayangnya masyarakat kita yang cenderung kurang memiliki pengetahuan yang dalam tentang spiritualisme baik secara intelektual maupun pengalaman sangat mudah tertipu.</p>
<p>Kembali kepada buku Wired for God, adalah sangat penting untuk mengembangkan pengetahuan tanpa bermaksud meninggalkan ajaran agama. Hal ini bahkan dapat mendorong penghayatan yang lebih dalam tentang keyakinan kita. Misalnya buku tersebut menceritakan tentang bagian-bagian dari otak manusia yang diteliti memiliki hubungan dengan aspek keTuhanan (God spot),  seperti fenomena mata ketiga (frontal cortex), kelenjar pineal, temporal lobe, medial temporal lobe, dst. Bahkan ada pula penelitian yang menggambarkan sebagai sebuah jaringan otak yang memberikan respon yang unik dan saling terkait ketika dihubungkan dengan aspek keTuhanan dan besar kemungkinan setiap orang memiliki respon yang berbeda-beda. Walaupun pendekatan neuroscience atau cognitive science tersebut belum mencapai kesepakatan mutlak, namun setidaknya telah membuka diskusi yang sama ini kebanyakan kita bahkan tidak mengenalnya.</p>
<p>Berbagai contoh  perbandingan yang dinarasikan dalam bentuk cerita dari berbagai peradaban di dunia yang mengilustrasikan pencarian manusia akan Tuhannya sangat penting. Hal itu bukan saja relevan dalam meninjau kembali apa-apa yang selama ini kita yakini sebagai agama kita masing-masing, melainkan juga menyegarkan pemahaman kita tentang kemiripan upaya pencarian umat manusia itu sendiri. Walaupun pada akhirnya akal kita mungkin akan terbentur oleh keadaan yang tidak dapat dijelaskan, setidaknya upaya demi upaya dalam memahami berbagai hal yang selama ini kita terima begitu saja, akan memiliki dampak yang besar kepada hidup kita dan mudah-mudahan bermanfaat.</p>
<p>Tulisan ini terlalu singkat untuk mengantarkan kita kepada buku the Wired for God.  Hal ini hanya sebuah ledakan reaksi yang seketika terjadi ketika mulai membaca beberapa bab awal dari buku tersebut. Kemungkinan upaya untuk memahami buku tersebut diperlukan pengulangan beberapa kali membacanya.</p>
<br />Filed under: <a href='http://matahatikita.wordpress.com/category/alam-semesta/'>Alam Semesta</a>, <a href='http://matahatikita.wordpress.com/category/dunia-internasional/'>Dunia Internasional</a>, <a href='http://matahatikita.wordpress.com/category/individu/'>individu</a>, <a href='http://matahatikita.wordpress.com/category/masyarakat/'>masyarakat</a> Tagged: <a href='http://matahatikita.wordpress.com/tag/charles-foster/'>Charles Foster</a>, <a href='http://matahatikita.wordpress.com/tag/wired-for-god/'>Wired for God</a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/matahatikita.wordpress.com/113/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/matahatikita.wordpress.com/113/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/matahatikita.wordpress.com/113/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/matahatikita.wordpress.com/113/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/matahatikita.wordpress.com/113/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/matahatikita.wordpress.com/113/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/matahatikita.wordpress.com/113/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/matahatikita.wordpress.com/113/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/matahatikita.wordpress.com/113/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/matahatikita.wordpress.com/113/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/matahatikita.wordpress.com/113/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/matahatikita.wordpress.com/113/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/matahatikita.wordpress.com/113/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/matahatikita.wordpress.com/113/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=matahatikita.wordpress.com&amp;blog=2388952&amp;post=113&amp;subd=matahatikita&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" /><div class="sharedaddy sd-like-enabled"></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://matahatikita.wordpress.com/2011/02/23/perasaan-beragama-dan-pengalaman-spiritual/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/2e85deaa631bf87c8fea7188f75ed80e?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">sadadi</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Kemajuan Berpikir</title>
		<link>http://matahatikita.wordpress.com/2010/09/29/kemajuan-berpikir/</link>
		<comments>http://matahatikita.wordpress.com/2010/09/29/kemajuan-berpikir/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 29 Sep 2010 15:32:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sadadi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Alam Semesta]]></category>
		<category><![CDATA[individu]]></category>
		<category><![CDATA[berpikir]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://matahatikita.wordpress.com/?p=79</guid>
		<description><![CDATA[Pertanyaan-pertanyaan : dari mana kita berasal? apakah kita ini? dan akan kemana kita pergi? atau dalam bahasa Inggrisnya Where do we come from? What are we? Where are we going?, konon dipopulerkan oleh artis, pelukis, dan penulis ternama Paul Gauguin. Kita semua dalam hati kita memiliki pertanyaan tersebut dan bahkan sejak peradaban kuno China, lembah [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=matahatikita.wordpress.com&amp;blog=2388952&amp;post=79&amp;subd=matahatikita&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Pertanyaan-pertanyaan : dari mana kita berasal? apakah kita ini? dan akan kemana kita pergi? atau dalam bahasa Inggrisnya Where do we come from? What are we? Where are we going?, konon dipopulerkan oleh artis, pelukis, dan penulis ternama <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Paul_Gauguin">Paul Gauguin</a>. Kita semua dalam hati kita memiliki pertanyaan tersebut dan bahkan sejak peradaban kuno China, lembah Mesopotamia, Yunani kuno, suku Aztec, Inca, bahkan pada era para Nabi Yahudi, Kristen dan Islam, serta  barangkali juga leluhur kita di Nusantara dengan animisme-dinamisme-nya pernah bertanya-tanya tentang hal yang serupa.<span id="more-79"></span></p>
<p>Seribu jawaban versus seribu kekecewaan dan seribu keyakinan meliputi pertanyaan sederhana dengan jawaban yang kompleks dan bahkan saling bertentangan bukan? Akhirnya kita bersandar pada jawaban yang dibawa para Nabi atau orang suci, jawaban para filsuf dan ahli kebijakan, atau jawaban dari berpikir bebas di alam ideologi liberal. Sebagai orang biasa, kita terlalu malas untuk berpikir lebih jauh mengenai hal-hal yang terdekat dengan diri kita sendiri, bahkan cenderung untuk menghabiskan waktu untuk hal-hal yang bersifat asessoris dunia yang kemudian menjadi bagian dari identitas kita. Sebut saja misalnya kehidupan sosial kita, mulai dari pergaulan, pekerjaan, status sosial, dan lain-lain. Seringkali identitas yang melekat pada diri kita lebih dekat kepada pekerjaan kita, oh dia itu pengusaha, pegawai negeri, atau dokter, pengacara, hakim, jaksa, polisi, serta ribuan profesi lainnya yang mereduksi identitas kemanusiaan kita yang lebih luas dari semua itu.</p>
<p>Kita dengan kemampuan berpikir luar biasa telah mencapai begitu banyak kemajuan yang kita labelkan sebagai modernisasi, khususnya dalam hal kemudahan hidup dengan penemuan berbagai peralatan dan teknologi. Namun bagaimana dengan pengenalan kita terhadap diri kita sendiri, hanya sebatas pada pengenalan organ fisik (ilmu anatomi), pengenalan sifatdan perilaku  (psikologi), pengenalan etnis, suku bangsa (antropologi), dll yang mana semuanya belum menjawab secara pasti siapakah diri kita ini? Agama menawarkan jawaban bahwa kita adalah ciptaan Tuhan atau hamba Tuhan yang diciptakan untuk mengabdi kepadaNya dalam kebaikan, tetapi sungguhkah kita telah mencapai kesempurnaan jawaban yang menghentikan pemikiran kita tentang siapa diri kita. Ataukah kita masih bingung?</p>
<p>Kebanyakan manusia akan berhenti bertanya dan kemudian bersandar pada jawaban standar yang telah ditawarkan oleh kitab suci atau buku filsafat dan kemudian sibuk dengan keseharian urusan dunia dan hasrat-hasrat lainnya. Kemajuan yang kita capai hingga saat ini sepertinya masih berada di tepi lautan ilmu pengetahuan yang dapat digali terus oleh umat manusia.</p>
<p>Salam</p>
<br />Filed under: <a href='http://matahatikita.wordpress.com/category/alam-semesta/'>Alam Semesta</a>, <a href='http://matahatikita.wordpress.com/category/individu/'>individu</a> Tagged: <a href='http://matahatikita.wordpress.com/tag/berpikir/'>berpikir</a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/matahatikita.wordpress.com/79/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/matahatikita.wordpress.com/79/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/matahatikita.wordpress.com/79/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/matahatikita.wordpress.com/79/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/matahatikita.wordpress.com/79/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/matahatikita.wordpress.com/79/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/matahatikita.wordpress.com/79/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/matahatikita.wordpress.com/79/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/matahatikita.wordpress.com/79/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/matahatikita.wordpress.com/79/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/matahatikita.wordpress.com/79/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/matahatikita.wordpress.com/79/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/matahatikita.wordpress.com/79/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/matahatikita.wordpress.com/79/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=matahatikita.wordpress.com&amp;blog=2388952&amp;post=79&amp;subd=matahatikita&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" /><div class="sharedaddy sd-like-enabled"></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://matahatikita.wordpress.com/2010/09/29/kemajuan-berpikir/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/2e85deaa631bf87c8fea7188f75ed80e?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">sadadi</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Mengapa kita percaya ?</title>
		<link>http://matahatikita.wordpress.com/2010/07/29/mengapa-kita-percaya/</link>
		<comments>http://matahatikita.wordpress.com/2010/07/29/mengapa-kita-percaya/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 29 Jul 2010 15:08:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sadadi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://matahatikita.wordpress.com/?p=77</guid>
		<description><![CDATA[Percaya, meyakini, atau mengimani sesuatu merupakan pondasi dari perjalanan hidup seseorang. Tidak akan kita dapat berjalan dengan mantap diatas muka bumi tanpa adanya keyakinan-keyakinan yang membimbingnya. Kepercayaan tersebut bisa kepada Kekuasaan Yang Maha Kuasa melalui jalan agama, bisa juga kepada ilmu pengetahuan dan pemikiran filosofi manusia, atau bisa juga berdasarkan pengalaman-pengalaman. Semuanya mengkristal sejalan dengan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=matahatikita.wordpress.com&amp;blog=2388952&amp;post=77&amp;subd=matahatikita&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Percaya, meyakini, atau mengimani sesuatu merupakan pondasi dari perjalanan hidup seseorang. Tidak akan kita dapat berjalan dengan mantap diatas muka bumi tanpa adanya keyakinan-keyakinan yang membimbingnya. Kepercayaan tersebut bisa kepada Kekuasaan Yang Maha Kuasa melalui jalan agama, bisa juga kepada ilmu pengetahuan dan pemikiran filosofi manusia, atau bisa juga berdasarkan pengalaman-pengalaman. Semuanya mengkristal sejalan dengan apa-apa yang kita alami selama perjalanan hidup kita masing-masing, sifat sangat pribadi dan unik pada masing-masing individu.<span id="more-77"></span></p>
<p>Sesuai dengan karakter diri kita, akan berkembang kecenderungan terhadap apa yang kita percayai. Bila kita lahir dan dididik dalam lingkungan keluarga Muslim yang taat , tentunya wajar bila hasilnya kita cenderung untuk meyakini nilai-nilai Islam sebagaimana diajari kepada kita sejak kecil. Demikian juga apabila kita lahir dan dididik di lingkungan keluarga Kristen, Hindu, Buddha, Konghucu yang mempraktekan nilai-nilai agama dalam ketaatan, maka tidaklah perlu kita merasa heran dengan keyakinan yang tumbuh berkembang seiring dengan perkembangan psikologi dan bathin kita.</p>
<p>Namun sadarkah kita bahwa mayoritas umat manusia sesungguhnya tidaklah terlalu terdidik dalam soal keimanan ini. Kita cenderung untuk menerima seluruh informasi tentang apa yang &#8220;harus&#8221; diyakini sejak kecil tanpa pemahaman yang utuh baik secara akal maupun bathiniah. Kita dibentuk atau didoktrin untuk meyakini sesuatu tanpa mengerti detailnya, sehingga muncul kecenderungan untuk bersandar pada keyakinan yang rapuh secara membabi buta.  Keyakinan yang rapuh tersebut berakar dari kurang dalamnya pemahaman dan belum tercapainya keadaan sadar setiap saat tentang apa yang kita yakini.</p>
<p>Silahkan anda bertanya pada diri sendiri atau kepada orang lain tentang hal ini, misalnya pertanyaan sederhana mengapa anda mengimani keberadaan Tuhan.</p>
<p>Jawabnya akan beragam dan campur aduk bukan? Mungkin anda yang memiliki pengetahuan tentang keTuhanan akan dapat menjelaskan secara panjang lebar.</p>
<p>Bersambung&#8230;</p>
<br />Filed under: <a href='http://matahatikita.wordpress.com/category/uncategorized/'>Uncategorized</a>  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/matahatikita.wordpress.com/77/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/matahatikita.wordpress.com/77/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/matahatikita.wordpress.com/77/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/matahatikita.wordpress.com/77/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/matahatikita.wordpress.com/77/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/matahatikita.wordpress.com/77/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/matahatikita.wordpress.com/77/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/matahatikita.wordpress.com/77/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/matahatikita.wordpress.com/77/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/matahatikita.wordpress.com/77/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/matahatikita.wordpress.com/77/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/matahatikita.wordpress.com/77/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/matahatikita.wordpress.com/77/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/matahatikita.wordpress.com/77/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=matahatikita.wordpress.com&amp;blog=2388952&amp;post=77&amp;subd=matahatikita&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" /><div class="sharedaddy sd-like-enabled"></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://matahatikita.wordpress.com/2010/07/29/mengapa-kita-percaya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/2e85deaa631bf87c8fea7188f75ed80e?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">sadadi</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Bingung ?</title>
		<link>http://matahatikita.wordpress.com/2010/07/27/bingung/</link>
		<comments>http://matahatikita.wordpress.com/2010/07/27/bingung/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 27 Jul 2010 11:30:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sadadi</dc:creator>
				<category><![CDATA[individu]]></category>
		<category><![CDATA[masyarakat]]></category>
		<category><![CDATA[negara dan bangsa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://matahatikita.wordpress.com/?p=74</guid>
		<description><![CDATA[Pernahkah anda merasa bingung dalam hidup anda? Contoh situasi yang mungkin sering  kita hadapi adalah dalam sebuah perjalanan mencari alamat seseorang atau kantor, kita bingung arah jalan yang harus ditempuh untuk mencapai tujuan. Biasanya kita akan menyelesaikan kebingungan tersebut dengan membaca peta, bertanya pada seseorang, atau menelpon orang yang kita tuju dan meminta agar dijelaskan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=matahatikita.wordpress.com&amp;blog=2388952&amp;post=74&amp;subd=matahatikita&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Pernahkah anda merasa bingung dalam hidup anda?</p>
<p>Contoh situasi yang mungkin sering  kita hadapi adalah dalam sebuah perjalanan mencari alamat seseorang atau kantor, kita bingung arah jalan yang harus ditempuh untuk mencapai tujuan. Biasanya kita akan menyelesaikan kebingungan tersebut dengan membaca peta, bertanya pada seseorang, atau menelpon orang yang kita tuju dan meminta agar dijelaskan arah menuju alamatnya. Kita akan berusaha memperhatikan tanda-tanda dalam perjalanan kita yang menunjukan arah yang benar.<span id="more-74"></span></p>
<p>Contoh lainnya adalah saat kita sedang belajar, misalnya matematika. Apabila kita belum memahami teori dan berlatih dengan tekun, kita akan sering menghadapi persoalan matematika yang membuat kita bingung. Berbeda dengan persoalan non-eksakta, dalam matematika terdapat kepastian perhitungan yang tidak dapat ditawar atau hanya menggunakan intuisi dan tebak-tebakan, sehingga kita harus mengerti betul bagaimana menyelesaikan sebuah persoalan matematis. Kita harus mengerti prinsip-prinsip dasar yang akan dipergunakan untuk penyelesaian persoalan matematika tersebut, dan pada akhirnya kita akan memperoleh sebuah jawaban yang benar. Kebingungan pada saat menghadapi perhitungan matematika bertingkat yang rumit seringkali membuat kita menyerah dan menganggap matematika bukan bidang kita, padahal dalam kehidupan sehari-hari kita sering menghadapi persoalan matematika, lihat saja peristiwa jual beli dan bagaimana kita mengatur keuangan kita.</p>
<p>Dalam persoalan yang lebih sederhana bahkan kita juga sering bingung, misalnya dalam memilih sesuatu yang akan kita beli di pasar, departemen store atau mall. Sebut saja misalnya saat kita akan memilih baju yang akan kita beli, seringkali kita menghabiskan waktu yang cukup lama dalam proses pemilihan tersebut. Kita cukup bingung bukan? kebingungan tersebut bisa saja disebabkan oleh keterbatasan uang yang kita miliki, pilihan yang ada sama bagusnya, memilih diantara warna yang berbeda, memilih merk, memilih model, dan lain-lain. Kita mengalami kebingungan, bahkan dalam situasi yang  dimana kita kurang memiliki ketegasan dalam memilih, kita menghabiskan waktu yang luar biasa lama sampai pada hari berikutnya.</p>
<p>Dalam persoalan hati, kita juga menghadapi kebingungan. Misalnya hal ini terjadi dalam hubungan antara pria-wanita. Bingung dalam situasi ini terjadi karena tidak ada perhitungan pasti yang akan membawa pada kebahagiaan, serta melibatkan kemungkinan yang cukup banyak dan tidak dapat sepenuhnya dikendalikan oleh kehendak kita sendiri.</p>
<p>Dalam melihat masa depan kitapun sering dibayangi oleh kebingungan akan melangkah kemana menjadi apa dan bagaimana menempuhnya. Mulai dari persiapan pembentukan diri kita baik dari sisi intelektual dengan menempuh studi, dari sisi skill dengan menempuh pelatihan dan bekerja, serta dari sisi keorganisasian yang seluruhnya merupakan proses dalam menjadi diri kita sendiri sebagai apapun yang akhirnya kita pilih dalam hidup ini.</p>
<p>Seringkali kita menghadapi persoalan bahwa kita &#8220;terpaksa&#8221; menempuh satu jalan yang tampaknya tidak membawa ketenangan dan kebahagiaan karena kita tidak dapat memilih atau pilihan sangat terbatas. Akhirnya kitapun merasa menderita dan menjadi bingung dengan nasib yang sedang kita jalani. Pada saat kita kehilangan orang yang kita sayangi, pada saat kita kehilangan pekerjaan, pada saat kita mengalami sakit, pada saat kita dihimpit oleh kemiskinan dan hutang, pada saat kita tidak mampu bahkan menolong diri kita sendiri, kitapun akan secara otomatis diselimuti oleh kebingungan dan akal kita seperti membeku dalam jeritan hati memohon pertolongan untuk dibebaskan dari kebingungan dan penderitaan yang kita hadapi tersebut.</p>
<p>Kebingungan dalam keterpaksaaan keadaan yang serba menyiksa lahir bathin kita tersebut tampak sangat berat dan bahkan nyaris menghapuskan segala harapan kita akan perubahan. Bayangkan bila kita menjadi seorang anak yatim piatu yang hidup di jalanan, mencari sisa-sisa makanan di tempat sampah restoran, bekerja kasar serta mengemis untuk sekedar dapat menyambung hidup. Bingungkah ? Belum tentu bukan? Mengapa saya katakan belum tentu bingung ?</p>
<p>Kebingungan pada hakikatnya lahir dari taraf atau level pemikiran kita sendiri tentang kepatutan diri kita sebagai manusia. Apabila kebingungan akal pikiran kita tersebut telah mencapai tahapan yang semakin kritis, maka hatipun akan menjadi bingung, marah, sedih, kecewa, putus asa, dll. Kita tidak dapat menerima keadaan yang kita alami, hal ini awal dari rentetan berbagai perasaan yang menumpuk menjadi masalah yang semakin besar dari waktu ke waktu.</p>
<p>Kembali pada ilustrasi seorang anak yatim piatu yang hidup di jalanan. Saya pernah menyaksikan bahwa mereka memiliki kearifan tersendiri pada saat mereka akhirnya keluar dari himpitan perasaan dengan menerima keadaan. Dalam sebuah pembicaraan saya dengan seorang anak jalanan yang yatim piatu, saya mendengarkan bahwa setelah menjalani kesedihan dalam hitungan jam, hari, bulan dan tahun, pada suatu waktu sang anak yatim tersebut mencapai penyerahan terhadap keadaan dan akhirnya terbiasa dalam kemiskinan dan baju yang bau dan kotor. Dipersimpangan jalan, menyaksikan anak-anak orang kaya diantar ke sekolah dengan mobil atau motor yang bagus oleh orang tuanya dan pada awalnya hatinya demikian besar dalam iri hati akan ketidakadilan hidup di dunia. Namun seiring waktu berlalu, hatinya hanya teriris sedikit sampai akhirnya tidak lagi terasa dan kadang dapat turut tersenyum menyaksikan kenikmatan yang dirasakan anak-anak orang berada, turut berbahagia dan bersyukur untuk anak-anak yang beruntung.</p>
<p>Pada awalnya juga, sang anak yatim piatu tersebut membenci hidupnya, marah kepada Yang Maha Kuasa dan tidak lagi sanggup mendengarkan ayat-ayat Tuhan yang mengajarkan kebajikan pada manusia. Semua menjadi hampa karena perutnya lapar, tubuhnya gatal, dan air matanya mulai mengering karena menangis sepanjang kegelapan malam. Namun dalam penyerahan dan penerimaannya pada keadaan, sang anak tidak lagi membenci hidupnya karena akhirnya pagi hari harus dijelang dan ia harus menghadapi siang dengan usaha, bekerja untuk kelangsungan hidupnya, tidak lagi marah kepada Tuhan karena menurutnya Tuhan terlalu besar untuk mengurusi tangisan keluhan hidupnya, dan akhirnya mulai memacu dirinya untuk lebih kuat dari waktu ke waktu. Kebingungannya mengendap seiring dengan pergumulannya dengan persoalan hidup yang sangat berat, dan pemahamannya akan makna penyerahan kepada Tuhan melampaui kebanyakan manusia yang lupa akan jati dirinya.</p>
<p>Manusia dengan jutaan atau bahkan milyaran ragam keunikan perjalanan hidupnya akan menghadapi berbagai persoalan yang khas masing-masing individu. Kepedulian kita satu dengan yang lainnya akan menyirami dan menerangi sedikit persoalan kita satu dengan lainnya. Konflik dan kebencian akan menambah dan mempergelap kebingungan yang kita hadapi. Kita sering merasa persoalan kita adalah yang paling besar, kita merasa paling perlu dikasihani, kita paling sedih dan paling hancur hatinya, padahal hal itu tidak perlu terjadi apabila kita paham pada level/taraf mana kita berpikir dalam menerima keadaan yang sedang kita jalani.</p>
<p>Dalam keadaan yang serba cukup-pun tidak akan luput dari masalah. Sebut saja misalnya sifat kita yang berlebihan dalam menikmati hidup yang kemudian membawa kesengsaraan, misalnya dalam soal makanan dan minuman, dalam pelampiasan nafsu seks, dalam arogansi kekuasaan, dalam kebutaan kilauan harta benda dunia, dll. Kita dari waktu-waktu senantiasa diintai oleh persoalan yang akan membuat kita bingung dalam perjalanan hidup kita.</p>
<br />Filed under: <a href='http://matahatikita.wordpress.com/category/individu/'>individu</a>, <a href='http://matahatikita.wordpress.com/category/masyarakat/'>masyarakat</a>, <a href='http://matahatikita.wordpress.com/category/negara-dan-bangsa/'>negara dan bangsa</a>  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/matahatikita.wordpress.com/74/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/matahatikita.wordpress.com/74/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/matahatikita.wordpress.com/74/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/matahatikita.wordpress.com/74/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/matahatikita.wordpress.com/74/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/matahatikita.wordpress.com/74/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/matahatikita.wordpress.com/74/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/matahatikita.wordpress.com/74/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/matahatikita.wordpress.com/74/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/matahatikita.wordpress.com/74/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/matahatikita.wordpress.com/74/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/matahatikita.wordpress.com/74/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/matahatikita.wordpress.com/74/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/matahatikita.wordpress.com/74/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=matahatikita.wordpress.com&amp;blog=2388952&amp;post=74&amp;subd=matahatikita&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" /><div class="sharedaddy sd-like-enabled"></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://matahatikita.wordpress.com/2010/07/27/bingung/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/2e85deaa631bf87c8fea7188f75ed80e?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">sadadi</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Usaha dan Hasil</title>
		<link>http://matahatikita.wordpress.com/2010/03/07/usaha-dan-hasil/</link>
		<comments>http://matahatikita.wordpress.com/2010/03/07/usaha-dan-hasil/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 07 Mar 2010 14:25:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sadadi</dc:creator>
				<category><![CDATA[individu]]></category>
		<category><![CDATA[masyarakat]]></category>
		<category><![CDATA[Usaha dan hasil]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://matahatikita.wordpress.com/?p=71</guid>
		<description><![CDATA[Semakin banyak tantangan dan permasalahan dalam hidup kita, seiring dengan proses belajar dan mengatasi masalah tersebut, juga akan mendorong perkembangan spiritualitas kita. Apa yang teramat berharga dalam proses jatuh bangun kita di dunia bukanlah hasilnya, melainkan usahanya. Ketika kita sedang jatuh dalam kegelapan, terasa sempit, sesak, sedih, stress berat, dan berbagai hal yang mendorong pada [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=matahatikita.wordpress.com&amp;blog=2388952&amp;post=71&amp;subd=matahatikita&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Semakin banyak tantangan dan permasalahan dalam hidup kita, seiring dengan proses belajar dan mengatasi masalah tersebut, juga akan mendorong perkembangan spiritualitas kita.</p>
<p>Apa yang teramat berharga dalam proses jatuh bangun kita di dunia bukanlah hasilnya, melainkan usahanya. Ketika kita sedang jatuh dalam kegelapan, terasa sempit, sesak, sedih, stress berat, dan berbagai hal yang mendorong pada keputusasaan. Kemudian kita secara perlahan berusaha bangkit dan mengatasi persoalan semi persoalan satu per satu, hingga akhirnya titik mulai tampak dan kita melangkah keluar dari persoalan. Tetapi ingat, dunia ini selalu diwarnai persoalanan yang tiada habisnya.</p>
<p>Keluar dari kegelapan persoalan dan bahwa setelah kesulitan akan ada kemudahan seyogyanya direspon sebagai rangkaian usaha, perbuatan, doa dan harapan. Sementara ketika kita melihat hasilnya setidaknya kita dapat tersenyum penuh rasa syukur kepada Yang Maha Kuasa.</p>
<br />Filed under: <a href='http://matahatikita.wordpress.com/category/individu/'>individu</a>, <a href='http://matahatikita.wordpress.com/category/masyarakat/'>masyarakat</a> Tagged: <a href='http://matahatikita.wordpress.com/tag/usaha-dan-hasil/'>Usaha dan hasil</a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/matahatikita.wordpress.com/71/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/matahatikita.wordpress.com/71/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/matahatikita.wordpress.com/71/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/matahatikita.wordpress.com/71/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/matahatikita.wordpress.com/71/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/matahatikita.wordpress.com/71/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/matahatikita.wordpress.com/71/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/matahatikita.wordpress.com/71/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/matahatikita.wordpress.com/71/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/matahatikita.wordpress.com/71/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/matahatikita.wordpress.com/71/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/matahatikita.wordpress.com/71/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/matahatikita.wordpress.com/71/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/matahatikita.wordpress.com/71/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=matahatikita.wordpress.com&amp;blog=2388952&amp;post=71&amp;subd=matahatikita&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" /><div class="sharedaddy sd-like-enabled"></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://matahatikita.wordpress.com/2010/03/07/usaha-dan-hasil/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/2e85deaa631bf87c8fea7188f75ed80e?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">sadadi</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
