Arsip untuk ‘individu’ Kategori

h1

Do’a

September 23, 2009

Pernahkah anda merasa bosan dalam berdo’a? mengulang-ulang sesuatu perbuatan yang bahkan anda tidak pernah mengerti karena terlalu banyak hal yang tidak dapat dijelaskan. Sementara kebanyakan manusia melihat doa sebagai kewajiban, sebagai suatu jalan keluar atau sebagai metode untuk melepaskan diri dari masalah dunia.

Do’a dalam teori agama-agama di dunia adalah suatu perbuatan atau tindakan yang bermakna permintaan, harapan atau permohonan yang ditujukan kepada Tuhan atau apapun anda menyebutnya Kekuatan Yang Maha Dahsyat yang menurut keyakinan anda akan mengabulkan apa-apa yang anda do’akan. Mengapa terjadi mekanisme do’a dalam keseharian kita, atau mengapa kita tidak merasakan manisnya atau manfaat dari do’a? Apakah kita berdo’a karena orang tua kita atau guru kita mengajarkan dan mewajibkannya dalam kehidupan kita, ataukah karena satu dan lain hal kita akhirnya dapat merasakan suatu kebutuhan akan do’a. Setidaknya secara psikologis do’a akan membawa ketenangan dalam kehidupan kita karena ada sesuatu (Tuhan) yang menjadi harapan ketika kita menghadapi perjalanan hidup yang sulit, yang sempit ataupun yang menyebabkan kita sangat menderita. Read the rest of this entry ?

h1

Selamat Lebaran

September 20, 2009

Selamat Hari Raya Iedul Fitri 1430H , Mohon Maaf Lahir dan Bathin.

h1

Keindahan, Cinta dan Kesedihan

September 8, 2009

Pancaran bahagia yang pertama diciptakan Yang Maha Pencipta adalah keindahan diriNya sendiri yang mana dalam ajaran hampir seluruh agama dan keyakinan kita dilarang untuk memikirkannya. Karena memikirkan zat Yang Maha Indah tidak akan sanggup, bahkan upaya merasakannya bersama angin malam yang berkelana juga tidak akan menembusnya, malahan akan menjerumuskan kita kepada keheningan dan lamunan akan keindahan yang tidak terbayangkan tersebut.

Itulah sebabnya cita-cita tertinggi dari para penempuh jalan spiritual adalah berhadap-hadapan dengan Wajah Sang Pencipta yang Maha Indah, adalah janji atas kebahagiaan tertinggi umat manusia.

Read the rest of this entry ?

h1

Menjalani

Juli 8, 2009

Kematian adalah suatu kepastian sehingga tidak diperlukan keberanian untuk menempuhnya, tetapi kehidupan adalah suatu ketidakpastian sehingga diperlukan keberanian untuk menjalaninya.

Mengapa kita lebih menghormati orang yang berani mati, padahal berani hidup jauh lebih berat?

Hal ini sederhana sekali, kita merasa lebih mengenal kehidupan daripada kematian. Karena kehidupan sedang kita jalanai maka kita cenderung meremehkannya sedangkan kematian yang pasti datang sama sekali tidak kita kenali dan penuh misteri.

h1

Bersalah

Oktober 22, 2008

Suatu keadaan “salah” atau “keliru” seringkali begitu menakutkan karena hal itu secara otomatis akan merasuk bukan hanya di benak kita, melainkan juga di hati kita. Sebuah kesalahan mampu melukai hati manusia baik yang melakukan kesalahan maupun dilanggar oleh kesalahan itu. Namun hukum itu berlaku pada hati yang masih dapat merasakan getar kesalahan. Pada titik tertentu dimana kesalahan itu sudah menjadi terbiasa, seringkali matahati kita terhalangi untuk melihat ataupun merasakan bahwa ada sesuatu yang salah.

Meskipun demikian, ada juga suatu keadaan dimana kita secara obyektif tidak berada dalam keadaan salah namun disalahkan atau dipaksa menerima kesalahan. Atau mungkin juga karena ketidakmengertian kita pada suatu hal menyebabkan kita melakukan ketidaksengajaan yang salah. Dalam situasi ini, getaraan rasa bersalah tetap ada namun seyogyanya dapat dihibur dengan pengertian yang secara cepat tercipta di dalam olah budi dan akal kita.

sekian

h1

Selamat Lebaran

Oktober 5, 2008

Selamat Hari Raya Idul Fitri 1 Syawal 1429H

Mohon Maaf Lahir dan Bathin, Minal Aidin Wal Faizin

h1

Lingkaran

Oktober 5, 2008

Pernahkah kita memperhatikan bahwa langkah perjalanan kita berputar-putar dalam dalam lingkaran yang ajeg sementara waktu semakin habis menjelang akhir hayat kita. Keajegan tersebut bukan dalam dimensi ruang dan waktu melainkan dalam ruang pikir yang terjebak pada harapan pendek mencapai suatu keadaan yang lebih baik atau lebih nyaman.

Pada jebakan harapan pendek duniawi tersebut kita merelakan hakikat kehidupan terserap dalam gairah semangat yang dibayangi kesombongan saat berhasil dan keputusasaan saat gagal. Kekeliruan yang sama akan senantiasa kita jalani dalam kewajaran karena langkah kita yang berputar-putar tersebut.

Andaikata kita bisa keluar dari lingkaran tersebut, maka langkah linear mendatar, bergelombang ataupn terus menanjak akan lebih dinamis dan kita dapat menghindari kekeliruan yang sama. Sayangnya potensi bayangan pengalaman yang mengajak untuk mengulangi kekeliruan begitu kuat menjerat respon-respon spontan maupun tersembunyi yang ada dalam diri kita.

h1

Keseimbangan Optimisme

September 2, 2008

Betapapun baiknya suatu pemikrian atau kegiatan di dunia akan cenderung memburuk pada saat hal itu melampaui batas. Misalnya makan dan minum adalah suatu hal wajar dan positif bagi kesehatan tubuh kita, namun ketika makan dan minum terlalu banyak…apa yang terjadi? buruk bukan?

Kali ini saya akan sedikit mengupas tentang optimisme, suatu sifat karakter yang dapat dikatakan positif bagi perjalanan hidup kita. Optimisme tidak muncul tiba-tiba, melainkan dibangun secara bertahap hingga mencapai puncaknya. Beberapa golongan manusia memiliki optimisme yang sangat tinggi, dan biasanya hal itu dikarenakan mereka telah mencapai bagian yang tinggi atau tertinggi dari suatu pencapaian hidup baik secara materi maupun immateri.

Secara material kita bisa mencapai posisi puncak pada organisasi yang dibentuk oleh manusia seperti negara, perusahaan, organisasi masyarakat, dll. Para pemimpin pada umumnya memiliki optimisme yang tinggi dan hal ini sebenarnya secara natural menjadi syarat karena para anggota organisasi dan masyarakat membutuhkan pemimpin yang optimis.  Sifat dan karakter optimis dari seorang pemimpin akan menular kepada segenap masyarakat yang dipimpinnya.

Meskipun demikian, upaya-upaya para pemimpin menampilkan optimisme seringkali terjebak dalam keadaan yang berlebihan, misalnya dengan menetapkan target yang melampaui batas kemampuannya. Pada saat demikian, optimisme pemimpin justru melahirkan pesimisme pada sebagian anggotanya yang sensitif dan kritis.

Bagaimanapun juga, optmisme harus berada dalam keseimbangan antara harapan pencapaian tujuan dan kenyataan kemampuan yang dimiliki, tidak memaksakan sesuatu yang jelas-jelas di luar kemampuan. hal ini bukan membatasi mimpi atau semangat optimisme, melainkan membumikan kenyataan hidup dalam gerak semangat optimis.

Akhir kata, janganlah terjebak dalam optimisme berlebihan, tetapi jangan pula tenggelam dalam pesimisme. Ketelitian dalam mencermati perjalanan hidup kita akan membimbing matahati kita dalam mewujudkan optimisme secara seimbang.

h1

Puasa

September 1, 2008

Ketika kita berpuasa, tentu ada sejumlah motivasi yang mengalir di hati dan kepala kita. Ada yang sungguh-sungguh demi menjalankan perintah agama dalam kepatuhannya. Ada yang merasa terpaksa karena menjadi kewajiban agama maupun karena demi kesehatan. Ada yang berpikir merenung dan mencoba menjelaskan betapa besarnya manfaat puasa bagi jiwa dan raga manusia. Ada yang berkontemplasi dengan hatinya dan masuk dalam keheningan ketiadaan nafsu tubuh manusiawi. Ada juga yang bingung dan merasa puasa hanyalah bagian dari rutinitas tertentu.

Betapapun dan apapun latar belakang agama, kepercayaan dan budaya kita…ketika berhadapan dengan puasa, hal itu menjadi sangat pribadi dan sulit untuk dibahas kepada publik. Pengalaman berpuasa hanya dirasakan oleh tubuh dan jiwa yang sedang berpuasa. Tubuh mungkin bisa merasakan betapa beratnya menanggung lapar dan dahaga. Jiwa mungkin bisa bertahan dalam gejolak nafsu manusiawi dan menahannya. Namun apakah puasa hanya berhenti pada tingkatan yang demikian?

Apakah dengan berpuasa otomatis hati kita akan menjadi lembut dan penuh rasa penyantun? Ataukah berpuasa itu hanya menunda atau menahan diri semata, sementara gejolak nafsu siap meledak setelah puasa selesai. Kesadaran untuk mencapai keadaan stabil dalam puasa bisa saja diartikan dengan menahan diri. Namun akan lebih penting lagi bila kesadaran itu tidak sekedar pasif menahan gejolak badaniah dan jiwa, melainkan lebih pada memperhatikan bagaimana respon-respon jiwa dan raga terhadap segala situasi dalam keadaan berpuasa.

Hanya dalam keadaan berpuasa kita akan mampu lebih teliti dalam melihat diri kita sendiri. Tentu saja puasa yang semacam itu sering digambarkan sebagai puasa khusus diatas khusus. Padahal hal itu seharusnya tidak dipersulit demikian, karena level atau tingkat kekhususnya membuat manusia cenderung menyerah sebelum mencobanya, hal ini bagaikan menanjak tangga ke langit ketujuh yang digambarkan dalam legenda sebagai suatu upaya melepaskan kemanusiaan dan mencapai dunia keDewaan/keTuhanan.

Puasa adalah puasa dalam definisi sederhana menahan tidak makan, tidak minum, tidak berhubungan seks, tidak memikirkan hal-hal yang sia-sia, tidak memanjangkan angan-angan, tidak melakukan perbuatan yang dapat membatalkan puasa (hal ini bervariasi dalam beragam aliran agama dan kepercayaan).

Kesederhanaan puasa seyogyanya tetap dipertahankan dalam definisi yang sederhana itu sehingga masyarakat luas dapat mencapai pencerahan masing-masing melalui pengalamannya berpuasa.

Puasa adalah pengalaman pribadi yang akan berdampak pribadi pula. Apabila tidak ada dampaknya sama sekali, maka sangat mungkin kita belum benar-benar melakukan puasa.

Selamat Berpuasa kepada umat Muslim di seluruh dunia

h1

Aduh !

Mei 7, 2008

Aduh ! desah keluhan membuang beban
Aduh ! sekedar pelepas rasa tidak enak
Aduh ! kekesalan di hati menyeruak
Aduh ! sepertinya enak diucapkan

Aduh ! kepusingan menjadi gejala umum manusia di alam reformasi karena perubahan bergerak ke wilayah berkabut. Meski kabut tersebut sebernarnya tidak terlalu pekat, tetapi karena bahan kabut tersebut merupakan campuran emosi rendah keduniaan dan ramuan bisikan setan, maka mata kita menjadi pedih. Air mata menetes, penglihatan semakin kabur dan hatipun tertegun.

Aduh ! seorang ibu menjadi sedih karena anaknya masuk dalam aliran sesat, ibu yang lain kaget karena anaknya menjadi teroris, ibu yang lain menangis pedih karena anaknya mati kelaparan.

Aduh ! hiruk-pikuk politik ekonomi begitu bisingnya sampai-sampai langkah perubahan tercekam keraguan. Terlalu banyak suara tanpa karya sampai-sampai tujuan bersama tenggelam dalam genggaman kepentingan pribadi dan kelompok.

Aduh ! gejolak energi dunia semakin menghimpit sesaknya nafas kita.
Aduh ! korupsi masih merajalela di tengah-tengah kita.
Aduh ! alam masih mengintai bencana demi bencana.

Aduh ! menjadi keluhan spontan manakala kesakitan, kepedihan, kekecewaan, kesedihan, dan beragam persoalan yang menyempitkan hati kita terjadi. Masih wajar ketika keluhan aduh tersebut berhenti dalam ruang waktu sesaat untuk bangkit kembali. Masih bisa diterima manakala keluhan aduh tersebut tidak melukai hati secara permanen dan meninggalkan kebusukan yang tidak terobati.

Kepada siapa hati kita mengeluh dan mangaduh ? kembali kepada masing-masing hati kita dalam meyakini adanya kekuatan Yang Maha Besar untuk menyampaikan segala himpitan hati kita, sehingga hati terjaga dalam keyakinan yang mewujud dalam bentuk ekspresi do’a yang tulus ikhlas.

Dunia berputar dalam pengaruh baik – jahat, bahagia -sedih, awal – akhir, sehingga tidak perlu hidup kita dikuasai oleh kekhawatiran yang berlebihan dan matahati kita tidak perlu terpaku pada kemandegan dan hidup di masa lalu dalam kuburan masalah duniawi. Melaksanakan perbaikan dari waktu ke waktu serta kembali ingat pada asal dan tujuan hidup kita. Innalillahi wa innailaihi roji’un.