Menggunakan matahati tidaklah identik suatu kondisi ideal imajiner yang mempersyaratkan penglihatan yang jernih. Apabila cerminan penglihatan matahati mengacu pada manusia-manusia “pilihan” baik dari level tertinggi utusan Tuhan, sampai pada guru-guru pencerahan di berbagai pelosok negeri, tentu kita akan dihadapkan pada inferioritas psikologis yang penuh apologia. Ah…aku kan manusia biasa yang lemah! Apakah dengan demikian menggunakan matahati menjadi hal yang teramat sulit dan bahkan mustahil? Read the rest of this entry ?
